The Lost Forest Girl
Dahulu Kala, Di sebuah desa terpencil nan jauh disana terdapat hutan yang memiliki sebuah kisah Legendaris. Sebuah Kisah mengenai gadis hutan yang kesepian. Penduduk di desa tersebut pernah melihat gadis tersebut. Rambutnya sangat panjang dan lebat, memakai dress yang sangat cantik, dan memiliki wajah sayu yang terlihat begitu kosong.
Tatapannya seolah – olah
“Tolong temukan
aku...”
Namun, setiap kali seseorang
mencari gadis tersebut, tidak ada satu pun orang yang dapat menemukannya
bagaikan mereka hidup di dua dimensi yang berbeda. Tidak dapat dipertemukan
satu sama lain.
“Apakah hanya
sekedar bayangan seseorang?....... Atau mungkin penjaga hutan
tersebut?......... Atau hanya sekedar gadis manusia yang memang sedang mencari
pertolongan?......... Apakah suatu saat nanti akan ada seseorang yang benar –
benar dapat menemuinya?......”
Hingga saat ini tidak ada yang
tahu kebenarannya. Entah apa takdir dan kisah yang akan menanti gadis tersebut.
Pagi yang begitu cerah di sebuah
kota dengan nuansa perdagangan dan aktivitas di dalamnya, hiduplah seorang pria
berparas tinggi dan berambut hitam. Pria tersebut terkenal sebagai seseorang
yang sibuk dengan kerjaannya. Ya, Pria itu adalah aku. Nama ku, Taka, Taka
radjiman. Seorang kepala dari suatu guild. Hidup ku hanya di penuhi kerja,
kerja, dan kerja. Tidak ada yang menarik. Aku yang terduduk di ruangan tersebut
sangatlah bosan. Yang ku lakukan sehari – hari hanya mengecek dokumen satu
kota.
Aku pun menghembuskan napas,
meluruskan punggung, dan menjernihkan pikiran ku. Aku pun memutuskan untuk
menutup mata ku untuk tertidur sebentar.
Pikiran lelah tersebut terbawa
sampai ke mimpi. Tetapi, penat tersebut menghilang ketika seorang gadis yang
bercahaya menghampiri ku. Aku tak dapat melihat tampang nya di karenakan betapa
silaunya sinar yang di pancarkan oleh gadis tersebut.
Aku pun terbangun. Mimpi tersebut
sangat indah membuat diriku bertanya – tanya.
“Siapa gadis
tersebut?”
Aku yang baru bangun melihat
sepucuk surat yang ada di meja ku. Aku yang penasaran membuka surat tersebut.
Isi surat tersebut berupa pesan untuk mengirim sebuah paket kecil yang ada di
dalam surat ke kota yang jauh berada di timur. Aku langsung merasa semangat
mendengar hal tersebut. Karena daripada mengerjakan dokumen yang tidak jelas
disini lebih baik aku pergi berpetualang ke negeri jauh.
“Emmet, Waktunya kita pergi...”
Ujar ku memanggil Emmet yang merupakan panda merah pendamping petualangan ku.
Aku langsung menaiki kuda milikku
dan lekas berangkat. Perjalanan menuju kesana memerlukan waktu yang lama.
Siklus makan dan minum, berburu dan mengumpulkan terjadi kepada ku selama 1
minggu. Pada akhirnya, sampailah diriku ke kota yang bernama Shizen.
Aku langsung dengan pergi ke
alamat yang tercantum di surat tersebut. Kota tersebut sangatlah hijau. Banyak
pohon dan bunga berkeliaran di sekitar. Aku bahkan melihat banyak rumah pohon
yang digunakan oleh warga disini.
Sampailah aku ke suatu distrik
pasar. Ramai pedagang menjual pernak pernik barang mereka masing – masing. Aku
terus berjalan hingga sampai ke tempat yang kelihatan telah menua.
Aku pun memasuki toko tersebut.
Isi toko tersebut merupakan buku – buku yang begitu tua.
“Permisi.....” Ujar ku berusaha
menyapa pemilik toko tersebut.
Tiba – tiba keluar lah seorang
pria tua berambut putih menyapa ku,
“Dengan siapa ya?” Ujar dia
dengan intonasi yang begitu lembut.
“Saya.... Taka Radjiman disini
ingin mengirimkan sebuah paket untuk...... Pak Syf?” Tanya Ku sembari memberi
sedikit pengenalan.
“Betul.... Ah paket ya, terima
kasih ya...” Ujar Pak Syf tersenyum kepada ku.
Aku pun memberikan paket tersebut
kepada Pak Syf. Tanpa basa – basi, ia langsung membuka paket tersebut di depan
ku. Dengan perlahan tapi pasti, mulai terlihat isi paket kecil tersebut. Itu
merupakan liontin foto berwarna perak.
“Aah...... Sudah lama sekali aku
tak melihat liontin ini..” Ujar Pak Syf yang terlihat bernostalgia.
“Kalau boleh tau, siapa yang ada
di foto liontin tersebut?” Tanya ku yang penasaran.
Pak Syf tersebut tertawa kecil.
Beliau langsung bercerita tentang kisah kecil, yaitu kisah ketika dia bertemu
dengan seorang gadis yang mempertemukannya dengan kebahagiaan. Gadis tersebut
dikenal di kota ini sebagai seorang gadis penjaga kedamaian. Gadis dengan
sebuah dress yang anggun nan imut, lalu dengan rambut panjang dan lebat. Pak
Syf sama sekali tidak ingat rupanya, yang ia ingat hanyalah memori hangat
ketika dia masih kecil sekali.
Aku terus mendengarkan kisah yang
diberikan Pak Syf sampai tidak sadar waktu. Kisah yang indah tetapi memahitkan
juga. Pak Syf menghadap ke arah ku, lalu dia berkata,
“Mungkin aku akan memberikan
liontin ini kepada mu....”
Aku yang terkejut sontak berusaha
menolak pemberian Pak Syf. Tetapi, Pak Syf tetap memaksa. Aku pun menerima
liontin foto tersebut. di dalam liontin tersebut terdapat sebuah foto silhoutte
gadis dengan dress anggun persis sesuai dengan yang dideskripsikan oleh Pak
Syf.
“Pergilah ke Hutan di bagian
barat dari kota ini. kau hanya perlu berjalan kesana....siapa tahu kamu dapat
menemukan sesuatu yang menarik disana” Ujar Pak Syf yang menyuruh ku untuk pergi
ke sana.
Aku pun langsung berjalan bersama
Emmet ke hutan tersebut di karenakan faktor penasaran. Hutan tersebut dipenuhi
oleh berbagai macam hal. Aku dapat melihat banyak sekali jenis tumbuhan yang
sama sekali tidak pernah ku lihat.
Aku meneliti setiap tumbuhan yang
baru ku lihat itu. Tanaman yang begitu indah, setelah mencium baunya aku bisa
langsung tahu bahwa ini merupakan tumbuhan obat. Selain beberapa tumbuhan obat,
aku bisa melihat banyak sekali berry yang sama sekali tidak ku kenali. Jiwa
petualang ku seketika membara.
Aku pun duduk di bawah sinar
matahari yang menyinari padang rumput didekat hutan tersebut. Dia memegang
tumbuhan tersebut dan menelitinya. Lalu menulis hasilnya di catatan yang ia
selalu bawa. Emmet yang tertarik dengan bau bunga yang ku bawa pun memakannya.
Ia pun bertingkah lucu seperti senang dengan rasa bunga tersebut.
“Emmet... jangan dimakan lagi
siapa tahu ini beracun..” Ujar ku menegur emmet.
Tetapi sepertinya tidak ada
masalah, karena Emmet terlihat begitu lincah. Emmet terlihat berhenti sejenak
dan berlari dengan cepat ke suatu tempat. Aku yang terkejut sontak langsung
mengejarnya.
“Emmet, kamu mau kemana...” Ujar
Ku yang mengejar Emmet berlari lebih dalam ke hutan.
Setelah berapa jam mengejar Emmet
akhirnya Emmet pun berhenti. Aku yang terengah – engah terkejut dengan
pemandangan di depan. Itu seperti sebuah cermin raksasa.
“Wow.... apa ini...” Ujar ku yang
begitu terkejut.
Di cermin tersebut tidak ada sama
sekali bayangan pantul dari diriku. Itu seperti aku tidak tampak di cermin
tersebut. Aku pun yang penasaran menyentuh cermin tersebut.
Tiba – tiba, sesuatu bersinar
dari tas ku. Itu liontin yang diberikan Pak Syf tadi. Aku pun mengambil liontin
tersebut, liontin tersebut bercahaya, dan perlahan – lahan menghilang dari
genggaman ku. Aku pun bingung, tetapi melihat ke arah cermin kembali. Aku
melihat sebuah penampakan. Aku tanpa berpikir mendekati nya seolah aku terisap
ke dunia cermin tersebut.
Tangan ku dengan cepat memegang
tangannya. Tangan yang begitu mungil, penglihatan ku pun kembali jelas.
Terlihat seorang gadis berambut coklat, dengan dress anggun persis yang
dikatakan oleh Pak Syf, lalu kalung yang terlihat seperti penguin dan clover,
dan hairpin yang terbuat dari pernik perak dan mutiara. Matanya berwarna hijau
terang, tersenyum ke arah ku. Wajah nya menandakan perasaan lega. Aku yang
begitu terpana tidak sadar telah memegang tangannya.
“Ah.... Maafkan saya, saya telah
berperilaku tidak sop-” Sebelum aku dapat menyelesaikan omongan ku. Aku
terkejut karena lingkungan sekitar telah kembali normal, bahkan cermin raksasa
sebelumnya ada tiba – tiba menghilang.
Aku pun menghadap kembali ke arah
gadis tersebut. Dia masih terlihat tersenyum begitu lega melihat ke arah ku.
“A-a hmmmm.... Halo, Nama saya
Taka Radjiman. Senang bertemu dengan mu?” Ujar ku memperkenalkan diri kepada
gadis tersebut.
Gadis tersebut langsung mengangkat
ujung dressnya dan menunduk memberi salam seperti ala putri anggun.
“Nama ku Cia, Amicia Michella....”
Suara nya begitu lembut, seperti mendengar sebuah lullaby di malam hari.
Suasananya begitu canggung
bagiku. Karena barusan aku telah memegang tangannya tanpa seizinnya.
“Saya.... Minta maaf atas
perbuatan saya tadi..” Ujar ku meminta maaf dengan canggung.
“Ah... tidak perlu meminta maaf”
Ujar Cia yang lagi lagi tersenyum kepada ku.
“S-siapa kamu? Tidak.... apa
kamu?” Ujar ku bertanya.
“Aku hanya seorang gadis yang
tersesat....” Ujar Cia dengan wajah sayu yang kosong. Perasaan lega dan senyum
tadi sesaat hilang di wajahnya.
Aku yang merasa tidak enak
langsung mengganti topik pembicaraan.
“Ah perkenalkan ini Emmet
Familiar ku.. sejenis panda merah” Ujar ku mengenalkan Emmet ke Cia.
Cia menatap dalam ke arah Emmet.
Emmet terlihat malu dan bersembunyi di balik kaki ku. Cia pun mendekati Emmet
yang bersembunyi di balik kaki tersebut. Ia mengeluarkan sepucuk bunga dan memancing
Emmet untuk keluar. Emmet yang tertarik dengan bunga tersebut langsung
melahapnya.
“Ah... Lucu” Ujar pendek Cia
melihat tingkah Emmet.
Aku yang berada di situ hanya
bisa menikmati kehangatan dari mereka berdua. Matahari pun terlihat akan terbenam.
Aku pun memutuskan untuk menyiapkan sebuah tenda yang sederhana. Cia melihat ku
penasaran. Dengan beberapa kayu yang ada di hutan tersebut lalu dengan bantuan
sihir, aku dapat membuat tenda sederhana dan api unggun.
“Emmet, Kamu cari makanan ya..”
Ujar Ku memerintah Emmet. Cia pun mengikuti Emmet untuk mencari makanan juga.
Aku pun duduk di dekat api unggun
tersebut. langit – langit pun menggelap, dan malam pun tiba. Emmet dan Cia
telah kembali dari petualangan nya.
Cia memberiku beberapa buah dan
aku pun memakannya. Kami berdua bersantai di malam dekat api unggun. Emmet
terlihat telah tertidur dengan nyenyak. Suasananya begitu canggung, aku tidak
tahu harus berkata apa.
“J-jadi....... Apa yang ingin
kamu lakukan?” Tanya ku memecah kesunyian tersebut.
“Aku..... tidak tahu, bagi ku bersama
Pak Taka aja sudah cukup bagiku” Ujar Cia tanpa sedikit pun malu.
Aku yang mendengar itu entah
harus senang atau malu. Suasananya kembali menjadi canggung.
“Kamu tidak perlu berkata
seperti, itu memalukan bagi ku.. Lalu ada apa dengan honorifik ‘Pak’ itu..”
Ujar Ku sembari tertawa kecil.
“Memalukan? Tapi benar kok....
Lalu tidak enak kalo memanggil Pak Taka tanpa Pak..” Ujar Cia memiringkan
kepalanya dengan lugu.
Aku tidak bisa membalas
perkataannya. Yang ku pikirkan hanya satu kata yaitu, “Imut” Pikirku.
“Hmmm... Karena sedang api unggun
juga, mau nyanyi?” Ujar Ku bertanya kepadanya.
Cia terlihat bingung dan
mengangguk atas permintaan ku tadi. Aku pun mengeluarkan sebuah gitar kecil
dari buku “Grimoire” punya ku.
“Wah.. Sihir..” Ujar Cia yang tertarik
dengan Grimoire milikku.
Aku tertawa kecil dan mulai
memainkan gitar tersebut.
“Silahkan bernyanyi..” Ujar Ku
memberi isyarat untuk mulai.
Cia pun berhenti sejenak dan
mulai bernyanyi. Aku bisa tahu bahwa itu Lagu dengan ancient language dengan artinya,
“Bagaimana pun
aku tertawa ketika berada di samping mu, aku merasa semuanya dapat dimaafkan.
Aku sebenarnya tidak ingin bertemu dengan mu, Aku ingin Lebih bersama mu.....”
“Bagaimana pun
aku lebih dari yang kau pikirkan, Itu memudar sepanjang waktu, Aku melakukan
sesuatu seperti berada di mimpi yang segera terbangun, itu seperti menghirup di
dalam matahari yang menyilaukan, Aku tidak ingin membaca cerita yang tak ada
habisnya, Aku ingin lebih mendengarkan suara mu.....”
“Setiap Saat aku
selalu memikirkan mu, Bagaimana pun aku selalu tertawa di sisimu, Semuanya
Berwarna dan bunga bermekaran, Aku sangat senang bertemu denganmu, Aku ingin
tertawa di sisi mu selamanya, Aku ingin berjalan dengan mu di musim yang tak
berujung.....”
Suaranya sangat lembut dan indah.
Nyanyiannya seperti seseorang yang sedih akan sesuatu. Aku pun terbawa akan
kelembutan milik Cia.
“Indah sekali....Tetapi, Liriknya
begitu sedih” Ujar ku memuji Cia.
“Sedih ya.....” Ujar Cia
tersenyum sedih di depan ku.
Aku pun juga mulai bernyanyi,
“Setiap kali ku
teringat hari-hari yang telah berlalu, Kaulah satu-satunya yang menggenggam
tanganku, walau. Kau tau pernah tahu, karena aku begitu pengecut. Bukan begitu?
Kau yang pendiam itu, Terkadang berbicara dengan sepenuh hati demi diriku, Meskipun
hanya itu yang bisa kau lakukan Itu sudah cukup untuk membuatku tersenyum, peluk aku untuk yang terakhir kali Maafkan
aku, maafkan aku, yang sangat lemah ini Meski begitu, aku tetap masih
mencintaimu, Pipiku merona semerah apel ketika kau melihatku Dulu aku selalu
menjadi korban kejahilanmu Setiap kali kukenang semua itu, entah mengapa….Air
mataku tak bisa berhenti?”
Itu adalah lagu lama juga, lagu
yang menceritakan tentang kegalauan seorang lelaki ketika akhir nya dia
mengetahui rasa cinta nya kepada seorang gadis yang telah lama menghilang.
“Pak Taka juga menyanyikan lagu
galau... dan suara Pak Taka begitu harmonis...” Ujar Cia memuji diriku.
“Begitulah.... Udah malem ini,
gak tidur kamu?” Tanya ku kepada Cia.
Cia terlihat seperti sudah
mengantuk, aku pun menyuruh nya untuk tidur di dalam tenda.
“Pak Taka gak tidur juga?...”
Ujar Cia yang terlihat begitu mengantuk.
“Saya tidak dulu.....” Ujar Pelan
ku.
Aku pun menyanyikan lagu lullaby
pengantar tidur di dekat api unggun. Senandung ku diiringi oleh nyanyian
serangga di sekitar. Hangatnya api unggun membuat ku tidak terlalu mengantuk.
Aku melihat ke arah Tenda. Terlihat Cia sudah tertidur lelap dengan Emmet yang
tertidur di sebelahnya.
“Imutnya....
Baiklah waktunya berjaga”
Aku berdiri dan melihat ke
sekitar dan memutuskan untuk duduk di dekat batang pohon. Aku terduduk dan
termenung akan banyak nya pertanyaan yang ada di kepalaku.
“Siapa itu
Cia.....Tidak, Apa itu Cia.....”
Aku memikirkan wajah Cia yang
terlihat begitu sedih setiap ia membicarakan kisah nya. Lalu, nyanyiannya
terdengar seperti ingin menangis tetapi secara bersamaan juga berbahagia.
Aku mendongak menghadap ke arah
langit, bintang – bintang bersinaran dengan pernak pernik nya masing – masing.
“Apa yang akan
ku lakukan esok hari....” Pikirku yang terbingung. Tanpa sadar
mata ku pun tertutup dan aku pun tertidur.
* * *
Keesokan harinya, matahari telah
terbit. Burung bernyanyi dan suasana cerah mulai terlihat. Aku pun membuka mata
ku perlahan, pandangan ku masih kabur tetapi aku dapat melihat Cia yang
terlihat sedang jongkok menatap ke arah ku.
“E-eh?..... Aku tertidur” Ujar Ku
yang berusaha untuk bangun.
Aku menatap ke arah Cia, dia
benar – benar terlihat serius memperhatikan ku.
“Pagi, Pak Taka......” Ujar Cia
menyapa ku.
“Sudah berapa lama kamu menatap
ku, tertidur?” Tanya Ku yang merasa prihatin.
“Dari pertama kali aku
terbangun...” Jawab pendek Cia.
Aku tertawa kecil melihat tingkah
laku lucunya. Aku pun mengajak mereka untuk menyantap sarapan. Berry yang
sederhana tetapi cukup sedap untuk dimakan.
“Cia....Aku ingin pergi berjalan
– jalan ke kota Shizen di dekat sini... Apa kamu mau ikut?” Tanya Ku dengan
lembut berusaha tidak memaksanya.
Cia terlihat tertarik, matanya
seperti berkilauan dengan antusias yang begitu tinggi. Aku merasa lucu dengan
tingkah lakunya yang begitu antusias tersebut.
“Baiklah kalau begitu, ayo kita
pergi...” Ujar Ku berdiri dan pergi kembali Ke Kota Shizen.
Tidak perlu waktu yang terlalu
lama, sampailah kami di Kota Shizen. Memasuki gerbang utama kota tersebut, Cia
terlihat begitu terpana dengan pemandangan dan suasana kota tersebut.
“Aah Cia... ada bazar disana Mari
kita kesitu dulu..” Ujar Ku mengajaknya untuk menjelajah Bazar tersebut.
Kami bertiga menjelajahi bazar
tersebut, banyak sekali hal yang dijual di situ. Cia terlihat sangat antusias.
“Pak.... Itu, apa itu yang kapas
berwarna itu?” Ujar Cia yang menunjuk ke arah penjual gulali.
“Aah itu gulali, kamu mau?” Tanya
ku menawarkannya.
Cia pun mengangguk menandakan
bahwa dia sangat ingin menyobanya. Aku pun membelikannya sebuah gulali. Cia pun
memegang gulali tersebut, dia menatap ke arah gulali nya dan mulai
mencicipinya. Seketika mata nya langsung bersinar menandakan bahwa ia begitu
menyukainya.
Cia pun menghadap ke arah ku. Cia
menodorkan gulali nya ke arah ku,
“Pak, aaaaaaaa” Ujar Cia yang
menawarkan suapan gulali tersebut. Sebenarnya aku merasa malu tetapi tetap ku
terima saja.
Cia pun menyantap dan
menghabiskan gulali tersebut dengan lahap. Kami pun melanjutkan jalan – jalan
di bazar tersebut.
“Pak Taka – Pak Taka... itu apa?”
Tanya Cia yang menunjuk ke Arah stand Minigames. Itu merupakan stand panah,
kenai target maka kamu akan mendapatkan hadiahnya.
“Kamu mau mencoba?” Tanya ku
kepada Cia yang terlihat tertarik ingin menyobanya.
Cia pun mengambil panah yang
disediakan dan mulai memidik ke arah target. 1 tembakan terlepas begitu
seterusnya. Tetapi, sama sekali tidak ada tembakan yang mengenai target. Cia
pun terlihat sedikit murung, aku pun mengambil panah yang di pegang cia.
Tembakan pun ku lepaskan, semua anak panah yang tertembak pun mengenai target
tanpa sedikit pun meleset.
“Wah....” Ujar Cia mengagumi
peristiwa yang terjadi tersebut.
Penjaga stand tersebut langsung
memberikan sebuah hadiah yaitu sebuah buku sepasang berwarna biru dan hijau.
Penjaga tersebut membisikkan sesuatu kepada ku,
“Semoga langgeng
ya kalian...”
Aku pun hanya tersenyum malu
karena sebenarnya kami tidak memiliki hubungan spesial atau apa pun.
Aku pun memberikan buku berwarna
hijau kepada Cia dikarenakan warna matanya yang berwarna hijau. Cia pun
terlihat penasaran, ia pun mulai menulis di dalam buku tersebut.
“Apa yang kamu tulis?” Tanya ku
yang penasaran.
“Pak Taka jangan liat, Pak Taka
harus nulis dulu yang bapak baru nanti kita tukeran buku” Ujar Cia yang sedang
sibuk menulis.
Aku pun ikut menulis di dalam
buku biru tersebut. Mengenai banyak hal, tentang betapa menyenangkan hari ku
dan lain – lain.
Setelah sama – sama asik menulis,
kami pun saling bertukaran buku.
“Nanti bacanya...” Ujar Cia
menegur ku yang ingin membukanya.
Aku menyimpan buku tersebut di
dalam grimoire Inventory ku. Kami pun telah sampai di akhir bazar. Aku
melihat sekitar dan terdapat sebuah delman yang berjalan ke sana ke mari. Kami
pun menaiki delman tersebut.
“Cia... apa ada yang ingin kamu
lakukan lagi?” Tanya ku kepada Cia.
Cia terlihat terdiam sejenak,
berpikir.
“Cia pengen nyoba atraksi yang
horror atau seram gitu...” Ujar Cia dengan muka yang memelas.
Reaksi spontan ku adalah, “Eh”
dan tanpa ku sadari aku pun menerima permintaan tersebut.
Kami sekarang berada di depan
atraksi Rumah Hantu. Kami pun memasuki Rumah Hantu tersebut bersama – sama. Aku
terlihat begitu ketakutan karena aku sama sekali tidak tahan dengan yang
namanya Hantu. Lalu terlihat Cia yang berjalan seperti dia berada di taman
kanak – kanak.
Aku benar – benar tidak kuat soal
hal yang bebau horror. Tapi setidaknya Cia terlihat begitu menikmatinya,
pikirku.
Matahari cerah pun terlihat telah
terbenam, malam gelap pun telah menyelimuti dunia. Di tempat yang sama di mana
Aku dan Cia berada, terlihat festival yang sedang berlangsung. Festival yang
terjadi sekitar dua kali dalam setahunnya. Festival tersebut bernama Kankei
Takibi. Kami berdua di temani Emmet berjalan di pasar malam yang sedang
berlangsung. Banyak sekali makanan yang di jual pada Pasar Malam tersebut.
Mereka terlihat begitu bersenang
– senang menyantap macam – macam makanan yang terjual di situ. Pada akhirnya,
sampailah mereka di Pertunjukan utama dari acara Kankei Takibi tersebut. Yaitu,
pesta dansa dengan pasangan masing – masing mengitari api unggun di tengah
mereka. Terlihat semua orang menari berpasang – pasangan. Dari pasangan tua
maupun muda, bahkan anak kecil juga.
Melihat pertunjukan tersebut, Aku
sedikit tersenyum. Cia yang berada di sebelah ku menatap ke arah ku.
“Apa yang Pak Taka senyumkan?...”
Tanya Cia yang penasaran tentang senyumanku tersebut.
“Tidak....hanya saja melihat
mereka yang masing – masing telah menemukan kedamaian dan kebahagiaan mereka
tersendiri membuat ku.......sedikit iri, aku juga pada suatu saat ingin
menemukan kebahagiaan ku. Bukan hidup yang hanya di penuhi oleh Kerja, kerja,
dan kerja. Mungkin sedikit warna dapat membuat ku senang” Ujar Ku dengan nada
yang sedikit sedih.
Cia terdiam, dia pun tersenyum
dan berdiri di hadapan ku.
“Pak Taka..... Maukah Pak Taka
berdansa dengan Cia?” Ujar Cia sembari menyodorkan tangannya ke arah ku.
Aku terkejut sekaligus merasa
malu. Maksud ku bukannya aku yang harusnya yang menawarkan tangan untuk menari.
Tetapi dengan senang hati Aku menerimanya.
Aku pun berusaha meraih tangan
Cia untuk menerima ajakan berdansa.
Tetapi, tepat sebelum memegang
tangannya, tiba – tiba terjadi sesuatu yang tidak terduga. Alarm bahaya kota
Shizen menyala besar. Aku langsung teralihkan, dengan cepat aku memakai sihir
yang membuat ku melayang di udara untuk melihat kondisi yang terjadi.
Aku bisa melihat sangat jelas,
terlihat monster semacam harimau yang berwarna hitam legam di seluruh tubuh
sampai matanya pun tidak terlihat.
“Apaan ini....”
Bahkan terlihat monster seperti
ogre dan goblin tetapi dengan warna hitam legam aneh yang menutupi tubuh
mereka. Monster tersebut menyerang habis – habisan kota Shizen.
Aku menggunakan beberapa sihir
pelindung di beberapa jalur masuk ke bagian utama kota. Aku dapat melihat jelas
banyak pasukan Kota Shizen dilahap dan dibunuh secara sadis. Walaupun sudah
sekuat apapun aku meminimalisirkan serangan mereka, tetap saja jumlah maupun
kekuatan mereka terlalu kuat.
Orang – orang sudah mulai panik,
berlari ke sana ke mari. Aku dapat merasakan banyak darah yang telah tumpah di
kota.
Aku pun kembali turun ke tempat
Cia. Muka Cia sangatlah pucat, dia seperti telah mengetahui bahwa ini akan
terjadi dan penyebab terjadi kejadian ini.
Aku yang melihat tersebut sangat
merasa kasihan, seperti hati ku merasa tertusuk beribu kesedihan. Aku lekas
tanpa sadar memeluknya dengan begitu hangat berusaha untuk menenangkannya.
“Ini Bukan salah mu! Tenanglah
Cia...” Ujar Ku berusaha untuk menenangkannya.
“T-tidak.... Ini salahku....
‘Dia’ Telah murka” Ujar Cia yang terlihat telah mengeluarkan air matanya.
“Dia? Siapa Dia?” Tanya ku yang
terlihat khawatir.
Cia pun mulai menceritakan
tentang dirinya,
Dahulu kala pada zaman kuno,
Hiduplah suatu desa yang begitu harmonis. Desa tersebut sangat harmonis....
tetapi semua itu telah berubah ketika kepala desa tersebut melakukan Ritual
terlarang. Ritual terlarang yaitu, mengembalikan yang mati, yang membuat sang
Dewa marah. Dia pun menghukum satu desa tersebut dengan sadis. Membunuh satu
persatu warga mereka. Akhirnya sang kepala desa, meminta ampun kepada sang
Dewa.
Dewa tersebut terdiam sebentar,
dia pun menawarkan sebuah cara yaitu dengan mengorbankan seorang gadis dari
keturunan kepala desa tersebut. Saat itu kepala desa mempunyai tiga anak
perempuan, termasuk Cia yang paling termuda. Sebenarnya Cia sama sekali tidak
mempunyai kenangan yang indah dengan ayah nya tersebut. Hidup Cia benar – benar
terlantarkan dan tertutupi oleh Kedua kakak nya. Lebih tepatnya Cia begitu
menderita. Tapi, saat itu Pria yang ku kenal sebagai ayah ku bilang,
‘Nak, kamu akan di korban kan ya
kepada Dewa tersebut... kamu sayang kan sama ayah?’
Begitu sedih dan sakit hati
sebenarnya itu yang Cia rasakan. Cia sama sekali tidak mempercayainya. Tetapi
Cia pun tetap dipaksa di bawa ke suatu podium cermin.
“Ayah apa ini?” Ujar Cia yang
terlihat sedih.
“Nak..... aku benar – benar
mencintai mu, tetapi maafkan ayahmu yang melakukan kesalahan besar ini....
Sampai jumpa anak ku tercinta” Ujar nya dengan akting yang penuh penghayatan.
Sedih, kecewa, dan marah
dirasakan oleh Cia secara bersamaan. Ia tidak dapat melakukan apapun.
Cia yang dikorbankan pun terisap
ke suatu dimensi dimana semuanya berwarna putih. Sang Dewa memberikan sebuah
kutukan, dimana jika Cia keluar dalam waktu yang lama maka Dunia akan terserang
oleh monster yang menyeramkan. Cia memang kadang – kadang keluar dalam bentuk
spirit mengisi kekosongannya. Cia pernah memberikan sebuah kalung liontin foto
kepada seorang anak yang kehilangan harapan untuk hidup.
Dari situ terciptalah sebuah
dongeng kecil tentang Gadis yang misterius di Hutan.
“Aku memang diciptakan.....untuk
menjadi kambing hitam, aku hanyalah seorang yang diciptakan untuk berkor-”
“Kamu adalah Cia! Bukan pembantu
Dewa maupun Ayah mu itu.... Terserah Dia mau marah atau apa.... kamu adalah
Cia! Seorang gadis yang layak mendapatkan kebahagiaannya juga!” Ujar Ku sembari
memegang bahu cia dengan erat.
Cia yang mendengar perkataan
tersebut sangat merasa tersentuh. Aku memegang erat tangan Cia dan berlari
menuju ke tempat yang lebih aman.
Tetapi, semuanya sia – sia.
Sampailah kami ke jalan buntu dan dikejar oleh monster.
Aku pun berusaha melawan mereka.
Tetapi jumlah yang begitu banyak membuat ku tidak berdaya.
“Dunia.... memang tidak adil ya
pak....” Ujar Cia yang melangkah ke depan ku.
Aku terkejut, “Cia! Apa yang kamu
lakukan!?”
Cia pun menghadap ke arah ku, ia
tersenyum.
“Pak Taka, aku punya cara untuk
mengakhiri ini semua...” Ujar Cia tersenyum begitu ikhlas.
“T-tunggu Cia! Jang-” sebelum
menyelesaikan perkataan ku, cahaya yang begitu menyilaukan muncul dari Cia.
Cahaya tersebut seperti
membutakan satu dunia dan membuat seisinya seperti berhenti. Aku tak dapat
melihat apa – apa, tetapi aku seperti mendengar seorang gadis berkata,
“Tolong....Ingatlah diriku...”
Cahaya silau tadi perlahan
menghilang dan aku pun terbangun dari tidur ku.
Aku terbangun di ruang kerja ku.
“Ugh.... Mimpi apa tadi...” Ujar
Ku memegang kepala ku seperti menahan kesakitan.
Aku sama sekali tidak mengingat
mimpi yang ku alami tadi. Aku melihat ke arah meja kerjaku dan masih banyak
terdapat dokumen yang harus dikerjakan.
Dengan giat, aku memutuskan untuk
berkerja sampai senja.
* * *
Akhirnya selesai, aku pun
meluruskan pinggang ku dan menghembuskan napas secara dalam. Aku merasa seperti
ada yang ganjal di hatiku, tetapi aku sama sekali tidak mengerti perasaan apa
itu.
Aku pun berangkat dari tempat
duduk dan melihat keluar untuk menemukan Emmet. Terlihat Emmet terlelap
tertidur di tempat tidurnya.
Aku yang lelah pun membaringkan
badan ku sejenak di sofa memikirkan, mengapa aku merasa gelisah.
Aku pun menghadap ke arah lain
melihat sekitar. Tidak ada yang berubah pikirku.
Sampailah aku ke meja kerja ku
kembali, yang ku ingat aku hanya melakukan satu kegiatan disini. Yaitu kerja,
kerja, dan kerja.
Aku pun memutuskan untuk membuka
laci meja kerja tersebut. Isinya membuat ku terkejut, terdapat sebuah buku
berwarna hijau.
“Sejak kapan aku
menyimpan buku berwarna hijau....”
Aku pun membuka buku tersebut
dengan secara perlahan. Aku membaca tulisan yang ada di dalamnya. Sontak Aku
sangat terkejut. Mata ku terbuka lebar, ingatan yang menghilang muncul kembali.
Bulan purnama yang telah muncul
di langit, pada malam itu, aku langsung berlari entah kemana mengikuti insting
yang menyuruh ku untuk terus berlari.
Sampailah aku ke suatu gedung tua
seperti bekas gereja yang sudah kosong dan ditinggalkan. Aku memasuki gedung
tersebut.
Di sana, berdiri Cia dengan dress
putih yang sedikit mengeluarkan cahaya. Aku perlahan menghampirinya.
“Cia.....?” Tanya Ku yang berusaha
menyakinkan diriku sendiri.
Cia tersenyum ke arah ku.
“Pak Tak-” Ucapan Cia langsung
terpotong, aku langsung hendak memeluknya dengan begitu erat.
Cia tersenyum, dia pun menepuk
bahu ku berusaha untuk menenangkan diriku.
“Pa-”
“Cia..... Kamu kemana saja....
Kamu tidak melakukan hal yang aneh – aneh, kan?”
“Pak Ta-”
“Cia..... Kamu gak akan kemana –
mana kan? Kamu akan berada disini kan?” Ujar Ku yang terlihat putus asa.
Cia lagi – lagi tersenyum tulus
ke arah ku,
“Pak Taka....”
“Cia.... Jujur.... Daripada dunia
ini damai.... lebih baik aku memilih mu untuk berbah-” Ucapan ku terpotong oleh
jari telunjuk Cia yang menyentuh bibirku menandakan untuk diam. Aku telah
mengatakan sesuatu yang begitu egois.
“Eh..... Gak boleh gitu....” Cia
tersenyum ke arah ku,
“Pak Taka barusan menunjukkan
sisi egoisnya...” Lanjut Cia dengan tertawa kecil.
Aku terdiam mendengar perkataan
Cia tersebut.
“Pak Taka...... Bapak gak boleh
gitu....” Ujar Cia sembari mengelus kepala ku, melihat perbedaan tinggi ini
sebenarnya sedikit membuat ku ingin tertawa,
“Memang...... Cia juga pengen
untuk bersama Pak Taka dan ikut berpetualang..... Tapi Cia harus ikhlas
menghilang dari dunia ini agar dunia tetap terjaga kedamaiannya....”
“Mungkin.... Di Garis waktu ini
kita tidak dapat bersama..... tetapi mungkin suatu saat kita bisa bersama” Ujar
Cia yang tersenyum ikhlas.
“Tidak ada yang bertahan
selamanya....suatu saat semuanya pasti akan berakhir pada waktunya.... Tetapi,
Memori yang pernah dijalani bersama adalah sesuatu yang indah bukan?” Lanjut
Cia memberikan kata – kata fakta yang sedikit menyakitkan.
Aku benar – benar tertampar akan
ulasan yang di sebutkan oleh Cia. Aku pun menatap ke mata Cia secara langsung.
Mata nya berwarna hijau yang begitu indah.
“Buku saya di Cia kan?....” Ujar
Ku tersenyum kecil.
“.....Cia udah membaca isi
bukunya....itu benarlah indah...” Ujar pendek Cia menjawab pertanyaanku.
Aku menarik napas perlahan dan
menghembuskannya secara dalam.
Aku menyodorkan tangan ku ke arah
Cia seperti yang Cia lakukan ketika menawarkan ku untuk berdansa,
“Untuk terakhir kalinya.......
Maukah kamu berdansa dengan ku?....” Ujar Ku menawarkan tanganku kepada nya.
Cia terlihat terkejut, lalu
tersenyum dan memegan tangan ku dengan lembut.
“Boleh....”
Kami berdua pun mulai berdansa
dengan anggun. Di bawah sinar bulan yang menyelimuti malam, di gedung tua yang
sumber sinarnya berasal dari bulan. Kami berdansa layaknya putri dan pangeran
ketika mereka berdansa di pesta dansa.
Lirik lagu yang dinyanyikan Cia
pun teringat kembali,
“Bagaimana pun
aku tertawa ketika berada di samping mu, aku merasa semuanya dapat dimaafkan.
Aku sebenarnya tidak ingin bertemu dengan mu, Aku ingin Lebih bersama mu.....”
“Bagaimana pun
aku lebih dari yang kau pikirkan, Itu memudar sepanjang waktu, Aku melakukan
sesuatu seperti berada di mimpi yang segera terbangun, itu seperti menghirup di
dalam matahari yang menyilaukan, Aku tidak ingin membaca cerita yang tak ada
habisnya, Aku ingin lebih mendengarkan suara mu.....”
“Setiap Saat aku
selalu memikirkan mu, Bagaimana pun aku selalu tertawa di sisimu, Semuanya
Berwarna dan bunga bermekaran, Aku sangat senang bertemu denganmu, Aku ingin
tertawa di sisi mu selamanya, Aku ingin berjalan dengan mu di musim yang tak
berujung.....”
Itu seperti keinginan dan mimpi yang
ingin ku raih, tetapi kami tetap berdansa dibawa bayangan naungan lagu yang
dinyanyikan Cia.
Sinar bulan mulai menyinari ke
arah Cia, pegangan ku tiba – tiba terlepas karena Cia yang mulai menghilang.
Tapi kami tetap melakukan gerakan dansa yang begitu anggun.
“Mungkin...... di garis waktu ini
kita tidak bersama..... tapi satu hal yang pasti” Cia terlihat tersenyum dan
memudar di depan ku
Air mataku perlahan keluar dari
mataku, aku pun mencium tangan Cia yang tembus pandang tersebut.
“Bahwa.... aku akan
selalu.......Mencintai mu....” Ujar Ku yang perlahan mata ku mengeluarkan air
matanya.
Cia yang melayang seperti seorang
spirit mendekati dan mencium kening ku,
“Jangan begitu.....Aku pun ikut
sedih” Ujar Cia yang juga mengeluarkan air matanya.
Aku pun mengusap air mataku dan
untuk terakhir kalinya mengatakan,
“Selamat tinggal, penguin kecil
ku.......”
Cia perlahan menghilang menyatu
dengan cahaya bulan. Aku terdiam dan menghadap ke arah langit.
“Semoga kita bertemu lagi......”
Ujar pelan dariku.
Bonus :
* * *
Suatu hari di 20XX,
“Ughhh saya lelah.......wait
what? Nijisanji ID second generation?” Ujar Seseorang dengan kacamatanya.
* * *
“Senang bertemu denganmu, saya
Taka Radjiman.. kamu... siapa?” Ujar Ku bertanya dengan seorang gadis dengan aksesoris
penuh penguin di dirinya.
“Saya.... Amicia Michella, Second
generation Nijisanji ID...”
Dan pertemuan dari takdir mereka
dua terjadi..............
Komentar
Posting Komentar