Keyakinan yang Hilang

 

Keyakinan yang Hilang

Nama ku Arif, aku adalah siswa SMP negeri 2. Aku merupakan Siswa yang berprestasi dan pintar. Saat itu, diriku masih menginjak kelas 1 smp, Saat dimana kehidupan ku masih berbahagia. Kedua orang tua ku selalu merawat ku. Susah, senang, duka selalu saja kami hadapi bersama.

Aku sangat mencintai mereka. Tetapi pada suatu hari, aku tiba – tiba dipanggil oleh wali kelas ku. Dia mengatakan sesuatu yang membuat diriku terkejut. Yaitu Orang tua ku meninggal karena kecelakaan.

Begitu hancur nya diriku, rasanya ada yang retak dan pecah didalam pikiran ku. Aku pun sekarang tinggal di suatu kosan yang dibiayai dengan beasiswa ku. Saat itu, aku benar – benar kehilangan sebuah tujuan Hidup dan Keyakinan.

Tetapi, bertemulah diriku dengan seseorang yang sangat menyilaukan ku. Seorang gadis, seumuran dengan ku. Dia begitu menghangatkan, menyejukkan, dan nyaman bagiku. Sekarang, Aku di temani oleh 2 teman laki – laki dan seorang gadis yang berharga menurutku. Kami selalu bersama sampai lulus dari SMA. Aku pun dapat tersenyum kembali. Tertemukan kembali keyakinan untuk selalu hidup oleh diriku.

3 tahun kemudian, aku sekarang berumur 21 tahun. Menurut orang – orang, umur ini merupakan umur prima untuk mencari aktivitas.

Ketika aku bersiap – siap untuk pergi ke suatu tempat, tiba – tiba aku mendapatkan telepon dari orang tua gadis tersebut. Aku terkejut dan bingung mengapa mereka menelepon ku. Aku pun mengangkat telepon tersebut dan setelah mendengarkan perkataan orang tua gadis tersebut begitu terkejut nya diriku, membuat telepon yang ku penggang terjatuh.

Gadis yang selama ini ku cintai meninggal karena penyakit yang ia tahan selama 3 tahun terakhir. Aku begitu terpuruk seperti kehilangan setengah jiwaku.

“Mengapa? Mengapa harus aku lagi mengalami kesialan ini? apakah ini merupakan Kutukan? Apa kutukan ini hanya berada pada diriku?” Oceh diriku yang begitu kehilangan.

Kedua teman ku mencoba menghiburku, tetapi terdapat niat lain di balik perlakuan mereka. Pada akhirnya, Aku dikhianati oleh dua orang terpercayaku, aku kehilangan gadis yang selama ini kucintai, aku kehilangan kedua orang tua ku, aku kehilangan harta ku, dan aku sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi. Aku pun berjalan dibawah hujan yang begitu deras, suasana dingin dan basah yang terasakan saat itu begitu menusuk sampai ketulang. Ku pikir mungkin ini lah takdirku, ku pikir begini lah kehidupan ku.

Aku menemukan rumah tua tak berpenghuni di depan ku. Aku pun memutuskan untuk beristirahat sementara disana, membaringkan dan mengistirahatkan pikiran ku.

Sudah 2 minggu aku hanya berbaring disitu. Aku kelaparan, letih, dan dada ku terasa begitu sesak. Terasa begitu berat untuk bernapas yang membuat ku terbaring lemah di tanah rumah tua tersebut.

Aku berpikir, “Sedih sekali kehidupan mu, Arif. Lemah sekali dirimu. Apakah diriku akan mati semenyedihkan ini. Mungkin inilah yang terbaik bagiku”

Tetapi dengan mengejutkan, pintu rumah tersebut tiba – tiba terbuka. Terlihat beberapa orang yang masuk. “S...siapa.......itu?.....” rintihku yang perlahan menutup mata.

“Apakah aku sudah mati? Mungkin tidak karena rasanya aku masih bernapas.....”

“Siapa orang tadi? Mengapa mereka menyelamatkan ku?......”

“Kenapa.......... aku semenyedihkan ini....”

Sudahlah.... bangunlah.....” Suara tersebut memecahkan semua pertanyaanku.

Aku seperti mendengar suara yang memanggil ku dan menyuruhku untuk bangun dan bangkit kembali. Tanpa disadari aku pun membuka mata ku dengan perlahan. Melihat ke arah sekitar, yang suasananya berbeda seperti lingkungan yang biasanya aku tertidur. Kemungkinan besar ini rumah sakit, pikirku.

“Eh... kau sudah terbangun?” Suara tersebut merupakan suara seorang perempuan. Aku pun sontak melihat ke arah suara tersebut.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya perempuan tersebut sembari mengangkat ku untuk duduk. Aku melihat ke arahnya, dia begitu Cantik, tidak jika aku perhatikan dia lebih ke arah Imut, rambutnya terurai panjang.

“S-siapa kau?” Tanya diriku kepada dirinya.

Perempuan tersebut berdiri dan mengatakan, “Aku Raisa, salam kenal” sembari tersenyum padaku. Hangat senyuman tersebut menyentuh ku. Sudah lama sekali aku tidak merasakan kehangatan ini, pikir diriku.

“M-mengapa kau menyelamatkan ku?” Tanya diriku yang penasaran. Aku sekarang memang telah berubah menjadi seseorang yang pesimis dan negatif.

“Huh.... kau tidak ingat diriku ya..” Ujar Raisa menghembuskan napas dan menundukkan kepalanya.

“Tentu saja, Raisa. Mana mungkin dia ingat dengan mu....” Tiba – tiba ada seseorang lagi yang memasuki ruangan. Dia merupakan seorang laki – laki, berparas sedikit tinggi, dan auranya begitu ramah.

“Maaf masuk dengan tiba – tiba, namaku Ariq. Senang melihat mu telah terbangun” Ujar Ariq yang juga tersenyum padaku.

“Ariq..... maaf aku tak mengingat dirimu....” Ujar pelan diriku sembari menundukan kepalaku.

“Oh? Mungkin karena stress dan syok beratmu itu” Ujar Ariq menghiburku.

“Sudahlah, oh ya kau lapar? Mau makan?” Tanya Raisa dengan penuh antusias

“Uhhhh.... tidak, aku tidak lapar” Walau kata tersebut terucap pada mulutku, perut ku berkata lain.

“Eeeeeeeh.... kau mencoba membohongi ku ya.... liatlah, perutmu pun masih mau jujur padaku” Ujar Raisa memelotot pada ku.

“Tenang saja, Arif. Aku akan membelikan bubur untukmu, mohon tunggu ya dengan Raisa” Ujar Ariq sembari berjalan keluar.

“Uhhh, Bu Raisa?” Ujar ku yang memanggil dengan sopan.

“Siapa yang kau panggil ‘Bu’ itu?” Tanya Raisa yang memelototi diriku lagi.

Raisa menarik napas dalam – dalam dan membuang nya perlahan. “Aku ini lebih muda dari mu. Umurku 20 tahun” Ujar Raisa.

“Oh.... maafkan aku, tapi aku punya pertanyaan kepada kau. Apakah kita pernah bertemu atau apa?” Aku pun bertanya kepada Raisa.

Raisa pun terlihat tersenyum dan berkata, “Aku selalu mengingatmu, Arif. Kau telah menyelamatkan diriku berkali – kali, saat diriku masih kecil dulu dan saat SMA juga. Mungkin kau tak ingat, saat diriku masih kecil kau  datang menyelamatkan ku saat diriku tersesat di hutan. Kau bilang ‘Jika kau membutuhkan pertolongan, teriaklah. Aku yakin orang pasti datang. Tetapi jika tidak ada siapa pun yang datang untuk membantu mu. Maka akulah yang akan menolongmu’ dengan tersenyum padaku sembari mengantarkan ku pulang. Lalu, Ketika masih SMA. Kau lagi – lagi datang membantu ku saat ayahku meninggal. Ketika itu aku benar – benar depresi, tetapi kau membantu ku lagi dengan kata – katamu yang membuat ku kembali menjalani hidup”

“Kau tahu, walaupun kau tersiksa, menangis, dan berteriak sekencang mungkin meminta tolong. Pada akhirnya tidak ada siapa pun yang membantumu, Bukan? Jadi, saat tidak ada siapa pun yang menolong dirimu, maka aku yang akan menolong mu” Ujar Raisa melanjutkan perkataannya.

Begitu terkejutnya diriku mendengar perkataan Raisa, dulu aku mengira inilah takdirku. Tapi nampaknya di dunia yang keras ini masih terdapat orang yang baik hati.

“T-terima kasih.....” Ucap diriku perlahan. Tak lama, Ariq telah kembali membawakan bubur untukku. Aku pun senang memakan nya, tetapi entah mengapa susah sekali untuk tersenyum kembali.

“Jadi, Arif. Aku mempunyai suatu usulan untukmu” Ujar Ariq memecah keheningan.

“Usulan?” Tanya diriku yang bingung dengan perkataan Ariq.

“Ikutlah bersama kami, tinggalah dengan kami” Ujar Ariq menawarkan kepada diriku sembari tersenyum.

“B-benarkah?” aku begitu terkejut, seakan – akan mereka merupakan cahaya matahari yang ku nantikan dari hujan yang begitu panjang.

Ariq pun mengangguk dan berkata, “Kami mempunyai suatu rumah dengan kamar masing – masing. Kami tinggal satu rumah karena kami bersama – sama melakukan sesuatu pekerjaan”

“Pekerjaan apa itu?” Tanya diriku yang penasaran.

“Karya Sastra” Jawab pendek Ariq. Aku pun menganggukan permintaan Ariq dan ingin tinggal bersama.

* * *

3 hari telah berlalu, akhirnya aku keluar dari rumah sakit. Aku pun dijemput oleh Ariq dan Raisa menggunakan mobil. 10 menit perjalanan tidak terasa aku pun telah sampai di rumah tersebut. Rumah tersebut cukup sederhana, dari luar terlihat memiliki 2 lantai. Sembari melihat, sembari berjalan.

Aku pun masuk ke dalam rumah tersebut bersamaan dengan Raisa dan Ariq. Terdapat sebuah ruang tamu yang begitu sederhana, lalu didalamnya terdapat sebuah meja besar bersamaan dengan sofa panjang berbentuk L dan terdapat 2 komputer di dekat nya. Mungkin ini adalah ruang Kerja, pikir ku.

Jika aku gambarkan dengan denah kemungkinan rumah nya seperti ini.

 

 

 

 

 

 

Setelah puas berkeliling, Ariq pun mengajak ku untuk makan.

“Jadi Bagaimana menurutmu dengan rumahnya?” Tanya Ariq yang sedang menyantap makanannya.

“Menurut ku nyaman disini, kehidupan disini lebih enak daripada kehidupan ku sebelumnya” Ujar ku yang juga menyantap makanan.

“Tiara dan Hafid mungkin akan kembali sebentar lagi, Hafid adalah editor, sedangkan Tiara adalah House manager” Ujar Ariq memberi tahuku.

“Sedangkan Raisa?” Tanya ku yang penasaran

“Dia? Hmmmm..... coba kau tanya sendiri mungkin dia sedang di dapur membereskan belanjaan” Ujar Ariq sembari menunjuk ke arah dapur.

Aku pun berdiri sembari membawa piring kotor ku. Di dalam dapur Aku dapat  melihat Raisa yang sedang berada di depan kulkas. Terlihat Raisa yang sedang menata dan menaruh bahan makanan ke dalam Kulkas.

Aku pergi ke tempat cuci piring dan menyuci piringku.

“Oh Arif? Bagaimana masakan ku? Enak?” Tanya Raisa yang menyadari keberadaan ku.

“Enak” Jawab pendek ku sembari menaruh piring yang telah ku cuci.

Semakin diriku melihat Raisa, semakin diriku menyadari Kehangatan berada di dekatnya.

“Oh ya Raisa, kau bekerja di bidang mana?” Teringat pertanyaan ku tadi kepada Ariq, aku pun menanyakan nya kepada Raisa.

“Bidang? Aku yang menulis skripsi ceritanya” Ujar Raisa.

Raisa langsung menghadapku setelah selesai menata bahan makanan dan berkata, “Kau mungkin cocok membuat cerita bersama ku”

“Kau yakin? Aku merasa aku sama sekali tidak mempunyai kemampuan bahasa” Ujar ku merendahkan diri.

“Kau ini.... bahasa bukan sepenuhnya yang membuat cerita itu bagus lho.... tetapi pemikiran mu, imajinasi mu, dan pengalaman mu. Kehidupan dimana hanya kita sendiri yang mengetahui hal tersebut yaitu imajinasi” Ujar Raisa tersenyum menasihati ku.

“Memangnya apa mimpi mu?” Pertanyaan tersebut terucap di bibir ku.

“Mimpiku? Sederhana saja, mimpiku adalah membuat orang – orang dapat menikmati hal yang sama seperti yang ku nikmati didalam dunia pemikiran ku. Menjadikan Buku sebuah panduan sekaligus motivasi dengan cerita yang sederhana” Ujar Raisa memberi tahu mimpinya kepada ku. Sekali lagi aku benar – benar terpukau dengan dirinya, timbulah pertanyaan di kepalaku.

“Apakah benar dulu aku yang menyelamatkan dia? Apakah aku yang menjadi motivasi dirinya untuk selalu berjuang?”

Setelah ku pikir – pikir, memang benar. Akulah yang menyelamatkan dia, rasa tak ingin kalah pun timbul pada diriku.

Aku pun bilang kepada dirinya dengan tersenyum, “Aku pun takkan kalah darimu, aku juga akan menuliskan pemikiran – pemikiran ku kedalam suatu cerita yang akan membuat orang – orang tersenyum. Aku tak ingin orang berakhir menyedihkan seperti diriku” Kata tersebut merupakan ucapan tertulus yang pernah ku ucapkan yang pada akhirnya membuatku tersenyum kembali. Raisa yang melihat diriku pun ikut senang juga.

“Akhirnya senyuman mu itu kembali, sudah lama sekali tak melihat mu tersenyum” Ujar Raisa yang membalas senyumanku. Aku pun pergi kembali ke ruang kerja bersamaan dengan Raisa.

“Oh Arif. Hafid dan Tiara sudah ada diluar” Ujar Ariq yang terlihat sedang membaca dokumen – dokumen menggunakan kacamatanya.

“Permisi, kami sudah pulang” Ujar seorang lelaki yang memasuki ruang kerja bersama dengan seorang perempuan.

“Oh kamu Arif kan? Salam kenal, Aku Hafid” Ujar Hafid yang perlahan mulai duduk di sofa.

“Dan aku Tiara, aku seorang manager disini jadi mohon kerja samanya” Ujar Tiara yang ikut menyusul.

“Jadi Arif, apakah kau ingin bergabung dengan Tim Sastra disini?” Tanya Ariq yang menanyakan keputusan ku.

Semua orang menatap ku, ku pikir mungkin tidak selamanya hidup itu berat dan susah. Mungkin aku lah yang pengecut, mungkin akulah yang selalu terlarut dalam kesedihan. Mungkin ini lah “Cahaya” ku.

Aku pun menghadap kearah mereka semua dan berkata, “Aku ikut, izinkan aku menjadi salah satu penulis disini”

“Selamat datang, Arif. Kau diterima” Ujar Ariq yang tersenyum kepada ku.

“Kau dengar itu kau diterima lho..” Ujar Raisa yang ikut berbahagia.

“Teman – teman, mari kita rayakan kedatangan anggota baru kita, Arif” Ujar Hafid yang mengeluarkan makanan ringan.

Kami pun berpesta kecil merayakan kedatangan ku, aku berharap kebahagian ini akan tetap seperti ini. Tidak. Harus tetap seperti ini.

Inilah awal kisah diriku yang melakukan perjalanan bersama teman – teman ku.

* * *

Sudah 1 minggu aku tinggal di Rumah Kerja tim Sastra. Setiap hari, aku berpikir dan menuliskan semua yang ku pikirkan ke dalam suatu buku. Mungkin anak – anak menyebutnya sebagai diary. Setelah aku menulis, aku langsung pergi menuju ke Ruang Kerja untuk berkumpul.

“Oh Arif, sudah bangun? Mari kita makan” Ujar Ariq sembari menyodorkan piringnya.

“Baiklah, aku akan mengambil makanan” Jawab singkat diriku sembari berjalan menuju ke dapur dan mengambil piring. Raisa yang selalu memasak untuk kami, walau begitu kadang – kadang Tiara memesan makanan juga.

“Makan apa kita hari ini, Raisa?” Tanya diriku yang kelaparan.

“Sup” Ucap pendek Raisa.

Aku pun mengambil sup dan pergi ke ruang kerja. Aku pun makan bersama Ariq yang sedang Melakukan beberapa pekerjaan Dokumen. Kami mengobrol ria dan saling menanyakan beberapa pertanyaan.

“Oh ya Arif. Apa kau bersedia membeli kertas HVS, Tinta printer, dan 2 buku portofolio di toko Fotocopy? Toko nya dekat kok, tinggal lurus saja ikuti jalur dan kau akan ketemu” Ujar Ariq yang sibuk dengan menata dokumen.

“Baiklah, aku juga mau melihat – lihat lingkungan sekitar” Ujar diriku sambil mempercepat santapan makanan ku.

Aku pun pergi dengan berjalan kaki sembari melihat ke arah sekitar. 10 menit berjalan, terlihat ada sebuah kolam besar dengan sebuah jembatan. Aku pun terpukau dengan kolam besar tersebut. Karena jarang melihat kolam yang besar, melihatnya lagi mirip dengan sebuah sungai atau danau kecil.

“Kau suka pemandangan nya, nak?” Tanya seorang nenek yang kebetulan bertemu dengan ku.

“Iya, aku suka. Mungkin saat matahari mulai terbenam akan menambah sensasi nya” Jawab diriku dengan suara takjub.

“Kolam ini bernama ‘Air titisan Bulan’. Tempat ini sangat indah, dihiasi dan dikelilingi oleh bunga dan pohon yang menambah nuansa sejuknya” Ujar Nenek tersebut menjelaskan.

“Iya, kau benar” Jawab singkat ku.

“Selain itu, Nak. Orang sekitar sini bilang bahwa orang kadang datang kesini untuk melepas stress atau depresi mereka. Tapi, nenek selalu mengundang mereka tuk datang kerumah nenek dan berbicara empat mata memperkecil dan mengurangi setidaknya sedikit dari beban mereka. Jadi, misalkan kau ada masalah mungkin kau bisa datang ke rumah nenek di dekat kolam ini” Ujar nenek tersebut.

Aku pun mengangguk.

“Jangan lupa satu hal, Nak. Hargailah momen yang kau rasakan sekarang, jangan kau lupakan momen tersebut. Jangan kau pikirkan masa depan mu, tapi pikirkan lah hal yang terjadi sekarang” Ujar nenek Tersebut

“Baiklah, Nek. Terima Kasih atas nasihatnya. Aku pergi dulu ya” Ujar ku sembari melanjutkan perjalanan ku.

Aku pun membeli barang – barang yang perlu dibeli dan pergi kembali.

“Permisi, aku pulang” Ucap diriku memberi salam.

“Oh kau sudah kembali, taruh sini barang yang kuminta” Ujar Ariq menunjuk ke arah meja. Aku pun menaruh barang – barang tersebut dan pergi langsung ke kamar ku untuk menuliskan pengalaman ku di buku ku.

Tok tok tok, seseorang mengetuk pintu kamar ku. Aku pun membukakan pintuku, rupanya hanya Raisa yang datang.

“Jadi, bagaimana menurut mu Kolamnya?” Tanya Raisa sembari memasuki kamarku.

“Indah dan ada seorang nenek yang baik” Jawab singkat ku.

“Nenek? Siapa maksudmu?” Tanya Raisa kebingungan

“Ada nenek yang tinggal di dekat kolam kan?” Tanya diriku kembali

“Nenek yang tinggal dikolam.... nenek itu sudah meninggal, Arif....” Jawab Raisa

Aku pun terkejut menjatuhkan pulpen ku dan berkata,

“Apa maksudmu? Aku baru bertemu dengan nya tadi” Ujar diriku dengan penuh keyakinan

Raisa melihat ke arah ku, memperhatikan diriku dan berkata,

“Ikut aku, Arif”

Aku dan Raisa pun berjalan keluar, tepatnya kembali ke Kolam tersebut. Raisa menunjuk ke arah sebuah rumah yang tidak terlalu besar.

“Itu rumah beliau. Tetapi kita akan lurus saja dari sini” Ujar Raisa.

Raisa dan aku berjalan mengikuti jalan, sampai pada suatu tempat pemakaman. Raisa menunjuk ke arah nisan Bernama Tetty Lestari.

“Beliau telah meninggal beberapa bulan yang lalu, banyak yang datang ikutan melayat beliau dan mendoakan beliau. Banyak warga – warga disini bilang bahwa beliau adalah orang yang sangat baik dan ramah” Ujar Raisa menjelaskan.

Aku hanya terdiam melihat Nisan nenek tersebut, aku pun mendoakan Nenek Tetty. Aku dan Raisa pun berjalan kembali ke rumah.

“Kemungkinan yang bertemu dengan mu arwahnya ya.....” Ujar Raisa yang menakuti Diriku.

“Memangnya apa kata nenek tersebut?” Tanya Raisa melanjutkan perkataannya.

“Dia bilang, ‘Misal diriku mempunyai masalah, datang lah kerumah nenek’ dan ‘Jangan lupakan Setiap momen yang aku raih’. Sedih juga......... ku harap kau tenang di sana” Ujar Diriku sembari mendoakannya.

“Ya.... dia dianggap penyelamat bagi orang – orang yang mencoba bunuh diri di lingkungan ini, aku pun terkagum padanya” Ujar Raisa yang turut mendoakannya.

“Benar juga.....” Ujar Ku sembari berjalan.

Waktu tak terasa berjalan aku dan Raisa telah sampai di Rumah. Aku pun mandi, makan, dan masuk ke dalam kamar ku. Hari ini banyak yang terjadi sampai Aku sendiri pun bingung dengan kejadian hari ini.

“Jangan lupakan setiap momen ya.........” Oceh ku Sendiri dan melanjutkan menulis momen – momen yang terjadi hari ini.

* * *

Hari ini adalah Hari Minggu, hari dimana Aku dan Kelompok Sastra pergi ke suatu pameran Sastra. Di sana banyak Kios – kios yang menjual buku – buku, puisi, dan bahkan juga terdapat Kios makanan. Kami, kelompok Sastra juga mempunyai Kios. Kami menjual beberapa hasil kerja kami, seperti Cerpen, Buku kecil, dan Beberapa laporan atau informasi. Aku membantu sedikit seperti menata buku dan menyambut pelanggan. Waktu pun tak terasa berlalu menunjukkan sudah waktunya makan siang. Aku pun memutuskan untuk pergi berjalan – jalan sebentar di pameran tersebut.

“Mungkin ada yang ku ingin beli......” Pikir Ku sembari terus berjalan mengelilingi Pameran tersebut.

Sampai pada di suatu titik dimana Aku menemukan sebuah Kios yang terlihat tua tetapi terlihat didalam masih rapi dan tersusun.

“Mau melihat – lihat?” Sambut seorang kakek yang kemungkinan menjaga kios tersebut.

“Oh, Boleh. Saya ingin melihat – lihat Buku – buku disini” Ujar Ku memasuki kios tersebut.

Terlihat banyak buku – buku yang terlihat tua, bahkan tak sedikit Aku menemukan buku keluaran 196X. Aku membaca sastra lama tersebut dan melanjutkan mengelilingi isi kios tersebut.

Kemudian, Aku menemukan 1 buku yang memancing perhatian ku. Dengan sampul bewarna abu – abu rintik dengan judul “Dimulai dengan Cerah, Diakhiri dengan Hujan”.

“Permisi, bolehkah aku bertanya tentang buku ini” Tanya ku ke Kakek penjaga tersebut.

Kakek tersebut pun memakai kacamatanya dan melihat buku tersebut.

“Oh buku ini..... buku ini ditulis oleh Seseorang dengan nama pena ‘Eva’. Dia adalah orang yang sangat aktif, optimis, dan murah senyum. Walau hidup terasa seperti badai, dia selalu membantu orang lain dan tetap tersenyum” Ujar Kakek tersebut.

Aku yang mendengar hal tersebut sangat terkejut dan kagum terhadap orang bernama “Eva” ini.

“Berapa harga buku ini, kek?” Tanya ku dengan niat untuk membeli buku tersebut.

“Kamu mau membeli buku itu? Harga nya cukup 30rb saja” Ujar Kakek tersebut.

Aku pun membayar nya dan membeli buku tersebut dan bersiap untuk pergi kembali.

“Ingat nak, sesulit apapun terpaannya tetap berjalan ya” Ujar Kakek tersebut tersenyum pada sebelum aku pergi

“Baiklah, terima kasih, Kek” Salam ku sembari berjalan kembali ke Kios Kelompok ku.

“Kehidupan itu kita mana tahu bagaimana berjalan. Lancar? Macet? Depresi? Kita tidak tahu.... yang ku tahu hanyalah...... Melihat dan berpikir apa yang akan ku lakukan hari ini” Pikir ku sembari melihat ke arah teman – teman kelompok Sastra.

“Kemari rif.... kita akan merapikan hal – hal ini” Ujar Ariq

Aku pun tersenyum, “Baiklah aku akan kesana” Ujar ku.

Begitulah hari – hari selama Pameran sastra yang melelahkan sekaligus menyenangkan tersebut.

* * *

Malamnya, Aku dan para anggota sastra lainnya pergi ke restoran sekitar untuk makan malam. Kami bercanda ria disana, mengobrol tentang banyak hal.

“Oh ya, kawan – kawan. Aku memiliki beberapa pengumuman untuk kalian” Ujar Ariq.

“Apa itu?” Tanya Tiara yang penasaran.

“Yaitu, Kita semua akan bepergian ke kota london untuk kunjungan pekerjaan disana” Ujar Ariq dengan antusias.

“London huh...... Bulan ini adalah bulan desember berarti disana sedang musim salju bukannya?” Tanya Raisa.

“Iya disana sedang bersalju mungkin ini pengalaman pertama kita dengan salju” Ujar Ariq dengan bersemangat.

“Salju ya..... menarik. Memang pekerjaan macam apa yang kita akan lakukan disana” Tanya ku penasaran. Karena Dinas luar adalah hal yang jarang terjadi apalagi dinas keluar negara.

“Kita akan bertemu suatu studio disana sekaligus mungkin dapat mendapatkan beberapa referensi dan ya” Ariq berhenti sembari batuk. “Gratis” Lanjut Ariq.

Aku pun tertawa mendengar pernyataan tersebut, Seorang Bos di studio kami bersifat seperti apapun yang terjadi yang penting gratis.

“Baiklah kapan kita berangkat?” Tanya Hafid sembari menyantap makanan nya.

“Minggu depan, jadi Senin sampai sabtu kita akan bersiap – siap dari segi mental dan fisik. Berdoa juga kita sampai dengan selamat” Ujar Ariq.

“Minggu depan ya....” Aku tersenyum melihat ke arah teman – teman ku. Aku merasa ini lah momen yang tepat untuk meningkatkan tali persaudaraan antara anggota kelompok lainnya. Dan lebih mengetahui sesama satu lain.

* * *

Aku sudah mulai berjalan – jalan membeli keperluan ku untuk pergi kelak. Seperti Sabun, Shampoo, Pakaian tambahan, dan lain – lain.

“Pekerjaan apa saja yang akan ku lakukan, hal menarik apakah yang ku akan temui disana” Pikirku sembari berjalan untuk pulang ke Rumah.

Aku yang berjalan mulai mengingat sesuatu. Aku pun teringat sesuatu bahwa aku melupakan sesuatu dari seluruh kebutuhan yang aku beli. Aku pun berjalan ke minimarket terdekat dan membeli keperluan tersebut.

“Apa sekalian membeli Makanan ya? Hmmm” Pikirku yang memutuskan untuk sekalian membeli makanan untuk teman – teman yang lain.

Aku pun berjalan pergi ke warung sebelah minimarket tersebut dan membeli beberapa makanan dan pergi berjalan kembali pulang.

* * *

Sesampainya Aku di rumah, Aku pun menawarkan makanan kepada teman – teman sastra.

“Kalian mau?” Ujar Ku menyondorkan Plastik berisi makanan tersebut.

“Wah baunya enak, boleh, kau taruh saja di meja” Ujar Tiara yang terlihat sibuk.

Aku pun menaruh makanan tersebut di meja dan pergi ke kamar ku untuk menyiapkan koper. Aku menaruh semua keperluan dan pakaian ku kedalam koper tersebut. Merasa lelah aku pun berbaring di tempat tidur ku. Melihat ke arah meja bekerja ku aku pun melihat buku yang aku beli beberapa hari lalu. “Dimulai dengan Cerah, Diakhiri dengan Hujan” Merupakan buku yang ku beli saat festival kemarin, aku pun tersenyum dan mengambil buku tersebut dan mulai membacanya.

Tak tersadar, rupanya aku tertidur setelah membaca beberapa halaman buku tersebut. Aku pun mengecek sekali lagi koper ku apakah sudah benar benar siap. Tiba – tiba, terdengar panggilan dari Raisa untuk bergegas. Aku pun pergi untuk mandi dan berpakaian rapi bersiap untuk pergi ke bandara. Aku membawa koper ku keluar dan melihat ke arah Ariq yang mengobrol dengan seseorang.

“Oh Arif, Perkenalkan ini teman ku, Ibrahim. Yang akan mengantarkan kita dan menjaga Rumah kerja kita” Ujar Ariq memperkenalkan Orang tersebut.

“Salam kenal, Aku Arif” Ujar ku menjabat tangan Ibrahim.

“Salam kenal juga, Saya Ibrahim. Taruh saja kopernya ke dalam mobil” Ujar Ibrahim.

Aku pun menaruh koper ku kedalam bagian belakang mobil tersebut. Terlihat Hafid menyusul membawa koper milik Raisa dan Tiara dan menaruh nya kedalam mobil tersebut. Raisa dan Tiara terlihat keluar dan mengunci pintu rumah. Aku dan teman – teman Sastra bersiap pergi menuju bandara. Aku pun masuk kedalam mobil. Kami pun berangkat menujur ke bandara. Aku melihat keluar jendela, terlihat suasana malam dengan temperatur yang dingin. Aku lalu menyalakan hp ku dan terlihat jam menunjukkan pukul 1:00 am. Aku yang sebenarnya masih mengantuk hanya bisa berusaha bertahan dalam posisi mengantuk tersebut.

Tak terasa waktu berjalan, Kami pun telah sampai di bandara. Kami pun pamit kepada Ibrahim dan pergi kedalam bandara.

“Apa perlu bagasi?” Tanya Ariq.

Kami pun menjawab, “Tidak perlu”.

Ariq pun melakukan check – in dan bersama – sama pergi menuju ke ruang tunggu. Sesampainya disana Kami pun bersantai sedikit, menaruh barang – barang kami di kursi dan saling mengobrol. Raisa dan Tiara menyantap bekal mereka, terlihat Ariq yang gelisah. Ariq memiliki takut akan Ketinggian, Dia sangat tidak menyukai momen saat naik pesawat. Aku pun menenangkan dirinya bahwa semuanya akan baik – baik saja.

“Panggilan kepada Penumpang pesawat yang akan berangkat ke London”

Terdengar panggilan tersebut, Aku pun membawa tas dan segera memasuki Pesawat bersama dengan yang lainnya. Kami duduk dalam satu barisan dengan susunan Raisa di Bagian paling kiri, Tiara, Ariq, Diriku, dan Hafid.

Aku pun duduk di kursi pesawat tersebut menaruh Tas ku di dekat kaki ku.

“Kira – kira kapan kita akan sampai disana?” Tanya ku Kepada Hafid.

“Hmmm.... butuh sekitar 14 jam 30 menit untuk perlu kesana” Ujar Hafid.

“Oh Yasudahlah... dibawa santai saja” Ujar diriku sembari melihat ke arah Ponselku yang menunjukkan Pukul 2:00 AM.

Aku pun Mengeluarkan buku “Dimulai dengan Cerah, Diakhiri dengan Hujan” dari tas ku dan membaca buku tersebut. Aku pun membaca buku tersebut dengan serius, memahami setiap kata – kata yang ada dibuku tersebut. Saking seriusnya, Hafid disebelah ku pun bertanya apa yang sedang ku baca.

“Ehh... ini buku yang aku beli di festival kemarin, dari sebuah toko disana” Ujar ku menceritakan sedikit.

“Oh begitu.... Kau tidak tidur? Aku saranin untuk tidur” Ujar Hafid.

Aku pun menaruh kembali buku ku dan meluruskan badan ku, perlahan menutup mataku.

* * *

Aku tanpa sadar mulai membuka mata ku dan terbangun. Aku pun mulai membersihkan mataku dan melihat ke arah sekitar. Terlihat Raisa dan Tiara yang menyantap makanannya, Lalu ada Hafid terlihat sedang menonton sebuah film dengan serius, dan Ariq yang sedang membuka laptop nya dan Mengetik beberapa hal.

“Boleh minta bekal ku?” Ujar ku yang merasa kelaparan kepada Tiara.

Tiara pun memberikan bekal ku melalui Ariq. Aku pun mulai menyantap bekal ku, melihat ke arah jam. Jam menunjukkan pukul 12 siang, Aku pun menghabiskan Bekal ku dan menaruh nya kembali ke tas dan menyandarkan punggung ku di kursi. Aku pun menatap penasaran ke arah TV yang berada di depan ku. Aku pun mulai mencari – cari film yang mungkin bisa menghilangkan sedikit kebosanan dari diriku. Mata ku menatap kearah Film Berjudul “Avengers : The Endgame”. Aku memasangkan headset ke telinga ku dan mulai menonton Film tersebut. Rasa gugup, tegang, dan Sedih terlihat dimuka ku.

Tak terasa 3 jam durasi film tersebut telah berlalu. Aku pun merasa sangat bosan melihat ke Arah Raisa dan Tiara yang terlihat terlelap Tertidur. Lalu melihat ke arah Ariq yang masih sibuk mengotak – atik Laptopnya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Ku kepada Ariq.

“Menulis beberapa dokumen yang penting” Ujar Ariq menjawab pertanyaan ku.

Aku pun melihat ke arah Hafid yang juga kelihatan tertidur lelap. Aku pun menyandarkan punggung ku sekali lagi dan menghadap ke arah Atas berpikir apa saja yang akan Ku lakukan disana.

“Kira – kira Jam berapa kita sampai disana jika dilihat dari jam london?” Tanya ku Terhadap Ariq.

“Hmmm.... Jam 9:30 pagi jadi kita bisa sedikit santai dan beristirahat di asrama yang di sediakan” Ujar Ariq.

“Asrama?” Tanya ku yang menghadap ke Arah Ariq.

“Ya, Asrama. Mereka menyediakan sebuah Asrama yang memuat 2 kamar yang masing – masing untuk laki – laki dan Perempuan. Jadi Kau, hafid, dan aku akan tidur seruangan sedangkan Raisa dan Tiara akan tidur di kamar sebelah” Ujar Ariq menjelaskan.

Aku pun dapat membayang seberapa mahal biaya yang diperlukan.

“Memangnya mengapa kita kesana?” Tanya ku kepada Ariq.

“Kita disana akan menjalin hubungan kerja, selain itu kita akan bersaing antara pekeja lainnya” Ujar Ariq.

“Begitu ya.....” Ujar ku yang memahami perkataannya.

Tak terasa 1 jam terlewatkan, Terdapat sebuah panggilan yang memberitahukan bahwa sebentar lagi akan sampai. Hafid pun kelihatan sudah segar dan memasang sabuk pengamannya, Ariq pun menutup laptopnya dan menyimpannya lalu memberitahu kepada Raisa dan Tiara bahwa pesawat akan Berangkat.

Pesawat yang aku tumpangi pun telah mendarat dengan aman di bandara Heathrow. Kami pun keluar dan pergi menuju gerbang kedatangan dan melihat kearah sekitar.

Suasana salju yang dingin pun terlihat, angin sejuk yang terasa mengalir di sekitar daerah, Sinar matahari pagi yang tak terlalu nampak tapi sedikit terasa, lalu terlihat beberapa pekerja yang membersihkan salju.

“Ayo kita kesana” Ujar Ariq yang menunjuk ke arah Express. Kami pun memasuki salah satu kereta dan pergi ke tujuan selanjutnya.

Sampai lah kami di stasiun selanjutnya, terlihat seseorang yang menyambut Ariq.

“Perkenalkan ini Mr, John. Orang yang membiayai kita kesini” Ujar Ariq memperkenalkan orang tersebut.

“Halo semuanya, Saya John. Tenang saja, saya mengerti bahasa indonesia” Ujar John kepada kami.

“Baiklah, Mari – mari kita ke Asrama. Saya tau kalian pasti Kelelahan bukan?” Ujar John sembari berjalan menuju mobilnya.

Kami pun diantar oleh John menuju ke suatu tempat, yang kemungkinan besar adalah Sebuah Asrama. Ariq pun diberikan 2 buah kunci. Kami pun melihat 2 buah pintu yang saling bersebelahan.

“ini kunci untuk perempuan” Ujar Ariq Memberikan Kunci Ke Tiara.

Aku, Hafid, dan Ariq pun memasuki kamar tersebut. Terlihat 2 buah kasur dan sebuah Sofa bed, lalu terdapat lemari untuk menyimpan pakaian – pakaian, Terdapat 1 meja tulis dan kursi untuk bekerja, Terdapat sebuah karpet yang lembut yang melapisi lantai didekat Kasur tersebut, dan terakhir terdapat televisi dan alat Elektronik seperti Teko listrik dan kulkas.

Aku pun mulai merapikan barang – barang ku bersamaan dengan Ariq dan Hafid. Setelah selesai merapikan aku pun mengambil handuk dan pergi mandi di air hangat.

“Sensasi hangat di hari dingin begitu enak....” Pikirku sembari Melanjutkan mandiku. Selesai mandi aku pun berpakaian dan berbaring di Sofa.

“Aku akan tidur disini” Ujar ku kepada Ariq dan Hafid.

“Okeh aku akan tidur dikasur yang satu ini” Ujar Ariq.

Hafid juga berbaring di kasurnya. Kemungkinan untuk hari pertama, kami akan beristirahat di Kamar terlebih dahulu. Membiasakan diri akan suhu yang begitu dingin saat itu. Dan juga bersiap – siap pada yang akan terjadi.

* * *

Keesokan harinya, Kami pun bersiap – siap untuk pergi ke Kantor yang akan menjadi ruang kerja kami. Kami yang telah besiap – siap pun diantarkan oleh John ke suatu tempat menggunakan mobilnya. Terlihat suasana dingin yang begitu terasa walaupun berada di dalam mobil.

Sesampainya di sebuah tempat, kami pun memasuki tempat tersebut. Kami dituntun oleh John menuju satu ruangan yang berisi 5 meja kerja.

“Inilah Ruangan yang akan kalian pakai” Ujar John kepada kami

“Thank you” Ujar Ariq yang membalas perkataan John.

“Baiklah, Happy Working on it” Ujar John yang tersenyum kepada kami dan pergi.

Kami pun memasuki ruangan tersebut, Ruangan tersebut berisi 5 meja kerja lengkap dengan sebuah komputer di dalamnya, lalu terdapat lemari di setiap meja kerja yang berisi dokumen yang harus diisi.

“Baiklah aku akan membagikan tempat – tempatnya, yaitu Raisa dan Tiara akan duduk di sebelah kiri sedangkan Hafid dan Arif akan duduk di sebelah kanan. Aku akan duduk di meja kerja bagian tengah disini” Ujar Ariq

Aku pun mulai duduk di meja kerja ku sendiri, menaruh beberapa barang penting seperti Buku catatan ku dan tas ku.

“Baiklah pasti kalian tidak tau apa atau mengapa kita berada disini, tapi aku akan Menjelaskannya” Ujar Ariq

“Pertama alasan kita disini adalah kita diundang sebagai perwakilan untuk mengikuti kegiatan Membukukan cerita di London”

“Jadi kegiatan kita selama disini adalah membuat cerita yang mungkin dapat kesempatan untuk dibukukan” Jelas Ariq.

Kami pun terkejut mendengar hal tersebut.

“Jadi cerita apa yang akan kita buat” Tanya Tiara kepada Ariq.

“Untuk sementara kita akan membereskan dokumen yang ada di Lemari dan memasukan data penting ke dalam Komputer” Ujar Ariq sembari menyalakan Komputernya.

Kami pun mulai menyusun dokumen yang ada di lemari masing – masing dan memasuki data – data penting ke dalam Komputer.

* * *

Jam makan siang pun mulai terlihat, Aku pun yang sudah kelaparan pun pergi berjalan sekitar bersama Ariq dan Hafid. Memakai jaket dan syal di leher membuat diriku hangat dari suasana yang begitu dingin itu.

Terlihat orang – orang juga berjalan sibuk dengan kerjaan masing – masing.

“Hey, aku akan ke minimarket sana. Kalian lihat – lihat saja duluan” Ujar Ariq yang menunjuk ke arah minimarket dan pergi masuk ke dalam.

Aku dan Hafid melanjutkan jalan – jalan mengelilingi kota tersebut.

“Kau lapar?” Tanya Hafid memulai sebuah topik.

“Tidak terlalu, tapi aku butuh Yang hangat – hangat” Ujar Ku sambil memegang perutnya.

Aku dan Hafid terus berjalan melihat sekitar.

“Oh Apa ini?” Ujar Hafid melihat ke suatu tempat.

“Teath? Oh jadi ini yang diminta Raisa dan Tiara tadi bukan?” Ujar Ku.

 “Iya betul, Aku mungkin mau membeli teh juga. Kau mau? Atau kau ingin berjalan melihat sekitar” Tanya Hafid sembari menawarkan.

“Tidak, aku akan terus berjalan. Mungkin aku akan menemukan sesuatu yang dapat ku beli” Ujar ku yang perlahan berjalan.

Aku yang berjalan sangat fokus melihat sekitar, banyak juga orang – orang dari sini berjalan sana sini dengan Hp mereka masing – masing.

Begitu aku mendongakkan kepala ku, Aku melihat sebuah papan nama Bertuliskan “Estelle Cafe”. Jika ku ingat – ingat nama kafe tersebut berasal dari bahasa Prancis yang artinya Bintang. Aku pun memasuki kafe tersebut, tercium aroma Kopi yang begitu menyegarkan. Badan ku terasa sejuk hangat. Terlihat suasana kafe yang terbuat dari kayu, mulai dinding sampai lantai yang terbuat kayu dengan warna gelap cerah.

Aku pun duduk di Kursi yang berada di meja Konter, lalu Datang seorang pria dengan janggut tipis, paras tinggi, dan rambut hitam cerahnya.

“What do you want?” Tanya dia dengan tersenyum.

“Ehh... I would want an Espresso” Ujar ku memesan minuman.

“Okay, Come in Right up” Ujar dia yang memulai membuat pesanan tersebut.

“Are you not from here?” Tanya dia sambil membuat Espresso.

“Yeah i’m not from here, I’m here only for work” Ujar ku menjawab Pertanyaan Nya.

“Hmmm.... what kinds of work?” Tanya dia lagi.

“Writing and some stuff.... You know document” Ujar Ku menjelaskan.

“Hah... i know..”

“What is your name by the way?” Tanya ku bertanya kepada dia.

“Oh, My name is Asta, You?” Ujar Asta bertanya kembali.

“I’m Arif, Nice to meet you” Ujar ku berkenalan dengan Nya.

“Ooh Nice to meet you too” Ujar Asta menyapa kembali.

“By the way, are you the only person here” Tanya ku yang penasaran melihat ke sekitar.

“Yeah, I’m the only person here” Ujar Asta tersenyum.

“Wait, Why? Are you not recruiting someone?” Tanya ku yang terkejut.

“No... before, this Cafe have 2 Employees including myself” Ujar Asta sembari memberikan Espresso pesanan ku.

“Who is the other Person?” Tanya ku dengan nada pelan.

“My Wife...” Ujar Asta sembari tersenyum.

“Oh, I’m Sorry it seem i’m going to deep” Ujar Ku meminta maaf kepada Asta.

“No... is okay, Sometimes i want to talk about this thing” Ujar Asta.

“Well, Let’s drink together” Ujar ku mengajak nya untuk mengobrol panjang sembari menikmati secangkir kopi.

“Okay, I will made my own coffee” Ujar Asta sembari membuat secangkir kopi lagi untuk dirinya sendiri.

Setelah selesai membuat Kopinya sendiri, Asta duduk di konter di sebelahku sembari memegang dan menghirup kopinya.

“Well, It start like this.... A long time ago, i was a person who liked to go for a walk. But one day, I found this cafe. I was very interested in it, so i entered the cafe. At that time, i was so sure that i saw an angel. She is very Beautiful. I also sat in this chair near the counter. I ordered a coffee, she Made it very beautifully and so elegant. I was so stunned by the way she made the coffee. After that time i always often go to the cafe, chilling, and drinking coffee. The average Customer who was there was erderly. I try to be brave and asked her name. Then, in such a soft tone she said her name was Luna. I remember it means Moon in Latin. Year after Year, I try to be brave again to propose to her. She accepted me too, I was so happy. I also took care the cafe, learning how to make a refreshing coffee. And one day There is a good news, she is pregnant. I am so aware and carefull about it. But...... fate said otherwise. She died with the baby in her womb because she had a disease which made her very weak. Although i already notice some of the sypmtom at my first time meeting her. After that events, i was so Devastated, crumble, and i cried not accepting the view in front of me. I returned to home after the funeral of my wife. When i was starting to sleep all day to forgot what happen, i saw a letter that was right next to my bed. It writtens as,

‘My dear Beloved, I actually thought every night whether i would survive or not, i did not have the courage to reveal it to you.... when we first met, i had an illness that made my endurance gotten so weaker.

At first i was afraid to accept your love for me, because i didn’t want you to suffer just because of my departure. However, seeing you fighting for my heart, melted me and i decided to accepted you. I don’t want to see you cry and blaming yourself.

I’m sorry, that i hurt you. I’m Sorry that i can’t be with you, i’m sorry that i can’t always love you, i’m sorry, i’m sorry, i’m sorry.

But please.... live my dear.... i can’t see you suffering... so please live.... i want you to be always happy with or without me... i know it was hard....but i will always see you from here, so don’t said that you were alone. Just remember, i, wherever i was, will always love you my dear...

Thank you my dear, you are a man who really encourage me to keep fighting :)’

Loved, Luna.” Jelas Asta yang menceritakan cerita yang menyedihkan tersebut.

“Ah, i’m sorry you just a hearing a sad st--” Ujar Asta yang perkataannya terpotong karena melihat ku yang mengeluarkan air mata.

“I’m.... i’m sorry” Ujar Asta menenangkan ku.

“No... is not that... i was so moved by you, Asta. You are very strong although that happening to you.... i don’t even know what will i do if i ever felt that” Ujar ku yang menghapus air mata ku dan meminum espresso ku yang sedikit mendingin.

Asta pun tersenyum dan berkata, “Thank you dude, you want to hear this weak man telling a story”

“No... that story was precious” Ujar ku.

Aku dan Asta pun melanjutkan obrolan kami. Perasaan sedih yang sebelum nya terasa menjadi perasaan yang nyaman dan kebahagian. Walau begitu air mata yang terngalir masih tetap membekas.

* * *

“Thank you for your time... i never felt that in a long time” Ujar Asta yang tersenyum hangat kepada ku.

“No, i was the one that to thank you...” Ujar ku yang memberi salam pamit kepada Asta.

“Oh yeah, although i’m going back here. I will be here again, that was fun” Lanjut ku yang memberi salam terima kasih sekali lagi kepada Asta.

“Yeah.. You are Welcomed” Ujar Asta.

Aku pun keluar dari kafe dan pergi kembali ke kantor ku.

* * *

Beberapa hari telah berlalu, Kami pun sudah memulai pekerjaan kami yaitu membuat Sebuah cerita. Disini Ariq sudah membagikan peran masing – masing. Yaitu, Raisa di bagian Story, Tiara di bagian Editing, Hafid di bagian Ilustration and Final editing, Aku di bagian Pembuatan cover dan back cover, sedangkan Ariq yang akan mengawasi dan mengatur proses pembuatan. Semua orang sudah sibuk dengan kerjaan masing – masing. Sementara itu aku hanya menatap Langit – langit dengan tatapan kosong.

“Ummm.... apakah ada yang bisa dibantu?” Tanya ku yang berusaha mencari kerjaan.

“Untuk sementara, tidak ada” Ujar Raisa yang menolak ku.

“Yaudah, tolong print file ini di ruangan sebelah” Ujar Ariq sambil menjulurkan Flash disk kepada ku.

Aku pun menerima Flash disk tersebut dan Pergi ke Ruangan sebelah.

“Apakah cara yang kita lakukan efektif?” Pikir ku sembari memulai mencetak file yang di berikan oleh Ariq.

“Bukannya aku tak percaya kepada Raisa... hanya saja apakah ini efektif?” Pikir ku sekali lagi sembari Berjalan kembali ke Ruangan Kerja dan memberi kan printnan yang di minta oleh Ariq tadi.

Proses pembuatan Cerita pun kembali berlangsung. Aku pun kembali lagi menatap kekosongan dan kefokusan dari orang lain.

“Apakah ada yang bisa dibantu?” Tanya ku kepada Raisa sekali lagi.

“Belum ada...” Ujar Raisa yang kembali menolak ku lagi.

Aku pun bingung ingin melakukan apa. Aku pun memutuskan untuk membeli Mereka minuman hangat dan camilan.

Seperti biasa aku pun pergi ke Kafe Estelle.

“Good night, I want to order as usual. Please” Ujar ku yang menyapa Asta dan duduk meluruskan pinggang ku.

“Woah, hello there. Tired day?” Tanya Asta yang melihat diriku kelelahan.

“Rather than called it tired, it called Bored” Ujar ku sembari menguap.

“Hahahaha.... It’s 20:00 pm and you guys still working huh” Ujar Asta sembari memberikan ku Roti.

“Yeah problably done at 22:00 pm” Ujar ku yang menyantap roti pemberian Asta.

“Phew, don’t forget to sleep” Ujar Asta yang memberikan pesanan ku.

“Yeah, thanks” Ucap pamit ku setelah membayar pesanan tersebut.

Aku pun kembali setelah membeli beberapa Roti, kopi, dan minuman hangat untuk yang lainnya.

Memberikan masing – masing pesanan, aku pun duduk kembali ke meja kerja ku sambil meminum Kopi hangat ku.

Aku pun kembali mencari kerjaan di komputer ku dan memutuskan untuk menonton film saja.

Tanpa disadari waktu pun berjalan cepat, waktu telah menunjukkan pukul 22:00. Kami pun mulai meringkas barang – barang kami dan pergi kembali ke asrama.

* * *

2 Hari telah berlalu dan Akhirnya cerita yang dibuat kami pun telah selesai dan dikirim kan ke Studio. Sekarang hanya menunggu hasil, aku pun pergi berjalan – jalan di taman bernuansa Salju tersebut.

Aku pun duduk di bangku taman mengangkat salah satu kaki ku dan meminum kopi pesanan ku.

“Aku sudah meminum kopi selama 5 hari berturut – turut. Oh perut ku, aku minta maaf” Pikir ku yang meminta maaf kepada perut ku.

Tiba – tiba turun bintikan Hujan salju yang perlahan turun.

“Ah Hujan....” Gumam ku melihat salju yang perlahan – lahan turun.

Aku pun memutuskan untuk pergi kembali untuk melihat apakah hasilnya sudah ada atau belum. Saat memasuki ruangan Terlihat Muka Hafid, Ariq, dan Tiara yang masam.

“Ada apa?” Tanya ku yang penasaran.

“Kita tidak terpilih.... Raisa pun menyalahkan dirinya sendiri dan pergi” Ujar Ariq membersih kan matanya dengan tangannya.

Aku pun terkejut dan bertanya, “Dimana dia sekarang?”.

“Dia pergi keluar kemungkinan berada di dekat pohon sebelah taman” Ujar Ariq memberitahu.

Aku pun dengan sigap pergi ke sana sembari membawa payung. Aku yang berlari pun menemukan Raisa sedang duduk terjongkok di dekat pohon tersebut. Aku pun mendekatinya dengan perlahan sembari membuka payung untuk melindungi nya dari Hujan salju yang sedang turun.

“Ada apa?” Tanya Ku kepada Raisa yang sedang temurung.

“Tidak, Tidak apa – apa” Ujar Raisa menjawab pelan.

“Kemana Perempuan bersemangat itu pergi?” Tanya ku Tersenyum.

“Entahlah” Ujar Raisa yang cemberut.

“Kita tak terpilih ya...” Ujar ku mendongak.

“Iya benar..... Aku hanyalah orang yang tak berbakat” Ujar Raisa sembari menutup mukanya dengan kaki nya.

“Tak perlu begitu..... Walaupun kita gagal is about the memory isn’t it?” Ujar ku menghibur Raisa.

“Tetapi bukannya lebih enak bila kita menang? Tapi aku pun gagal untuk mendapatkan juara Tersebut” Ujar Raisa.

“Begitu ya.... Ya sudahlah..... Hey kau tahu, perut ku sedang lapar apa kau tidak?” Tanya ku menawarkan.

“Tidak...” Ujar Raisa tapi perutnya berkata lain.

“Wah lihatlah ini, aku merasakan dejavu” Ujar Ku Tertawa.

“Mau makan? Aku tau tempat  yang enak untuk mengistirahatkan pikiran mu” Lanjut diriku menawarkan ku.

“Kau yang traktir?” Tanya Raisa mendongak ke arah ku.

“Eits, tunggu dulu. Biarkan aku melihat isi dompet ku dulu” Ujar Ku melihat ke dalam dompet ku.

“Yep, Cukup. Mau?” Tanya ku setelah melihat beberapa uang didalam dompetku.

“Okeh ayo...” Ujar Raisa sembari berdiri.

Raisa pun terbangun dan aku pun memberikan payung kepada dirinya.

“Kau tak dingin?” Tanya Raisa.

“Aku? Tidak, aku orangnya Tahan dingin kok” Ujar ku sembari memberitahu kepada yang lain untuk berkumpul di Kafe Estelle.

Di kafe Estelle, Terlihat Hafid, Ariq, dan Tiara sudah berkumpul didalam.

“Kau udah enakan?” Tanya Tiara.

“Sudah....” Jawab pendek Raisa.

Mereka pun duduk bersama – sama.

Aku pun berdiri dan berkata, “Baiklah Teman – teman, Hari ini aku yang bayar kok... pesan lah tapi sewajarnya ya... karena uang ku bisa habis kalo kalian tidak sewajarnya ya” Ujar ku tersenyum meminta tolong.

“Eits, tidak boleh gitu. Kita bebas teman – teman” Ujar Raisa memulai memesan makanan dan yang lainnya.

Setelah memesan aku pun pergi ketempat Asta.

“Here the orders.... How much.. the total?” Ujar Ku bertanya kepada Asta.

Asta pun mengeluarkan nota dari pesanan kami yang menunjukkan total harga dan aku pun sangat terkejut karena total Uang yang perlu dibayar sangat pas dengan uang yang ku punya sekarang. Aku pun secara ikhlas dan tak ikhlas membayar makanan tersebut.

Kami pun mulai menyantap makanan, melupakan kejadian yang tidak mengenakkan tadi. Setelah makan kami pun pulang kembali ke asrama.

Didalam asrama Laki – laki, aku pun berbaring dan bertanya kepada Hafid dan Ariq, “Apa kalian keberatan?”.

“Tidak.... sama sekali tidak” Jawab mereka berdua.

“Aku penasaran apakah kalian Mempunyai cerita sendiri yang begitu kalian ingat” Aku pun duduk di karpet dan memulai sebuah topik.

Ariq dan Hafid pun ikut duduk di dekat ku membentuk sebuah lingkaran kecil.

“Ya, Aku ada” Ujar Ariq.

“Kau Hafid?” Tanya ku menghadap Hafid.

“Ada juga....” Ujar Hafid.

“Boleh kah aku mendengarkan cerita kalian?” Ujar Ku yang penasaran.

“Baiklah, aku duluan ya...” Ujar Ariq yang pertama kali memulai cerita.

“Dahulu kala, saat diriku masih berada di kelas 8 SMP. Aku adalah orang yang begitu disegani dan terkenal karena aku adalah seseorang yang aktif dan serbabisa. Aku pun memiliki banyak teman dari kalangan laki – laki sampai perempuan. Tetapi pada suatu hari, aku terkena fitnah oleh salah satu teman laki – laki ku. Sampai – sampai, aku pun terpanggil oleh guru BK dan orang tua ku juga diberitahu. Pulang dari sekolah dengan muka murung, terlihat kedua orang tua ku yang sudah mulai membentak ku. Jujur saat itu aku mau berteriak, tetapi nampaknya  aku tak berani saat itu. Aku pun masuk kedalam kamar ku dan memilih untuk tertidur. Keesokannya, aku kembali ke sekolah dan benar saja ekspetasi ku sesuai dengan realita. Mereka menjauhi ku, menjilatku, dan sama sekali tidak memperdulikan ku. Kesan terkenal yang awal nya kumiliki sirna dengan instan. Aku yang stress pun pergi membolos untuk pertama kali nya di suatu lapangan kosong. Saat itu, aku hanya duduk termenung memikirkan kapan ini akan berakhir. Lalu datanglah seseorang yang ku kenal, dia bernama Ryan. Ryan adalah seseorang yang misterius. Dia benar – benar berbanding terbalik dengan ku. Ryan pun duduk di sebelah ku.

‘Hari yang berat?’ Tanya Ryan kepadaku.

‘Iya begitulah’ Ujar Ku yang sudah malas memikirkan hal tersebut.

‘Yah... mereka sudah menunjukkan tanda – tanda sih’ Ujar Ryan.

‘Maksud mu?’ Tanya ku yang bingun akan perkataan dirinya.

‘Mereka sudah dari awal bukan teman aslimu...’ Ujar Ryan tanpa di rem.

Entah mengapa walau sebenarnya kata itu tidak ada unsur mengejek tapi hal tersebut sedikit menusuk.

‘Tapi kau tahu.... Aku tak pernah berpikiran kamu melakukan itu’ Ujar Ryan bangun dan tersenyum padaku.

‘Aku tau Sebenarnya kau tak melakukan itu kan’ Ujar Ryan.

Perkataan Ryan sungguh begitu dalam bagi ku. Hal tersebut sungguh meringankan beban diriku.

‘Bangunlah, Kau tahu hidup itu adalah milik kita masing – masing. Jadi, daripada melihat orang lain dulu lebih baik pikirkan dirimu sendiri terlebih dahulu. Jadi jangan sampai menjadi alat bagi orang lain tapi, jadilah Seorang yang dapat menggunakan kemampuan mu dengan baik agar tak mudah dimanfaatkan’ Ujar Ryan.

Aku tau dia adalah seorang Introvert yang sangat pandai menganalisa orang. Aku pun tersenyum dan bangkit dari kertepurukan ku. Kami pun sampai sekarang merupakan teman yang sangat menutupi kedua kelemahan masing – masing. Aku masih sering mengejek nya dan yah.... kami fokus ke jalan kami masing – masing” Ujar Ariq yang menceritakan Ceritanya.

“Waw... jadi kalian menjadi kedua sahabat yang saling menutupi kelemahan kalian satu sama lain?” Tanya ku yang terkagum akan cerita Ariq.

“Yah betul, ku berikan contohnya. Misalnya aku adalah seseorang yang kurang peka terhadap sekitar bahkan aku tak dapat menemukan titik lemah dari seseorang. Tapi dia, Ryan. Dia memiliki kemampuan analisis yang bagus, aku pun selalu meminta saran dengan dia. Tapi dia juga memiliki kelemahan yaitu dia kurang dapat menemukan sumber karena sifatnya yang canggung dan susah untuk Bergaul. Disitulah aku come to play” Ujar Ariq menjelaskan.

“Wah, keren” Aku yang tersenyum bangga mengetahui hal tersebut.

“Sekarang giliran mu Fid. Bagaimana dengan kisahmu?” Ujar Ku.

“Aku ya... aku dulu mempunyai seseorang pacar dia bernama Amelia , kami saat itu masih SMA. Kami adalah pasangan yang sangat cocok. Kami menghibur satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. intinya aku adalah seorang pria yang bahagia saat itu. Tapi semua itu berubah, ketika Amelia disuruh suruh oleh temannya untuk bergaya modis lah. Untuk bersifat kayak gini kayak gitu. Judging tersebut pun terus berlangsung dan itu merubah dirinya. Dia memakai make up dan bergaya modern. Aku sudah bertanya kepada dia, ‘Apakah kau nyaman?’ dia hanya mengangguk. Sampai suatu saat, dia pun sudah lelah. Lelah dengan perlakuan ini. Lelah dengan memakai ini itu. Dan akhirnya dia memutuskan diriku.

Berjalan ke kuliah, kebetulan kami berada di kuliah yang sama. Aku pun memiliki 2 teman bernama Theo dan Gibran. Saat itu aku masih mau untuk tetap menjaga tali silahturahmi kami berdua tapi dia tetap saja menghindari diriku. Suatu ketika dia telah memiliki lelaki yang baru. Aku pun hanya dapat melihat di balik bayangan.

Tetapi, saat aku berjalan menuju ke kantin untuk membeli makanan. Aku mendengarkan percakapan cowok tersebut bahwa dia hanya mengencaninya guna untuk memanfaatkan dirinya. Mendengar hal tersebut sontak membuat ku marah dan berkelahi dengannya. Aku menang, tetapi dengan bayaran Amelia melihat ku dengan tatapan marah.

‘Cukup.... cukup kau resahkan hidupku’ Ujar Amelia yang begitu marah kepadaku.

Aku hanya bisa menerimanya dengan tatapan kosong dan tak begitu peduli dengan perkataanya. Aku pun mulai saat itu mengawasi dirinya dalam bayangan. Terlihat senyumannya yang sudah kembali. Sampai akhirnya aku yang sudah berumur tiba – tiba diundang ke pernikahan oleh temanku, Theo. Melihat undangan tersebut aku terkejut melihat nama pengantin perempuannya, yaitu Amelia. Aku pun hanya bisa melihat betapa bahagianya dia dengan teman ku. Tetapi entah mengapa melihat bahwa dia akhirnya dapat bahagia, membuat ku tersenyum karena akhirnya aku pun terbebas dari kekangan yang selama ini menganggu dan membebaniku. Aku pun pergi kembali ke rumah ku dan tersenyum.

Dunia memang tak selalu adil, tapi ku yakin menyaksikan dirinya bahagia membuat ku terbebas dari kutukan yang selama ini mengekang ku” Ujar Hafid yang bercerita.

“Jadi... bagaimana kondisi hubungan mu dengan dia?” Tanya ku yang sedikit merasa kasihan kepada Hafid.

“Aku dengan dia? Yah... dia masih saja menghindari ku jadi ya nampaknya kami tidak dapat bertemu lagi” Ujar Hafid tersenyum.

“Sedangkan kau dan Theo?” Tanya Ariq yang juga penasaran.

“Aku dengan dia juga sudah jarang kontakan.... nampaknya dia sudah sibuk dengan urusannya” Ujar Hafid sembari menguap.

“Begitu ya...” Ujar ku menunduk.

“Baiklah nampaknya sudah malam mari akhiri omongan hari ini” Ujar Ariq.

Kami pun akhirnya kembali keposisi tidur masing – masing dan tertidur mengakhiri obrolan panjang tersebut.

* * *

Keesokan harinya, kami pun tetap berkumpul di Ruangan yang sama ketika kami bekerja. Terlihat Raisa yang begitu lesu menghadap ke arah langit – langit.

Tiba – tiba, datanglah Ariq dengan tergesa – gesa.

“Hah, hah, hah... semuanya dengarkan!” Ujar Ariq yang terengah engah.

“Ada apa?” Tanya ku yang bangkit dari tempat duduk ku.

“Tadi setelah hasil rapat, diinfokan bahwa yang tak mendapatkan kemenangan tadi di berikan kesempatan kedua. Jadi awal nya yang 50 tim di pilih 20 tim yang akan dibukukan tetapi karena posisi kita adalah rank 22 kita pun di berikan kesempatan 2 untuk mengirim lagi 1 cerita yang berkesempatan untuk di bukukan” Ujar Ariq memberitahu kami.

Mendengar hal tersebut, mood kami pun menjadi naik. Kami pun kembali bersemangat untuk bekerja lagi.

“Sebelum itu, aku mempunyai Saran. Daripada 1 orang yang membuat cerita kenapa tidak kita berlima membuat cerita nya bersama – sama. Aku tau Raisa kemarin sudah berusaha tetapi kekecewaan tersebut hanya dibebani oleh satu orang. Jadi bila kita gagal, artinya kita telah gagal bersama. Dan itu malah membuat memori yang indah di benak kita” Ujar ku memberi saran.

“Selain itu walaupun proses nya berlangsung lebih lama daripada trik yang kita pakai sebelumnya. Tetap saja pematangan cerita nya akan lebih matang daripada dikerjakan sendiri” Lanjut diriku menjelaskan.

“Jadi, bagaimana? Apakah kalian menerima saran dari Arif?” Tanya Ariq melihat sekitar.

Hafid, Raisa, dan Tiara pun mengangkat tangannya menunjukkan bahwa mereka sangat setuju dengan saran ku.

“Baiklah kita mulai kembali, cerita baru, awalan baru, dan kali ini kita tak sendirian tapi secara bersama – sama” Ujar Ariq tersenyum.

Kami pun mulai bekerja secara bersama – sama. Membuat skenario dan sketsa dari Cerita tersebut.

Menyeruput kopi dan minuman hangat, memakan roti dan sup, tanpa sadar tertidur di kantor, bersantai di kafe Estelle, bersenda gurau dengan Asta meningkatkan silahturahmi, Tertawa bersama, Mengobrol bersama, curhat bersama, dan pada akhirnya Cerita yang berjudul “Amnesia & Memories” pun telah selesai dan dikirim.

Waktu demi waktu berjalan sangat cepat. Hari penentuan yang begitu ditunggu – tunggu pun datang. Raisa yang terlihat ketakutan pun membuka matanya perlahan – lahan. Aku pun juga membuka perlahan – lahan mata ku untuk melihat hasil pemilihan.

Dan betapa terkejut nya kami berlima, nama cerita Amnesia & Memories pun berada di top 1 teratas sebagai buku yang akan dibukukan.

Kami pun melihat satu sama lain dan sontak bergembira atas apa yang terjadi.

“Kita berhasil... kita benar – benar berhasil” Ujar Raisa yang begitu terharu akan apa yang terjadi.

“Kau lihat itu, Sa? Kita berhasil” Ujar ku yang begitu senang.

“Hahaha.... baiklah Kita rayakan di Kafe Estelle. Hari ini gantian aku yang traktir” Ujar Ariq yang mengajak kami.

“Hahahah” Ujar Ku yang tertawa.

Kami pun akhirnya membagikan Kesenangan ini kepada Asta dan kehangatan tersebut terus terasa di Dalam Kafe tersebut.

Pada malamnya, Aku sedikit termenung melihat kearah langit – langit memikirkan sesuatu.

“Apa yang kau pikirkan, Rif?” Tanya Ariq yang melihat ku termenung.

“Aku hanya memikirkan... how you confess?” Ujar Pendek dari ku

“Apa? Confess? Wah gak bilang – bilang ini.. ayo cerita” Ujar Ariq yang terkejut.

Hafid pun bangun dari posisi tidurnya dan ikut mendengarkan.

“Ceritanya... aku ingin melamar Raisa” Ujar ku yang menatap serius.

“Apa...” Ujar Hafid yang terkejut.

“Apa aku terlalu berlebihan ya?” Tanya ku yang mulai ragu.

“Tidak, tidak juga. Kau sudah banyak menolong dirinya bukan? Hanya saja keberanian mu itu patut aku ancungi jempol” Ujar Ariq memuji diriku.

“Kemungkinan besar kau akan diterima. Karena kau adalah seseorang yang serius dan berani begitu” Lanjut Ariq yang menjelaskan.

Kami pun mulai mengobrol tentang pemberian lamaran dan lain – lain. Tanpa disadari, aku sudah tertidur.

* * *

Liburan pun telah tiba, Kami pun bersantai dan menikmati musim salju yang pertama kali kami rasakan. Kami pertama tama berjalan - jalan di taman, bersantai dan menikmati suasana dingin di London tersebut.

Tanpa disadari, Ariq melempar bola salju ke arah diriku yang tepat mengenai dadaku. Tak mau kalah, Aku pun dengan sigap membuat bola salju dan melempar nya ke arah Ariq. Perang salju diantara para laki – laki pun dimulai. Tetapi, karena keseruan yang kami alami. Tanpa di sadari, salah satu bola yang ku lempar nyasar dan mengenai tepat di belakang kepala Raisa.

Raisa yang terkena berbalik ke arah ku dan berkata, “Nampaknya kalian seru sekali bermain” dengan tersenyum.

Kami pun habis di marahi oleh Tiara dan melanjutkan liburan kami.

Kami pun berjalan menuju ke jembatan Westminster. Jembatan ini begitu cantik, lalu terlihat keindahan Kota London ketika dikala Musim Salju ini.

Di atas jembatan yang tertutup salju, Kami melihat pemandangan indah Big Ben dan kota London yang tertutup salju. Selain itu, terlihat pemandangan keindahan Sungai Thames.

Tetapi suasana yang sangat dingin tersebut, membuat kami tak begitu tahan berlama – lama disana dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami.

Setelah menyeberangi jembatan Westminster sampailah kami di daerah SouthBank. Kami berjalan memijaki Jalanan yang di tutupi salju, terlihat suasana ramai dan langit gelap tetapi di cahayai oleh Lampu – lampu yang ada di tempat tersebut.

Itu adalah Winter Festival, banyak orang – orang bermain Ice Skating, Meminum anggur, dan bersantai.

Aku pun mengajak yang lain untuk mencoba Ice Skating yang sedang dimainkan banyak orang tersebut.

Bermain ice skating tersebut begitu sulit. Aku hampir terjatuh berkali – kali dan membuat ku sedikit takut untuk berjalan keluar dari pegangan ini.

Terlihat Hafid yang begitu lincah memainkannya,

“Hey, bagaimana kau sudah begitu jago dalam memainkan tersebut?” Tanya ku melihat sinis ke Hafid.

“Entahlah, Mungkin aku punya ‘Bakat alami’” Ujar Hafid dengan nada Sombongnya.

“Ah sial..” Gumam pelan ku.

Susul Ariq dan Raisa yang sudah mulai bisa ikut bermain. Tertinggal aku yang masih terjebak di Pegangan pengaman.

Aku pun memutuskan untuk duduk melihat mereka bermain sembari mengambil kopi ku dan menyeruputnya,

“Wah.. sudah beberapa hari aku minum kopi terus? Maafkan aku ya Perut tapi coffee is just to good man”  Pikir ku yang sekali lagi memegang perutku.

“Nampaknya mereka bersenang – senang” Pikir ku melihat ke arah mereka.

“Hey!! Ah Arif penakut...” Ujar Raisa mengejek ku.

Aku pun tersenyum dan berkata, “Sudahlah, aku tak bisa bermain itu. Bagi ku itu sedikit menyeramkan”

“Wah, Arif gak seru...” Ujar Balik Raisa.

“Ya sudah mari kita pergi ke destinasi selanjutnya” Ujar Ariq yang juga mulai menyusulku.

“Ya... betul juga dalam hitungan jam sebentar lagi mau tahun baru...” Pikir ku yang beranjak dari kursi dan ikut menyusul dengan yang lain.

Kami yang memutuskan untuk keluar melihat ke arah tempat berlangsungnya festival. Terlihat keramaian yang sedang menunggu tahun baru.

Aku pun melihat ke arah ponsel ku dan jam menunjukkan pukul 11:02 PM. Ariq dan Tiara pun memutuskan untuk melihat – lihat jajanan yang kemungkinan bisa dibeli untuk dijadikan oleh – oleh kenangan.

Hafid yang sendirian memutuskan untuk duduk di bangku taman untuk bersantai sembari menikmati teh nya.

Akhirnya tersisa aku dengan Raisa berdua. Aku pun memutuskan untuk mengajak Raisa berjalan – jalan. Aku pun mengajak Raisa untuk menaiki London Eye atau Kincir Ria sebagai bayaran ku yang tidak bermain Ice skating tadi.

Aku pun memesan tiket dan menaiki Kincir Ria tersebut bersama dengan Raisa. Terlihat suasana Ramai ketika mengantre giliran untuk masuk ke dalam London Eye. Pada akhirnya, Kami berdua pun memasuki Kincir Ria tersebut.

Terlihat suasana London yang begitu terang dan indah dari Atas London Eye tersebut. Setelah melihat pemandangan tersebut aku pun menatap ke arah Raisa. Terlihat dia begitu takjub yang serius menatap ke arah Pemandangan Big ben dan kota London yang begitu terang tersebut.

“Bukannya ini merupakan pemandangan yang bagus untuk di foto?” Ujar Raisa yang begitu kagum melihat Pemandangan tersebut.

“Yah.. kau benar” Ucap ku yang melihat ke arah Raisa.

“Kau tahu suasana ini begitu menyenangkan bukan?” Ujar ku Tersenyum.

“Ya.. betul..” Ujar Raisa yang ikut tersenyum.

Raisa pun menghadap ke arah ku dan berkata, “Banyak hal yang kita lalui ya...” Sembari sedikit tertawa kecil.

“Yah kau benar, aku sedikit kerepotan lho memperbaiki mu yang sedikit rusak beberapa hari lalu” Ujar ku mengejek Raisa.

“Ya, ya. Maafkan aku, saat itu aku seorang gadis yang lemah. Apakah aku sudah bilang terima kasih? Kalau belum terima kasih ya..” Ujar Raisa yang tersenyum pada ku.

Tapi senyuman itu, itu senyuman sarkas. Kadang aku harus tau kapan aku harus rem atau tidak.

“Tetapi aku juga tidak menyangka kita akan dapat memenangkan lomba tersebut” Ujar Ku yang sedikit menghembuskan nafas.

“Aku juga. Tapi itu adalah berkah yang begitu menyenangkan” Ujar Raisa juga sangat senang akan berita kemenangan tersebut.

Tak terasa 30 menit berlalu, kami pun keluar dari London Eye dan kembali berjalan – jalan. Aku dan Raisa pun melanjutkan jalan – jalan disekitar festival tersebut.

Rupanya kami berjumpa dengan orang yang kami kenal dijalan yaitu, Asta.

“Oh Hey Asta!” Ujar ku menyapanya.

“Whoa, hello Arif and you too Raisa” sapa Balik Asta.

“Yeah Hello too” Jawab balik Raisa.

Asta pun merangkul ku dan berbisik, “So this is the girl huh... Good luck”

“Ehhh..” Bisik ku yang terkejut.

“Thank you Asta” Ujar Ku yang melepas rangkulan tersebut.

“Yep” Jawab pendek Asta.

Aku dan Raisa pun melanjutkan perjalanan kami berdua dan sampai lah kami di suatu spot yang tak terlalu ramai mempersiapkan diri untuk melihat kembang api.

“Kau tahu Arif, aku benar – benar berterima kasih atas ucapan mu pada hari itu. Aku tidak tahu harus apa bila kau tak membantuku” Ujar tulus Raisa.

“Hahaha, tidak hal itu bukan apa – apa” Jawab pendek dari ku.

“Kau tahu takdir dulu pun akhirnya bersemi kembali. Ingat saat diriku masih kecil dan SMA kau lah yang menyelamatkan ku dulu. Entah kenapa itu terasa nyaman” Ujar Raisa sembari memegang tangannya yang berlapis sarung tangan tersebut.

“Aku juga begitu senang melihat mu yang akhirnya tertawa dan kembali tersenyum. Sebenarnya aku sempat takut kau butuh waktu lama untuk menyembuhkan diri” Lanjut Raisa yang melihat ke arah ku.

“Aku sebenarnya bukan orang yang kuat juga... aku hanyalah seorang yang lemah dan mudah menangis. Aku bukan seperti seorang pangeran yang dapat di andalkan atau pun aku bukan seperti lelaki – lelaki yang sangat kuat luar sana” Ujar diriku yang menghadap ke arah langit.

“Aku kurang dapat dihandalkan, aku begitu lemah dan sensitif, aku orangnya hanya dapat melihat dan memperhatikan, aku hanya selalu menunduk, dan dibanding lelaki diluar sana mungkin aku hanya golongan kelas E” Lanjut diriku sembari tersenyum ke arah Raisa.

“Tidak! Kau itu sangat berharga, begitu berharga. Tanpa mu mungkin aku tak bisa bangkit dari keterpurukan, tanpa mu suasana hangat di Kelompok Sastra kecil ini tidak akan terbentuk, dan tanpa mu.... mungkin kami.... kami tidak akan terlalu mendapatkan momen berharga ini. Memang kalo dilihat dari luar kau hanyalah seorang lelaki kelas E, tetapi begitu sudah dekat denganmu..... kau adalah orang yang paling baik” Ujar Raisa yang memarahi ku.

Mendengar ucapan tersebut aku terdiam, lalu terasa jantung ku berdegup semakin cepat, dan dada ku terasa ada yang ingin keluar.

“Kau tahu.... saat itu aku kira hidup ku benar – benar hancur dan berantakan. Tetapi, ketika diriku yakin semuanya telah berakhir. Tiba – tiba, datang lah seseorang yang membuat diriku kembali tersenyum, kembali memiliki keyakinan untuk tetap hidup... selama ini perjalanan yang ku alami dan kisah orang yang begitu menyedihkan membuat diriku takut. Takut akan berakhirnya momen ini dan Takut aku takkan mengalami hal seperti ini kembali. Tetapi, sebuah bulan kecil selalu saja menghangatkan ku dan memberikan secercah keyakinan untuk tetap hidup. Jadi, Raisa. Perasaan yang selama ini ku tahan sudah tak bisa ku tahan lagi. *tangan ku pun memegang ke arah tangannya* Satu – satunya hal yang bisa ku janjikan padamu saat ini adalah hatiku yang begitu tulus mencintai mu. Jadi, maukah kamu tuk menjadi pilihan ku? Menjadi yang terakhir dalam hidup ku... Maukah kamu tuk menjadi yang pertama? Yang selalu ada di saat pagiku membuka mata?” Tepat saja setelah selesai berbicara seperti itu, terlihat kembang api yang menghiasi angkasa malam tersebut. begitu indah cahaya yang menghiasi langit malam pada kala itu.

Tatapan ku begitu serius menghadap ke arah Raisa. Tangan ku pun juga serius memegang tangannya. Menanti sebuah jawaban yang di jawab oleh nya.

“Ah....... aku....” Ucap pelan Raisa.

Raisa pun tersenyum dan menghadap kearahku.

“Aku terima” Jawab Raisa yang tersenyum tulus ke arah ku.

Aku yang begitu terkejut pun terjongkok lemas.

“Hah... akhirnya beban yang selama ini ku tahan di dadaku bisa keluar” Ujar ku sembari mendongak keatas melihat ke Arah Raisa.

Malam yang begitu indah tersebut, malam yang penuh akan kenangan tersebut, dan malam yang tak akan terlupakan tersebut begitu indah.

* * *

Beberapa hari sudah berlalu, Perilisan buku dan hadiah sebagai pemenang pun sudah didapatkan. Tak terasa, sudah beberapa minggu di london akhirnya pun sudah kembali ke rumah.

Disini lah pernikahan akan segera dimulai. Aku sudah memberi tahu kepada keluarga Raisa dan Akhirnya acara pernikahan akan segera dimulai.

Aku yang sudah berpakaian rapi yang akan menjadi seorang pengantin pria. Aku menata ke arah cermin. Aku pun tersenyum dan menatap lesu ke arah muka ku.

Setelah itu aku pun beranjak dari tempat duduk dan pergi keluar.

Aku pun duduk sekalian menunggu para keluarga pengantin perempuan.

Sudah 1 jam berlalu belum ada yang datang, aku pun pergi mengambil air putih untuk minum dan duduk kembali.

1 jam lagi pun berlalu, aku pun mulai merasa tidak enak dan menyuruh Hafid untuk menghubungi mereka.

Dan 1 jam lagi pun berlalu kembali, muka ku sudah menunjukkan tanda – tanda kekhawatiran, Jantung ku juga berdegup lebih kencang.

Tiba – tiba, Handphone ku berbunyi. Aku pun segera mengangkat telepon tersebut dan begitu terkejut nya aku. Aku pun menyuruh Hafid untuk segera bersiap – siap dan pergi menggunakan mobil.

Dengan ngebut kami pun akhirnya sampai di tujuan yang di bilang. Aku pun terburu – buru lari melewati pintu dan pintu lainnya.

Dan sangat terkejut melihat pandangan yang ada di depan ku. Saat itu aku melihat, Ariq yang sedang panik, Tiara yang sedang menenangkan keluarga Raisa, dan Keluarga Raisa yang sedang menangis. Lalu terakhir berada di tempat tidur yaitu Raisa dengan berlumuran darah.

Aku pun bergerak cepat menghampiri Raisa. Jantung ku rasanya mau meledak. Aku pun memegang tangan Raisa.

“Hey, Raisa.... kau tahu, kita pasti akan mewujudkan mimpi tersebut kan. Kau tahu aku saja belum menepati janji ku lho, Tolong sebelum aku menepati janji ku untuk tetap hidup.....” Ujar ku yang perlahan suara ku bergetar.

Ar....if.....Jan......gan.....se.....dih.....kau.....har....us.....te....ta...p......hi....du...p” Ucap Raisa dengan nafas terengah dan suara yang begitu pelan dan Bergetar.

“Raisa... kumohon....Jangan tinggalkan aku... tolong.......jangan saat diriku ini baru saja menemukan keyakinan...” Ujar Ku yang suara ku bergetar hebat.

Me...mang......ta....pi.......ka.....u.......ha.......rus........ba.....ha.....gi......a....de....ng......an......ku.......a......ta....u.............ti......dak......”

“Kumohon Raisa! Jangan, Jangan, jangan, jangan, jangan!”

“A.......ku.......tak.......kan..........per.......gi......kok.......a......ku............ak......an...........se.....la........lu.......ber........sa........ma.......mu..........” Setelah mengucapkan hal itu Raisa pun menghembuskan napas terakhirnya dengan tersenyum.

Aku hanya terdiam melihat itu, aku terjatuh, dadaku tiba – tiba terasa lemas, tiba – tiba aku merasakan ada yang mengalir di wajahku.

“Apa yang sedang terjadi?” Pikir ku.

“Hari ini kita akan berbahagia kan” Sembari melihat ke arah Raisa.

“Hahahahaa......hahahhaha..hahhahaa........Aku........sama.......sekali.......tak mengerti......”

Perasaan yang begitu meluap di dalam tubuhku memecah pikiran dan realiti yang sedang ku hadapi.

Waktu berjalan. Aku menghadap ke arah acara pemakaman yang sedang terjadi.

“Apa yang terjadi? Mengapa aku disini? Aku tak mengerti....”

Tersisa diriku sendiri di pemakaman tersebut. Aku menatap dengan tatapan kosong dan hampa ke arah makam tersebut.

“Raisa....kau.....dimana....”

Aku pun tersenyum dengan mata ku yang berair itu.

“Begitu ya...... aku..... tak.....di perbolehkan........untuk........bahagia.......happy ever after they said?........”

Aku pun pulang dan masuk ke dalam kamar memproses apa yang terjadi.

“Happy ever after? Itu bukannya seperti cerita yang bahagia?” Terdengar suara di Di antara kegelapan tersebut.

“Diakhiri dengan bahagia? No..... You are only a trash” Sahut suara dari tempat lain.

“Hahahahah..... bahkan eternal happiness pun pada akhirnya lari dari mu....” Sahut lagi suara dari tempat lain.

“Jangan harap kau akan bahagia Arif....” Sahut lagi suara dari tempat lain.

“Kau hanyalah ampas jalanan, kau hanyalah membawa malapetaka kepada orang lain” Sahut lagi suara dari tempat lain.

“Lihat saja, setelah kau mencintai seseorang maka kutukan mu itu akan aktif” Sahut lagi suara dari tempat lain.

“Kutukan apa? Hah omong kosong lebih keren sebutannya adalah takdir” Sahut lagi suara dari tempat lain.

“Jadi........ kesimpulannya adalah kau hanya dilahirkan disini sebagai orang yang akan mati tanpa akhir yang bahagia” Sahut lagi suara dari tempat lain.

“Ucapan Mereka benar...... aku hanyalah sampah yang membawa malapetaka kepada orang lain..... aku memang ditakdir kan untuk hidup tanpa akhir yang bahagia” Ujar Diriku yang telah kehilangan setengah jiwa raga ku dengan lemas.

Tetapi, tiba – tiba datang lah seorang perempuan dengan cahaya yang begitu terang dan Sayap putih nya mendekati diriku.

Wajah itu. Aku mengenali nya itu adalah Wajah Raisa.

“Kau sehat?” Tanya Raisa.

“Mengapa..... mengapa kau meninggalkan ku.....” Ujar Diriku.

“Maafkan... aku....” tiba – tiba Raisa memeluk diriku.

“Aku... aku ingin sekali bersama dengan mu. Melihat dirimu menepati janji. Tetapi takdir berkata lain” Ujar Raisa yang juga mengeluarkan air mata nya.

“Jadi.... apakah aku hanya dilahirkan agar menerima takdir berat ini?” Tanya ku.

“Tidak, Arif. Kau berharga” Ujar Raisa.

Perkataan itu, merupakan kata – kata yang aku ingat. Itulah kata – kata Raisa ketika aku akan melamar Raisa.

“Aku tak mau melhat mu menderita Arif, Aku tak mau melihat mu terus bersedih akan kepergian ku.....”

Kata – kata ini juga, pernah ku dengar saat Asta bercerita tentang masa lalu nya.

“Walau hidup berat, Arif. tapi aku akan..... selalu ada dalam setiap mimpimu.... jika kau mati sekarang..... kita tidak mungkin bertemu.....”

“Dan terakhir kata – kata ini juga pernah ku lihat setelah membaca ending dari Buku ‘Dimulai dengan Cerah, Diakhiri dengan Hujan’. Jadi semua ini terhubung” Pikir ku

Aku pun melepas pelukan Raisa dan berkata, “Aku akan tetap hidup..... terima kasih dan berjanjilah untuk selalu berada dalam mimpiku sampai akhir hayat ku”

“Yah... aku janji” Ujar Raisa tersenyum kepadaku.

Aku pun terbangun dari mimpi panjangku itu. Aku pun pergi menemui teman – teman ku dan berkata, “Ayo, bantu aku penuhi janji ku”

Mereka pun setuju dan kami pun pergi ke acara pemberian selamat atas penghargaan perilisan buku di London.

Disitu aku diberikan kesempatan memberi tahu informasi penting yaitu,

“Aku disini untuk menepati janji ku untuk tetap hidup dan membuat cerita baru berdasarkan pengalaman pribadi yaitu, ‘Keyakinan yang Hilang’” Ujar Diriku.

Sontak hal tersebut pun viral dan menuai banyak dukungan serta doa dari para media massa.

* * *

10 tahun telah berlalu,

“Jadi pak, apa inspirasi yang kau dapatkan tentang buku baru mu?” Tanya Pewawancara.

“Aku penuh akan inspirasi, aku hanya lah seorang manusia biasa yang mencari pengalaman dan kenangan” Ujar Diriku tersenyum.

“Lalu pak, kita tahu buku ‘Keyakinan yang Hilang’ adalah buku yang booming beberapa tahun lalu dan menuai banyak komentar apa reaksi bapak” Tanya pewawancara.

“Booming ya??? Aku hanya ingin menepati janjiku...” Ujar diriku tersenyum lesu.

Akhirnya pun wawancara selesai, aku pun kembali ke tempat tidur dan tertidur.

Aku melihat ke arah sebuah pohon dan terlihat Raisa yang sedang berteduh. Aku pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Kau sehat, Arif?” Tanya Raisa.

“Aku sehat” Jawab pendek ku.

“Kau tahu aku berhasil menepati janji ku 10 tahun yang lalu lho....” Ujar Diriku bersemangat.

“Wah benarkah..... Selamat Arif.... kau pasti lelah kan...” Ujar Raisa yang merasa prihatin.

“Ya.... aku sangat mengantuk” Ujar ku menggaruk mataku.

Aku pun tertidur di pangkuan Raisa.

“Jangan tinggalkan aku ya...” Ujar pelan dari ku.

“Tidak aku masih disini kok....” Jawab Raisa.

“Kau........ masih disana...... Raisa?” Tanya Ku.

“Yah.... Arif..... aku masih disini....” Jawab Raisa.....

“Dampingi.....aku.....ya...selama....masih tidur.....” Ujar diriku memastikan.

“Aku akan selalu mendampingimu Arif....” Ujar lembut Raisa.

 “Aku mencintaimu...” Ujar pelan ku.

“Aku juga mencintaimu....” Ujar lembut Raisa.

“Selamat malam, Arif” Salam Raisa dengan lembut sembari mengelus kepala ku.

“Selamat malam Raisa....” Ujar ku yang perlahan tertidur.

Aku pun tertidur........untuk selamanya.......

THE END

“Manusia akan selalu diperbudak dengan keyakinan mereka masing - masing. tetapi keyakinan itulah yang membentuk setiap pilihan yang di tentukan oleh masing - masing individu. Bila manusia tidak mempunyai keyakinan lagi. Maka manusia hanya bisa termenung tanpa tujuan yang membuat semangat hidup pun meredup”

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RW #1

RW #2