Keyakinan yang Hilang
Keyakinan yang
Hilang
Nama ku Arif, aku adalah siswa
SMP negeri 2. Aku merupakan Siswa yang berprestasi dan pintar. Saat itu, diriku
masih menginjak kelas 1 smp, Saat dimana kehidupan ku masih berbahagia. Kedua
orang tua ku selalu merawat ku. Susah, senang, duka selalu saja kami hadapi bersama.
Aku sangat mencintai mereka.
Tetapi pada suatu hari, aku tiba – tiba dipanggil oleh wali kelas ku. Dia
mengatakan sesuatu yang membuat diriku terkejut. Yaitu Orang tua ku meninggal
karena kecelakaan.
Begitu hancur nya diriku, rasanya
ada yang retak dan pecah didalam pikiran ku. Aku pun sekarang tinggal di suatu
kosan yang dibiayai dengan beasiswa ku. Saat itu, aku benar – benar kehilangan sebuah
tujuan Hidup dan Keyakinan.
Tetapi, bertemulah diriku dengan
seseorang yang sangat menyilaukan ku. Seorang gadis, seumuran dengan ku. Dia
begitu menghangatkan, menyejukkan, dan nyaman bagiku. Sekarang, Aku di temani
oleh 2 teman laki – laki dan seorang gadis yang berharga menurutku. Kami selalu
bersama sampai lulus dari SMA. Aku pun dapat tersenyum kembali. Tertemukan
kembali keyakinan untuk selalu hidup oleh diriku.
3 tahun kemudian, aku sekarang
berumur 21 tahun. Menurut orang – orang, umur ini merupakan umur prima untuk
mencari aktivitas.
Ketika aku bersiap – siap untuk
pergi ke suatu tempat, tiba – tiba aku mendapatkan telepon dari orang tua gadis
tersebut. Aku terkejut dan bingung mengapa mereka menelepon ku. Aku pun
mengangkat telepon tersebut dan setelah mendengarkan perkataan orang tua gadis
tersebut begitu terkejut nya diriku, membuat telepon yang ku penggang terjatuh.
Gadis yang selama ini ku cintai meninggal
karena penyakit yang ia tahan selama 3 tahun terakhir. Aku begitu terpuruk
seperti kehilangan setengah jiwaku.
“Mengapa?
Mengapa harus aku lagi mengalami kesialan ini? apakah ini merupakan Kutukan?
Apa kutukan ini hanya berada pada diriku?” Oceh diriku
yang begitu kehilangan.
Kedua teman ku mencoba
menghiburku, tetapi terdapat niat lain di balik perlakuan mereka. Pada
akhirnya, Aku dikhianati oleh dua orang terpercayaku, aku kehilangan gadis yang
selama ini kucintai, aku kehilangan kedua orang tua ku, aku kehilangan harta
ku, dan aku sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi. Aku pun berjalan dibawah
hujan yang begitu deras, suasana dingin dan basah yang terasakan saat itu
begitu menusuk sampai ketulang. Ku pikir mungkin ini lah takdirku, ku pikir
begini lah kehidupan ku.
Aku menemukan rumah tua tak
berpenghuni di depan ku. Aku pun memutuskan untuk beristirahat sementara
disana, membaringkan dan mengistirahatkan pikiran ku.
Sudah 2 minggu aku hanya
berbaring disitu. Aku kelaparan, letih, dan dada ku terasa begitu sesak. Terasa
begitu berat untuk bernapas yang membuat ku terbaring lemah di tanah rumah tua
tersebut.
Aku berpikir, “Sedih sekali
kehidupan mu, Arif. Lemah sekali dirimu. Apakah diriku akan mati semenyedihkan
ini. Mungkin inilah yang terbaik bagiku”
Tetapi dengan mengejutkan, pintu
rumah tersebut tiba – tiba terbuka. Terlihat beberapa orang yang masuk.
“S...siapa.......itu?.....” rintihku yang perlahan menutup mata.
“Apakah aku
sudah mati? Mungkin tidak karena rasanya aku masih bernapas.....”
“Siapa orang
tadi? Mengapa mereka menyelamatkan ku?......”
“Kenapa..........
aku semenyedihkan ini....”
“Sudahlah....
bangunlah.....” Suara tersebut memecahkan semua pertanyaanku.
Aku seperti mendengar suara yang
memanggil ku dan menyuruhku untuk bangun dan bangkit kembali. Tanpa disadari
aku pun membuka mata ku dengan perlahan. Melihat ke arah sekitar, yang
suasananya berbeda seperti lingkungan yang biasanya aku tertidur. Kemungkinan
besar ini rumah sakit, pikirku.
“Eh... kau sudah terbangun?” Suara
tersebut merupakan suara seorang perempuan. Aku pun sontak melihat ke arah
suara tersebut.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya perempuan
tersebut sembari mengangkat ku untuk duduk. Aku melihat ke arahnya, dia begitu Cantik,
tidak jika aku perhatikan dia lebih ke arah Imut, rambutnya terurai panjang.
“S-siapa kau?” Tanya diriku
kepada dirinya.
Perempuan tersebut berdiri dan
mengatakan, “Aku Raisa, salam kenal” sembari tersenyum padaku. Hangat senyuman
tersebut menyentuh ku. Sudah lama sekali aku tidak merasakan kehangatan ini,
pikir diriku.
“M-mengapa kau menyelamatkan ku?”
Tanya diriku yang penasaran. Aku sekarang memang telah berubah menjadi
seseorang yang pesimis dan negatif.
“Huh.... kau tidak ingat diriku
ya..” Ujar Raisa menghembuskan napas dan menundukkan kepalanya.
“Tentu saja, Raisa. Mana mungkin
dia ingat dengan mu....” Tiba – tiba ada seseorang lagi yang memasuki ruangan.
Dia merupakan seorang laki – laki, berparas sedikit tinggi, dan auranya begitu
ramah.
“Maaf masuk dengan tiba – tiba,
namaku Ariq. Senang melihat mu telah terbangun” Ujar Ariq yang juga tersenyum
padaku.
“Ariq..... maaf aku tak mengingat
dirimu....” Ujar pelan diriku sembari menundukan kepalaku.
“Oh? Mungkin karena stress dan
syok beratmu itu” Ujar Ariq menghiburku.
“Sudahlah, oh ya kau lapar? Mau
makan?” Tanya Raisa dengan penuh antusias
“Uhhhh.... tidak, aku tidak
lapar” Walau kata tersebut terucap pada mulutku, perut ku berkata lain.
“Eeeeeeeh.... kau mencoba
membohongi ku ya.... liatlah, perutmu pun masih mau jujur padaku” Ujar Raisa
memelotot pada ku.
“Tenang saja, Arif. Aku akan membelikan
bubur untukmu, mohon tunggu ya dengan Raisa” Ujar Ariq sembari berjalan keluar.
“Uhhh, Bu Raisa?” Ujar ku yang
memanggil dengan sopan.
“Siapa yang kau panggil ‘Bu’
itu?” Tanya Raisa yang memelototi diriku lagi.
Raisa menarik napas dalam – dalam
dan membuang nya perlahan. “Aku ini lebih muda dari mu. Umurku 20 tahun” Ujar
Raisa.
“Oh.... maafkan aku, tapi aku
punya pertanyaan kepada kau. Apakah kita pernah bertemu atau apa?” Aku pun
bertanya kepada Raisa.
Raisa pun terlihat tersenyum dan
berkata, “Aku selalu mengingatmu, Arif. Kau telah menyelamatkan diriku berkali
– kali, saat diriku masih kecil dulu dan saat SMA juga. Mungkin kau tak ingat,
saat diriku masih kecil kau datang menyelamatkan
ku saat diriku tersesat di hutan. Kau bilang ‘Jika kau membutuhkan pertolongan,
teriaklah. Aku yakin orang pasti datang. Tetapi jika tidak ada siapa pun yang
datang untuk membantu mu. Maka akulah yang akan menolongmu’ dengan tersenyum
padaku sembari mengantarkan ku pulang. Lalu, Ketika masih SMA. Kau lagi – lagi
datang membantu ku saat ayahku meninggal. Ketika itu aku benar – benar depresi,
tetapi kau membantu ku lagi dengan kata – katamu yang membuat ku kembali
menjalani hidup”
“Kau tahu, walaupun kau tersiksa,
menangis, dan berteriak sekencang mungkin meminta tolong. Pada akhirnya tidak
ada siapa pun yang membantumu, Bukan? Jadi, saat tidak ada siapa pun yang
menolong dirimu, maka aku yang akan menolong mu” Ujar Raisa melanjutkan
perkataannya.
Begitu terkejutnya diriku
mendengar perkataan Raisa, dulu aku mengira inilah takdirku. Tapi nampaknya di
dunia yang keras ini masih terdapat orang yang baik hati.
“T-terima kasih.....” Ucap diriku
perlahan. Tak lama, Ariq telah kembali membawakan bubur untukku. Aku pun senang
memakan nya, tetapi entah mengapa susah sekali untuk tersenyum kembali.
“Jadi, Arif. Aku mempunyai suatu
usulan untukmu” Ujar Ariq memecah keheningan.
“Usulan?” Tanya diriku yang
bingung dengan perkataan Ariq.
“Ikutlah bersama kami, tinggalah
dengan kami” Ujar Ariq menawarkan kepada diriku sembari tersenyum.
“B-benarkah?” aku begitu
terkejut, seakan – akan mereka merupakan cahaya matahari yang ku nantikan dari
hujan yang begitu panjang.
Ariq pun mengangguk dan berkata,
“Kami mempunyai suatu rumah dengan kamar masing – masing. Kami tinggal satu
rumah karena kami bersama – sama melakukan sesuatu pekerjaan”
“Pekerjaan apa itu?” Tanya diriku
yang penasaran.
“Karya Sastra” Jawab pendek Ariq.
Aku pun menganggukan permintaan Ariq dan ingin tinggal bersama.
* * *
3 hari telah berlalu, akhirnya
aku keluar dari rumah sakit. Aku pun dijemput oleh Ariq dan Raisa menggunakan
mobil. 10 menit perjalanan tidak terasa aku pun telah sampai di rumah tersebut.
Rumah tersebut cukup sederhana, dari luar terlihat memiliki 2 lantai. Sembari
melihat, sembari berjalan.
Aku pun masuk ke dalam rumah
tersebut bersamaan dengan Raisa dan Ariq. Terdapat sebuah ruang tamu yang
begitu sederhana, lalu didalamnya terdapat sebuah meja besar bersamaan dengan
sofa panjang berbentuk L dan terdapat 2 komputer di dekat nya. Mungkin ini
adalah ruang Kerja, pikir ku.
Jika aku gambarkan dengan denah
kemungkinan rumah nya seperti ini.
Setelah puas berkeliling, Ariq
pun mengajak ku untuk makan.
“Jadi Bagaimana menurutmu dengan
rumahnya?” Tanya Ariq yang sedang menyantap makanannya.
“Menurut ku nyaman disini,
kehidupan disini lebih enak daripada kehidupan ku sebelumnya” Ujar ku yang juga
menyantap makanan.
“Tiara dan Hafid mungkin akan
kembali sebentar lagi, Hafid adalah editor, sedangkan Tiara adalah House
manager” Ujar Ariq memberi tahuku.
“Sedangkan Raisa?” Tanya ku yang
penasaran
“Dia? Hmmmm..... coba kau tanya
sendiri mungkin dia sedang di dapur membereskan belanjaan” Ujar Ariq sembari
menunjuk ke arah dapur.
Aku pun berdiri sembari membawa
piring kotor ku. Di dalam dapur Aku dapat melihat Raisa yang sedang berada di depan
kulkas. Terlihat Raisa yang sedang menata dan menaruh bahan makanan ke dalam
Kulkas.
Aku pergi ke tempat cuci piring
dan menyuci piringku.
“Oh Arif? Bagaimana masakan ku?
Enak?” Tanya Raisa yang menyadari keberadaan ku.
“Enak” Jawab pendek ku sembari
menaruh piring yang telah ku cuci.
Semakin diriku melihat Raisa,
semakin diriku menyadari Kehangatan berada di dekatnya.
“Oh ya Raisa, kau bekerja di
bidang mana?” Teringat pertanyaan ku tadi kepada Ariq, aku pun menanyakan nya
kepada Raisa.
“Bidang? Aku yang menulis skripsi
ceritanya” Ujar Raisa.
Raisa langsung menghadapku
setelah selesai menata bahan makanan dan berkata, “Kau mungkin cocok membuat
cerita bersama ku”
“Kau yakin? Aku merasa aku sama
sekali tidak mempunyai kemampuan bahasa” Ujar ku merendahkan diri.
“Kau ini.... bahasa bukan
sepenuhnya yang membuat cerita itu bagus lho.... tetapi pemikiran mu, imajinasi
mu, dan pengalaman mu. Kehidupan dimana hanya kita sendiri yang mengetahui hal
tersebut yaitu imajinasi” Ujar Raisa tersenyum menasihati ku.
“Memangnya apa mimpi mu?” Pertanyaan
tersebut terucap di bibir ku.
“Mimpiku? Sederhana saja, mimpiku
adalah membuat orang – orang dapat menikmati hal yang sama seperti yang ku
nikmati didalam dunia pemikiran ku. Menjadikan Buku sebuah panduan sekaligus
motivasi dengan cerita yang sederhana” Ujar Raisa memberi tahu mimpinya kepada
ku. Sekali lagi aku benar – benar terpukau dengan dirinya, timbulah pertanyaan
di kepalaku.
“Apakah benar
dulu aku yang menyelamatkan dia? Apakah aku yang menjadi motivasi dirinya untuk
selalu berjuang?”
Setelah ku pikir – pikir, memang
benar. Akulah yang menyelamatkan dia, rasa tak ingin kalah pun timbul pada
diriku.
Aku pun bilang kepada dirinya
dengan tersenyum, “Aku pun takkan kalah darimu, aku juga akan menuliskan
pemikiran – pemikiran ku kedalam suatu cerita yang akan membuat orang – orang
tersenyum. Aku tak ingin orang berakhir menyedihkan seperti diriku” Kata
tersebut merupakan ucapan tertulus yang pernah ku ucapkan yang pada akhirnya
membuatku tersenyum kembali. Raisa yang melihat diriku pun ikut senang juga.
“Akhirnya senyuman mu itu
kembali, sudah lama sekali tak melihat mu tersenyum” Ujar Raisa yang membalas
senyumanku. Aku pun pergi kembali ke ruang kerja bersamaan dengan Raisa.
“Oh Arif. Hafid dan Tiara sudah
ada diluar” Ujar Ariq yang terlihat sedang membaca dokumen – dokumen
menggunakan kacamatanya.
“Permisi, kami sudah pulang” Ujar
seorang lelaki yang memasuki ruang kerja bersama dengan seorang perempuan.
“Oh kamu Arif kan? Salam kenal, Aku
Hafid” Ujar Hafid yang perlahan mulai duduk di sofa.
“Dan aku Tiara, aku seorang
manager disini jadi mohon kerja samanya” Ujar Tiara yang ikut menyusul.
“Jadi Arif, apakah kau ingin
bergabung dengan Tim Sastra disini?” Tanya Ariq yang menanyakan keputusan ku.
Semua orang menatap ku, ku pikir
mungkin tidak selamanya hidup itu berat dan susah. Mungkin aku lah yang
pengecut, mungkin akulah yang selalu terlarut dalam kesedihan. Mungkin ini lah
“Cahaya” ku.
Aku pun menghadap kearah mereka
semua dan berkata, “Aku ikut, izinkan aku menjadi salah satu penulis disini”
“Selamat datang, Arif. Kau
diterima” Ujar Ariq yang tersenyum kepada ku.
“Kau dengar itu kau diterima
lho..” Ujar Raisa yang ikut berbahagia.
“Teman – teman, mari kita rayakan
kedatangan anggota baru kita, Arif” Ujar Hafid yang mengeluarkan makanan
ringan.
Kami pun berpesta kecil merayakan
kedatangan ku, aku berharap kebahagian ini akan tetap seperti ini. Tidak. Harus
tetap seperti ini.
Inilah awal kisah diriku yang melakukan
perjalanan bersama teman – teman ku.
* * *
Sudah 1 minggu aku tinggal di
Rumah Kerja tim Sastra. Setiap hari, aku berpikir dan menuliskan semua yang ku
pikirkan ke dalam suatu buku. Mungkin anak – anak menyebutnya sebagai diary.
Setelah aku menulis, aku langsung pergi menuju ke Ruang Kerja untuk berkumpul.
“Oh Arif, sudah bangun? Mari kita
makan” Ujar Ariq sembari menyodorkan piringnya.
“Baiklah, aku akan mengambil
makanan” Jawab singkat diriku sembari berjalan menuju ke dapur dan mengambil
piring. Raisa yang selalu memasak untuk kami, walau begitu kadang – kadang
Tiara memesan makanan juga.
“Makan apa kita hari ini, Raisa?”
Tanya diriku yang kelaparan.
“Sup” Ucap pendek Raisa.
Aku pun mengambil sup dan pergi
ke ruang kerja. Aku pun makan bersama Ariq yang sedang Melakukan beberapa
pekerjaan Dokumen. Kami mengobrol ria dan saling menanyakan beberapa
pertanyaan.
“Oh ya Arif. Apa kau bersedia
membeli kertas HVS, Tinta printer, dan 2 buku portofolio di toko Fotocopy? Toko
nya dekat kok, tinggal lurus saja ikuti jalur dan kau akan ketemu” Ujar Ariq
yang sibuk dengan menata dokumen.
“Baiklah, aku juga mau melihat –
lihat lingkungan sekitar” Ujar diriku sambil mempercepat santapan makanan ku.
Aku pun pergi dengan berjalan
kaki sembari melihat ke arah sekitar. 10 menit berjalan, terlihat ada sebuah
kolam besar dengan sebuah jembatan. Aku pun terpukau dengan kolam besar
tersebut. Karena jarang melihat kolam yang besar, melihatnya lagi mirip dengan
sebuah sungai atau danau kecil.
“Kau suka pemandangan nya, nak?” Tanya
seorang nenek yang kebetulan bertemu dengan ku.
“Iya, aku suka. Mungkin saat
matahari mulai terbenam akan menambah sensasi nya” Jawab diriku dengan suara
takjub.
“Kolam ini bernama ‘Air titisan
Bulan’. Tempat ini sangat indah, dihiasi dan dikelilingi oleh bunga dan pohon
yang menambah nuansa sejuknya” Ujar Nenek tersebut menjelaskan.
“Iya, kau benar” Jawab singkat ku.
“Selain itu, Nak. Orang sekitar
sini bilang bahwa orang kadang datang kesini untuk melepas stress atau depresi
mereka. Tapi, nenek selalu mengundang mereka tuk datang kerumah nenek dan
berbicara empat mata memperkecil dan mengurangi setidaknya sedikit dari beban
mereka. Jadi, misalkan kau ada masalah mungkin kau bisa datang ke rumah nenek
di dekat kolam ini” Ujar nenek tersebut.
Aku pun mengangguk.
“Jangan lupa satu hal, Nak.
Hargailah momen yang kau rasakan sekarang, jangan kau lupakan momen tersebut.
Jangan kau pikirkan masa depan mu, tapi pikirkan lah hal yang terjadi sekarang”
Ujar nenek Tersebut
“Baiklah, Nek. Terima Kasih atas nasihatnya.
Aku pergi dulu ya” Ujar ku sembari melanjutkan perjalanan ku.
Aku pun membeli barang – barang
yang perlu dibeli dan pergi kembali.
“Permisi, aku pulang” Ucap diriku
memberi salam.
“Oh kau sudah kembali, taruh sini
barang yang kuminta” Ujar Ariq menunjuk ke arah meja. Aku pun menaruh barang –
barang tersebut dan pergi langsung ke kamar ku untuk menuliskan pengalaman ku
di buku ku.
Tok tok tok,
seseorang mengetuk pintu kamar ku. Aku pun membukakan pintuku, rupanya hanya
Raisa yang datang.
“Jadi, bagaimana menurut mu
Kolamnya?” Tanya Raisa sembari memasuki kamarku.
“Indah dan ada seorang nenek yang
baik” Jawab singkat ku.
“Nenek? Siapa maksudmu?” Tanya
Raisa kebingungan
“Ada nenek yang tinggal di dekat
kolam kan?” Tanya diriku kembali
“Nenek yang tinggal dikolam....
nenek itu sudah meninggal, Arif....” Jawab Raisa
Aku pun terkejut menjatuhkan
pulpen ku dan berkata,
“Apa maksudmu? Aku baru bertemu
dengan nya tadi” Ujar diriku dengan penuh keyakinan
Raisa melihat ke arah ku, memperhatikan
diriku dan berkata,
“Ikut aku, Arif”
Aku dan Raisa pun berjalan
keluar, tepatnya kembali ke Kolam tersebut. Raisa menunjuk ke arah sebuah rumah
yang tidak terlalu besar.
“Itu rumah beliau. Tetapi kita
akan lurus saja dari sini” Ujar Raisa.
Raisa dan aku berjalan mengikuti
jalan, sampai pada suatu tempat pemakaman. Raisa menunjuk ke arah nisan Bernama
Tetty Lestari.
“Beliau telah meninggal beberapa
bulan yang lalu, banyak yang datang ikutan melayat beliau dan mendoakan beliau.
Banyak warga – warga disini bilang bahwa beliau adalah orang yang sangat baik
dan ramah” Ujar Raisa menjelaskan.
Aku hanya terdiam melihat Nisan
nenek tersebut, aku pun mendoakan Nenek Tetty. Aku dan Raisa pun berjalan
kembali ke rumah.
“Kemungkinan yang bertemu dengan
mu arwahnya ya.....” Ujar Raisa yang menakuti Diriku.
“Memangnya apa kata nenek
tersebut?” Tanya Raisa melanjutkan perkataannya.
“Dia bilang, ‘Misal diriku
mempunyai masalah, datang lah kerumah nenek’ dan ‘Jangan lupakan Setiap momen
yang aku raih’. Sedih juga......... ku harap kau tenang di sana” Ujar Diriku
sembari mendoakannya.
“Ya.... dia dianggap penyelamat
bagi orang – orang yang mencoba bunuh diri di lingkungan ini, aku pun terkagum
padanya” Ujar Raisa yang turut mendoakannya.
“Benar juga.....” Ujar Ku sembari
berjalan.
Waktu tak terasa berjalan aku dan
Raisa telah sampai di Rumah. Aku pun mandi, makan, dan masuk ke dalam kamar ku.
Hari ini banyak yang terjadi sampai Aku sendiri pun bingung dengan kejadian
hari ini.
“Jangan lupakan setiap momen
ya.........” Oceh ku Sendiri dan melanjutkan menulis momen – momen yang terjadi
hari ini.
* * *
Hari ini adalah Hari Minggu, hari
dimana Aku dan Kelompok Sastra pergi ke suatu pameran Sastra. Di sana banyak
Kios – kios yang menjual buku – buku, puisi, dan bahkan juga terdapat Kios
makanan. Kami, kelompok Sastra juga mempunyai Kios. Kami menjual beberapa hasil
kerja kami, seperti Cerpen, Buku kecil, dan Beberapa laporan atau informasi.
Aku membantu sedikit seperti menata buku dan menyambut pelanggan. Waktu pun tak
terasa berlalu menunjukkan sudah waktunya makan siang. Aku pun memutuskan untuk
pergi berjalan – jalan sebentar di pameran tersebut.
“Mungkin ada yang ku ingin
beli......” Pikir Ku sembari terus berjalan mengelilingi Pameran tersebut.
Sampai pada di suatu titik dimana
Aku menemukan sebuah Kios yang terlihat tua tetapi terlihat didalam masih rapi
dan tersusun.
“Mau melihat – lihat?” Sambut
seorang kakek yang kemungkinan menjaga kios tersebut.
“Oh, Boleh. Saya ingin melihat –
lihat Buku – buku disini” Ujar Ku memasuki kios tersebut.
Terlihat banyak buku – buku yang
terlihat tua, bahkan tak sedikit Aku menemukan buku keluaran 196X. Aku membaca
sastra lama tersebut dan melanjutkan mengelilingi isi kios tersebut.
Kemudian, Aku menemukan 1 buku
yang memancing perhatian ku. Dengan sampul bewarna abu – abu rintik dengan
judul “Dimulai dengan Cerah, Diakhiri dengan Hujan”.
“Permisi, bolehkah aku bertanya
tentang buku ini” Tanya ku ke Kakek penjaga tersebut.
Kakek tersebut pun memakai
kacamatanya dan melihat buku tersebut.
“Oh buku ini..... buku ini
ditulis oleh Seseorang dengan nama pena ‘Eva’. Dia adalah orang yang sangat aktif,
optimis, dan murah senyum. Walau hidup terasa seperti badai, dia selalu
membantu orang lain dan tetap tersenyum” Ujar Kakek tersebut.
Aku yang mendengar hal tersebut
sangat terkejut dan kagum terhadap orang bernama “Eva” ini.
“Berapa harga buku ini, kek?” Tanya
ku dengan niat untuk membeli buku tersebut.
“Kamu mau membeli buku itu? Harga
nya cukup 30rb saja” Ujar Kakek tersebut.
Aku pun membayar nya dan membeli
buku tersebut dan bersiap untuk pergi kembali.
“Ingat nak, sesulit apapun
terpaannya tetap berjalan ya” Ujar Kakek tersebut tersenyum pada sebelum aku
pergi
“Baiklah, terima kasih, Kek” Salam
ku sembari berjalan kembali ke Kios Kelompok ku.
“Kehidupan itu
kita mana tahu bagaimana berjalan. Lancar? Macet? Depresi? Kita tidak tahu....
yang ku tahu hanyalah...... Melihat dan berpikir apa yang akan ku lakukan hari
ini” Pikir ku sembari melihat ke arah teman – teman kelompok
Sastra.
“Kemari rif.... kita akan
merapikan hal – hal ini” Ujar Ariq
Aku pun tersenyum, “Baiklah aku
akan kesana” Ujar ku.
Begitulah hari – hari selama
Pameran sastra yang melelahkan sekaligus menyenangkan tersebut.
* * *
Malamnya, Aku dan para anggota
sastra lainnya pergi ke restoran sekitar untuk makan malam. Kami bercanda ria
disana, mengobrol tentang banyak hal.
“Oh ya, kawan – kawan. Aku
memiliki beberapa pengumuman untuk kalian” Ujar Ariq.
“Apa itu?” Tanya Tiara yang
penasaran.
“Yaitu, Kita semua akan bepergian
ke kota london untuk kunjungan pekerjaan disana” Ujar Ariq dengan antusias.
“London huh...... Bulan ini adalah
bulan desember berarti disana sedang musim salju bukannya?” Tanya Raisa.
“Iya disana sedang bersalju
mungkin ini pengalaman pertama kita dengan salju” Ujar Ariq dengan bersemangat.
“Salju ya..... menarik. Memang
pekerjaan macam apa yang kita akan lakukan disana” Tanya ku penasaran. Karena
Dinas luar adalah hal yang jarang terjadi apalagi dinas keluar negara.
“Kita akan bertemu suatu studio
disana sekaligus mungkin dapat mendapatkan beberapa referensi dan ya” Ariq
berhenti sembari batuk. “Gratis” Lanjut Ariq.
Aku pun tertawa mendengar
pernyataan tersebut, Seorang Bos di studio kami bersifat seperti apapun yang
terjadi yang penting gratis.
“Baiklah kapan kita berangkat?”
Tanya Hafid sembari menyantap makanan nya.
“Minggu depan, jadi Senin sampai
sabtu kita akan bersiap – siap dari segi mental dan fisik. Berdoa juga kita
sampai dengan selamat” Ujar Ariq.
“Minggu depan
ya....” Aku tersenyum melihat ke arah teman – teman ku. Aku
merasa ini lah momen yang tepat untuk meningkatkan tali persaudaraan antara anggota
kelompok lainnya. Dan lebih mengetahui sesama satu lain.
* * *
Aku sudah mulai berjalan – jalan
membeli keperluan ku untuk pergi kelak. Seperti Sabun, Shampoo, Pakaian
tambahan, dan lain – lain.
“Pekerjaan apa
saja yang akan ku lakukan, hal menarik apakah yang ku akan temui disana” Pikirku
sembari berjalan untuk pulang ke Rumah.
Aku yang berjalan mulai mengingat
sesuatu. Aku pun teringat sesuatu bahwa aku melupakan sesuatu dari seluruh
kebutuhan yang aku beli. Aku pun berjalan ke minimarket terdekat dan membeli
keperluan tersebut.
“Apa sekalian
membeli Makanan ya? Hmmm” Pikirku yang memutuskan untuk sekalian
membeli makanan untuk teman – teman yang lain.
Aku pun berjalan pergi ke warung
sebelah minimarket tersebut dan membeli beberapa makanan dan pergi berjalan
kembali pulang.
* * *
Sesampainya Aku di rumah, Aku pun
menawarkan makanan kepada teman – teman sastra.
“Kalian mau?” Ujar Ku
menyondorkan Plastik berisi makanan tersebut.
“Wah baunya enak, boleh, kau
taruh saja di meja” Ujar Tiara yang terlihat sibuk.
Aku pun menaruh makanan tersebut
di meja dan pergi ke kamar ku untuk menyiapkan koper. Aku menaruh semua
keperluan dan pakaian ku kedalam koper tersebut. Merasa lelah aku pun berbaring
di tempat tidur ku. Melihat ke arah meja bekerja ku aku pun melihat buku yang
aku beli beberapa hari lalu. “Dimulai dengan Cerah, Diakhiri dengan Hujan”
Merupakan buku yang ku beli saat festival kemarin, aku pun tersenyum dan
mengambil buku tersebut dan mulai membacanya.
Tak tersadar, rupanya aku
tertidur setelah membaca beberapa halaman buku tersebut. Aku pun mengecek
sekali lagi koper ku apakah sudah benar benar siap. Tiba – tiba, terdengar
panggilan dari Raisa untuk bergegas. Aku pun pergi untuk mandi dan berpakaian
rapi bersiap untuk pergi ke bandara. Aku membawa koper ku keluar dan melihat ke
arah Ariq yang mengobrol dengan seseorang.
“Oh Arif, Perkenalkan ini teman
ku, Ibrahim. Yang akan mengantarkan kita dan menjaga Rumah kerja kita” Ujar
Ariq memperkenalkan Orang tersebut.
“Salam kenal, Aku Arif” Ujar ku
menjabat tangan Ibrahim.
“Salam kenal juga, Saya Ibrahim. Taruh
saja kopernya ke dalam mobil” Ujar Ibrahim.
Aku pun menaruh koper ku kedalam
bagian belakang mobil tersebut. Terlihat Hafid menyusul membawa koper milik
Raisa dan Tiara dan menaruh nya kedalam mobil tersebut. Raisa dan Tiara
terlihat keluar dan mengunci pintu rumah. Aku dan teman – teman Sastra bersiap
pergi menuju bandara. Aku pun masuk kedalam mobil. Kami pun berangkat menujur
ke bandara. Aku melihat keluar jendela, terlihat suasana malam dengan
temperatur yang dingin. Aku lalu menyalakan hp ku dan terlihat jam menunjukkan
pukul 1:00 am. Aku yang sebenarnya masih mengantuk hanya bisa berusaha bertahan
dalam posisi mengantuk tersebut.
Tak terasa waktu berjalan, Kami
pun telah sampai di bandara. Kami pun pamit kepada Ibrahim dan pergi kedalam
bandara.
“Apa perlu bagasi?” Tanya Ariq.
Kami pun menjawab, “Tidak perlu”.
Ariq pun melakukan check – in dan
bersama – sama pergi menuju ke ruang tunggu. Sesampainya disana Kami pun
bersantai sedikit, menaruh barang – barang kami di kursi dan saling mengobrol.
Raisa dan Tiara menyantap bekal mereka, terlihat Ariq yang gelisah. Ariq
memiliki takut akan Ketinggian, Dia sangat tidak menyukai momen saat naik
pesawat. Aku pun menenangkan dirinya bahwa semuanya akan baik – baik saja.
“Panggilan
kepada Penumpang pesawat yang akan berangkat ke London”
Terdengar panggilan tersebut, Aku
pun membawa tas dan segera memasuki Pesawat bersama dengan yang lainnya. Kami
duduk dalam satu barisan dengan susunan Raisa di Bagian paling kiri, Tiara,
Ariq, Diriku, dan Hafid.
Aku pun duduk di kursi pesawat
tersebut menaruh Tas ku di dekat kaki ku.
“Kira – kira kapan kita akan
sampai disana?” Tanya ku Kepada Hafid.
“Hmmm.... butuh sekitar 14 jam 30
menit untuk perlu kesana” Ujar Hafid.
“Oh Yasudahlah... dibawa santai
saja” Ujar diriku sembari melihat ke arah Ponselku yang menunjukkan Pukul 2:00
AM.
Aku pun Mengeluarkan buku
“Dimulai dengan Cerah, Diakhiri dengan Hujan” dari tas ku dan membaca buku
tersebut. Aku pun membaca buku tersebut dengan serius, memahami setiap kata –
kata yang ada dibuku tersebut. Saking seriusnya, Hafid disebelah ku pun
bertanya apa yang sedang ku baca.
“Ehh... ini buku yang aku beli di
festival kemarin, dari sebuah toko disana” Ujar ku menceritakan sedikit.
“Oh begitu.... Kau tidak tidur?
Aku saranin untuk tidur” Ujar Hafid.
Aku pun menaruh kembali buku ku
dan meluruskan badan ku, perlahan menutup mataku.
* * *
Aku tanpa sadar mulai membuka
mata ku dan terbangun. Aku pun mulai membersihkan mataku dan melihat ke arah
sekitar. Terlihat Raisa dan Tiara yang menyantap makanannya, Lalu ada Hafid
terlihat sedang menonton sebuah film dengan serius, dan Ariq yang sedang
membuka laptop nya dan Mengetik beberapa hal.
“Boleh minta bekal ku?” Ujar ku
yang merasa kelaparan kepada Tiara.
Tiara pun memberikan bekal ku
melalui Ariq. Aku pun mulai menyantap bekal ku, melihat ke arah jam. Jam
menunjukkan pukul 12 siang, Aku pun menghabiskan Bekal ku dan menaruh nya
kembali ke tas dan menyandarkan punggung ku di kursi. Aku pun menatap penasaran
ke arah TV yang berada di depan ku. Aku pun mulai mencari – cari film yang
mungkin bisa menghilangkan sedikit kebosanan dari diriku. Mata ku menatap
kearah Film Berjudul “Avengers : The Endgame”. Aku memasangkan headset ke
telinga ku dan mulai menonton Film tersebut. Rasa gugup, tegang, dan Sedih
terlihat dimuka ku.
Tak terasa 3 jam durasi film
tersebut telah berlalu. Aku pun merasa sangat bosan melihat ke Arah Raisa dan
Tiara yang terlihat terlelap Tertidur. Lalu melihat ke arah Ariq yang masih
sibuk mengotak – atik Laptopnya.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
tanya Ku kepada Ariq.
“Menulis beberapa dokumen yang
penting” Ujar Ariq menjawab pertanyaan ku.
Aku pun melihat ke arah Hafid
yang juga kelihatan tertidur lelap. Aku pun menyandarkan punggung ku sekali
lagi dan menghadap ke arah Atas berpikir apa saja yang akan Ku lakukan disana.
“Kira – kira Jam berapa kita
sampai disana jika dilihat dari jam london?” Tanya ku Terhadap Ariq.
“Hmmm.... Jam 9:30 pagi jadi kita
bisa sedikit santai dan beristirahat di asrama yang di sediakan” Ujar Ariq.
“Asrama?” Tanya ku yang menghadap
ke Arah Ariq.
“Ya, Asrama. Mereka menyediakan
sebuah Asrama yang memuat 2 kamar yang masing – masing untuk laki – laki dan
Perempuan. Jadi Kau, hafid, dan aku akan tidur seruangan sedangkan Raisa dan
Tiara akan tidur di kamar sebelah” Ujar Ariq menjelaskan.
Aku pun dapat membayang seberapa
mahal biaya yang diperlukan.
“Memangnya mengapa kita kesana?”
Tanya ku kepada Ariq.
“Kita disana akan menjalin
hubungan kerja, selain itu kita akan bersaing antara pekeja lainnya” Ujar Ariq.
“Begitu ya.....” Ujar ku yang
memahami perkataannya.
Tak terasa 1 jam terlewatkan,
Terdapat sebuah panggilan yang memberitahukan bahwa sebentar lagi akan sampai.
Hafid pun kelihatan sudah segar dan memasang sabuk pengamannya, Ariq pun
menutup laptopnya dan menyimpannya lalu memberitahu kepada Raisa dan Tiara
bahwa pesawat akan Berangkat.
Pesawat yang aku tumpangi pun
telah mendarat dengan aman di bandara Heathrow. Kami pun keluar dan pergi
menuju gerbang kedatangan dan melihat kearah sekitar.
Suasana salju yang dingin pun
terlihat, angin sejuk yang terasa mengalir di sekitar daerah, Sinar matahari
pagi yang tak terlalu nampak tapi sedikit terasa, lalu terlihat beberapa
pekerja yang membersihkan salju.
“Ayo kita kesana” Ujar Ariq yang
menunjuk ke arah Express. Kami pun memasuki salah satu kereta dan pergi ke
tujuan selanjutnya.
Sampai lah kami di stasiun
selanjutnya, terlihat seseorang yang menyambut Ariq.
“Perkenalkan ini Mr, John. Orang
yang membiayai kita kesini” Ujar Ariq memperkenalkan orang tersebut.
“Halo semuanya, Saya John. Tenang
saja, saya mengerti bahasa indonesia” Ujar John kepada kami.
“Baiklah, Mari – mari kita ke
Asrama. Saya tau kalian pasti Kelelahan bukan?” Ujar John sembari berjalan
menuju mobilnya.
Kami pun diantar oleh John menuju
ke suatu tempat, yang kemungkinan besar adalah Sebuah Asrama. Ariq pun
diberikan 2 buah kunci. Kami pun melihat 2 buah pintu yang saling bersebelahan.
“ini kunci untuk perempuan” Ujar
Ariq Memberikan Kunci Ke Tiara.
Aku, Hafid, dan Ariq pun memasuki
kamar tersebut. Terlihat 2 buah kasur dan sebuah Sofa bed, lalu terdapat lemari
untuk menyimpan pakaian – pakaian, Terdapat 1 meja tulis dan kursi untuk
bekerja, Terdapat sebuah karpet yang lembut yang melapisi lantai didekat Kasur
tersebut, dan terakhir terdapat televisi dan alat Elektronik seperti Teko
listrik dan kulkas.
Aku pun mulai merapikan barang –
barang ku bersamaan dengan Ariq dan Hafid. Setelah selesai merapikan aku pun
mengambil handuk dan pergi mandi di air hangat.
“Sensasi hangat
di hari dingin begitu enak....” Pikirku sembari Melanjutkan mandiku.
Selesai mandi aku pun berpakaian dan berbaring di Sofa.
“Aku akan tidur disini” Ujar ku
kepada Ariq dan Hafid.
“Okeh aku akan tidur dikasur yang
satu ini” Ujar Ariq.
Hafid juga berbaring di kasurnya.
Kemungkinan untuk hari pertama, kami akan beristirahat di Kamar terlebih
dahulu. Membiasakan diri akan suhu yang begitu dingin saat itu. Dan juga
bersiap – siap pada yang akan terjadi.
* * *
Keesokan harinya, Kami pun
bersiap – siap untuk pergi ke Kantor yang akan menjadi ruang kerja kami. Kami
yang telah besiap – siap pun diantarkan oleh John ke suatu tempat menggunakan
mobilnya. Terlihat suasana dingin yang begitu terasa walaupun berada di dalam
mobil.
Sesampainya di sebuah tempat,
kami pun memasuki tempat tersebut. Kami dituntun oleh John menuju satu ruangan
yang berisi 5 meja kerja.
“Inilah Ruangan yang akan kalian
pakai” Ujar John kepada kami
“Thank you” Ujar Ariq yang
membalas perkataan John.
“Baiklah, Happy Working on it”
Ujar John yang tersenyum kepada kami dan pergi.
Kami pun memasuki ruangan
tersebut, Ruangan tersebut berisi 5 meja kerja lengkap dengan sebuah komputer
di dalamnya, lalu terdapat lemari di setiap meja kerja yang berisi dokumen yang
harus diisi.
“Baiklah aku akan membagikan
tempat – tempatnya, yaitu Raisa dan Tiara akan duduk di sebelah kiri sedangkan
Hafid dan Arif akan duduk di sebelah kanan. Aku akan duduk di meja kerja bagian
tengah disini” Ujar Ariq
Aku pun mulai duduk di meja kerja
ku sendiri, menaruh beberapa barang penting seperti Buku catatan ku dan tas ku.
“Baiklah pasti kalian tidak tau
apa atau mengapa kita berada disini, tapi aku akan Menjelaskannya” Ujar Ariq
“Pertama alasan kita disini
adalah kita diundang sebagai perwakilan untuk mengikuti kegiatan Membukukan
cerita di London”
“Jadi kegiatan kita selama disini
adalah membuat cerita yang mungkin dapat kesempatan untuk dibukukan” Jelas Ariq.
Kami pun terkejut mendengar hal
tersebut.
“Jadi cerita apa yang akan kita
buat” Tanya Tiara kepada Ariq.
“Untuk sementara kita akan
membereskan dokumen yang ada di Lemari dan memasukan data penting ke dalam
Komputer” Ujar Ariq sembari menyalakan Komputernya.
Kami pun mulai menyusun dokumen
yang ada di lemari masing – masing dan memasuki data – data penting ke dalam
Komputer.
* * *
Jam makan siang pun mulai
terlihat, Aku pun yang sudah kelaparan pun pergi berjalan sekitar bersama Ariq
dan Hafid. Memakai jaket dan syal di leher membuat diriku hangat dari suasana
yang begitu dingin itu.
Terlihat orang – orang juga
berjalan sibuk dengan kerjaan masing – masing.
“Hey, aku akan ke minimarket
sana. Kalian lihat – lihat saja duluan” Ujar Ariq yang menunjuk ke arah
minimarket dan pergi masuk ke dalam.
Aku dan Hafid melanjutkan jalan –
jalan mengelilingi kota tersebut.
“Kau lapar?” Tanya Hafid memulai
sebuah topik.
“Tidak terlalu, tapi aku butuh
Yang hangat – hangat” Ujar Ku sambil memegang perutnya.
Aku dan Hafid terus berjalan melihat
sekitar.
“Oh Apa ini?” Ujar Hafid melihat
ke suatu tempat.
“Teath? Oh jadi ini yang diminta
Raisa dan Tiara tadi bukan?” Ujar Ku.
“Iya betul, Aku mungkin mau membeli teh juga.
Kau mau? Atau kau ingin berjalan melihat sekitar” Tanya Hafid sembari
menawarkan.
“Tidak, aku akan terus berjalan.
Mungkin aku akan menemukan sesuatu yang dapat ku beli” Ujar ku yang perlahan
berjalan.
Aku yang berjalan sangat fokus
melihat sekitar, banyak juga orang – orang dari sini berjalan sana sini dengan
Hp mereka masing – masing.
Begitu aku mendongakkan kepala
ku, Aku melihat sebuah papan nama Bertuliskan “Estelle Cafe”.
Jika ku ingat – ingat nama kafe tersebut berasal dari bahasa Prancis yang
artinya Bintang. Aku pun memasuki kafe tersebut, tercium aroma Kopi yang begitu
menyegarkan. Badan ku terasa sejuk hangat. Terlihat suasana kafe yang terbuat
dari kayu, mulai dinding sampai lantai yang terbuat kayu dengan warna gelap
cerah.
Aku pun duduk di Kursi yang
berada di meja Konter, lalu Datang seorang pria dengan janggut tipis, paras
tinggi, dan rambut hitam cerahnya.
“What do you want?” Tanya dia
dengan tersenyum.
“Ehh... I would want an Espresso”
Ujar ku memesan minuman.
“Okay, Come in Right up” Ujar dia
yang memulai membuat pesanan tersebut.
“Are you not from here?” Tanya dia
sambil membuat Espresso.
“Yeah i’m not from here, I’m here
only for work” Ujar ku menjawab Pertanyaan Nya.
“Hmmm.... what kinds of work?”
Tanya dia lagi.
“Writing and some stuff.... You
know document” Ujar Ku menjelaskan.
“Hah... i know..”
“What is your name by the way?” Tanya
ku bertanya kepada dia.
“Oh, My name is Asta, You?” Ujar
Asta bertanya kembali.
“I’m Arif, Nice to meet you” Ujar
ku berkenalan dengan Nya.
“Ooh Nice to meet you too” Ujar
Asta menyapa kembali.
“By the way, are you the only
person here” Tanya ku yang penasaran melihat ke sekitar.
“Yeah, I’m the only person here”
Ujar Asta tersenyum.
“Wait, Why? Are you not
recruiting someone?” Tanya ku yang terkejut.
“No... before, this Cafe have 2
Employees including myself” Ujar Asta sembari memberikan Espresso pesanan ku.
“Who is the other Person?” Tanya
ku dengan nada pelan.
“My Wife...” Ujar Asta sembari
tersenyum.
“Oh, I’m Sorry it seem i’m going
to deep” Ujar Ku meminta maaf kepada Asta.
“No... is okay, Sometimes i want
to talk about this thing” Ujar Asta.
“Well, Let’s drink together” Ujar
ku mengajak nya untuk mengobrol panjang sembari menikmati secangkir kopi.
“Okay, I will made my own coffee”
Ujar Asta sembari membuat secangkir kopi lagi untuk dirinya sendiri.
Setelah selesai membuat Kopinya
sendiri, Asta duduk di konter di sebelahku sembari memegang dan menghirup
kopinya.
“Well, It start like this.... A
long time ago, i was a person who liked to go for a walk. But one day, I found
this cafe. I was very interested in it, so i entered the cafe. At that time, i
was so sure that i saw an angel. She is very Beautiful. I also sat in this
chair near the counter. I ordered a coffee, she Made it very beautifully and so
elegant. I was so stunned by the way she made the coffee. After that time i
always often go to the cafe, chilling, and drinking coffee. The average
Customer who was there was erderly. I try to be brave and asked her name. Then,
in such a soft tone she said her name was Luna. I remember it means Moon in
Latin. Year after Year, I try to be brave again to propose to her. She accepted
me too, I was so happy. I also took care the cafe, learning how to make a
refreshing coffee. And one day There is a good news, she is pregnant. I am so
aware and carefull about it. But...... fate said otherwise. She died with the
baby in her womb because she had a disease which made her very weak. Although i
already notice some of the sypmtom at my first time meeting her. After that
events, i was so Devastated, crumble, and i cried not accepting the view in
front of me. I returned to home after the funeral of my wife. When i was
starting to sleep all day to forgot what happen, i saw a letter that was right
next to my bed. It writtens as,
‘My dear Beloved, I actually
thought every night whether i would survive or not, i did not have the courage
to reveal it to you.... when we first met, i had an illness that made my
endurance gotten so weaker.
At first i was afraid to accept
your love for me, because i didn’t want you to suffer just because of my
departure. However, seeing you fighting for my heart, melted me and i decided
to accepted you. I don’t want to see you cry and blaming yourself.
I’m sorry, that i hurt you. I’m
Sorry that i can’t be with you, i’m sorry that i can’t always love you, i’m
sorry, i’m sorry, i’m sorry.
But please.... live my dear.... i
can’t see you suffering... so please live.... i want you to be always happy
with or without me... i know it was hard....but i will always see you from
here, so don’t said that you were alone. Just remember, i, wherever i was, will
always love you my dear...
Thank you my dear, you are a man
who really encourage me to keep fighting :)’
Loved, Luna.” Jelas Asta yang
menceritakan cerita yang menyedihkan tersebut.
“Ah, i’m sorry you just a hearing
a sad st--” Ujar Asta yang perkataannya terpotong karena melihat ku yang
mengeluarkan air mata.
“I’m.... i’m sorry” Ujar Asta
menenangkan ku.
“No... is not that... i was so
moved by you, Asta. You are very strong although that happening to you.... i
don’t even know what will i do if i ever felt that” Ujar ku yang menghapus air
mata ku dan meminum espresso ku yang sedikit mendingin.
Asta pun tersenyum dan berkata,
“Thank you dude, you want to hear this weak man telling a story”
“No... that story was precious”
Ujar ku.
Aku dan Asta pun melanjutkan
obrolan kami. Perasaan sedih yang sebelum nya terasa menjadi perasaan yang
nyaman dan kebahagian. Walau begitu air mata yang terngalir masih tetap
membekas.
* * *
“Thank you for your time... i
never felt that in a long time” Ujar Asta yang tersenyum hangat kepada ku.
“No, i was the one that to thank
you...” Ujar ku yang memberi salam pamit kepada Asta.
“Oh yeah, although i’m going back
here. I will be here again, that was fun” Lanjut ku yang memberi salam terima
kasih sekali lagi kepada Asta.
“Yeah.. You are Welcomed” Ujar
Asta.
Aku pun keluar dari kafe dan
pergi kembali ke kantor ku.
* * *
Beberapa hari telah berlalu, Kami
pun sudah memulai pekerjaan kami yaitu membuat Sebuah cerita. Disini Ariq sudah
membagikan peran masing – masing. Yaitu, Raisa di bagian Story, Tiara di bagian
Editing, Hafid di bagian Ilustration and Final editing, Aku di bagian Pembuatan
cover dan back cover, sedangkan Ariq yang akan mengawasi dan mengatur proses
pembuatan. Semua orang sudah sibuk dengan kerjaan masing – masing. Sementara
itu aku hanya menatap Langit – langit dengan tatapan kosong.
“Ummm.... apakah ada yang bisa
dibantu?” Tanya ku yang berusaha mencari kerjaan.
“Untuk sementara, tidak ada” Ujar
Raisa yang menolak ku.
“Yaudah, tolong print file ini di
ruangan sebelah” Ujar Ariq sambil menjulurkan Flash disk kepada ku.
Aku pun menerima Flash disk
tersebut dan Pergi ke Ruangan sebelah.
“Apakah cara
yang kita lakukan efektif?” Pikir ku sembari memulai mencetak file
yang di berikan oleh Ariq.
“Bukannya aku
tak percaya kepada Raisa... hanya saja apakah ini efektif?” Pikir ku
sekali lagi sembari Berjalan kembali ke Ruangan Kerja dan memberi kan printnan
yang di minta oleh Ariq tadi.
Proses pembuatan Cerita pun
kembali berlangsung. Aku pun kembali lagi menatap kekosongan dan kefokusan dari
orang lain.
“Apakah ada yang bisa dibantu?”
Tanya ku kepada Raisa sekali lagi.
“Belum ada...” Ujar Raisa yang
kembali menolak ku lagi.
Aku pun bingung ingin melakukan
apa. Aku pun memutuskan untuk membeli Mereka minuman hangat dan camilan.
Seperti biasa aku pun pergi ke
Kafe Estelle.
“Good night, I want to order as
usual. Please” Ujar ku yang menyapa Asta dan duduk meluruskan pinggang ku.
“Woah, hello there. Tired day?”
Tanya Asta yang melihat diriku kelelahan.
“Rather than called it tired, it
called Bored” Ujar ku sembari menguap.
“Hahahaha.... It’s 20:00 pm and
you guys still working huh” Ujar Asta sembari memberikan ku Roti.
“Yeah problably done at 22:00 pm”
Ujar ku yang menyantap roti pemberian Asta.
“Phew, don’t forget to sleep”
Ujar Asta yang memberikan pesanan ku.
“Yeah, thanks” Ucap pamit ku
setelah membayar pesanan tersebut.
Aku pun kembali setelah membeli
beberapa Roti, kopi, dan minuman hangat untuk yang lainnya.
Memberikan masing – masing pesanan,
aku pun duduk kembali ke meja kerja ku sambil meminum Kopi hangat ku.
Aku pun kembali mencari kerjaan
di komputer ku dan memutuskan untuk menonton film saja.
Tanpa disadari waktu pun berjalan
cepat, waktu telah menunjukkan pukul 22:00. Kami pun mulai meringkas barang –
barang kami dan pergi kembali ke asrama.
* * *
2 Hari telah berlalu dan Akhirnya
cerita yang dibuat kami pun telah selesai dan dikirim kan ke Studio. Sekarang
hanya menunggu hasil, aku pun pergi berjalan – jalan di taman bernuansa Salju
tersebut.
Aku pun duduk di bangku taman
mengangkat salah satu kaki ku dan meminum kopi pesanan ku.
“Aku sudah
meminum kopi selama 5 hari berturut – turut. Oh perut ku, aku minta maaf” Pikir ku
yang meminta maaf kepada perut ku.
Tiba – tiba turun bintikan Hujan
salju yang perlahan turun.
“Ah Hujan....” Gumam ku melihat
salju yang perlahan – lahan turun.
Aku pun memutuskan untuk pergi
kembali untuk melihat apakah hasilnya sudah ada atau belum. Saat memasuki
ruangan Terlihat Muka Hafid, Ariq, dan Tiara yang masam.
“Ada apa?” Tanya ku yang
penasaran.
“Kita tidak terpilih.... Raisa
pun menyalahkan dirinya sendiri dan pergi” Ujar Ariq membersih kan matanya
dengan tangannya.
Aku pun terkejut dan bertanya,
“Dimana dia sekarang?”.
“Dia pergi keluar kemungkinan
berada di dekat pohon sebelah taman” Ujar Ariq memberitahu.
Aku pun dengan sigap pergi ke
sana sembari membawa payung. Aku yang berlari pun menemukan Raisa sedang duduk
terjongkok di dekat pohon tersebut. Aku pun mendekatinya dengan perlahan
sembari membuka payung untuk melindungi nya dari Hujan salju yang sedang turun.
“Ada apa?” Tanya Ku kepada Raisa
yang sedang temurung.
“Tidak, Tidak apa – apa” Ujar
Raisa menjawab pelan.
“Kemana Perempuan bersemangat itu
pergi?” Tanya ku Tersenyum.
“Entahlah” Ujar Raisa yang
cemberut.
“Kita tak terpilih ya...” Ujar ku
mendongak.
“Iya benar..... Aku hanyalah
orang yang tak berbakat” Ujar Raisa sembari menutup mukanya dengan kaki nya.
“Tak perlu begitu..... Walaupun
kita gagal is about the memory isn’t it?” Ujar ku menghibur Raisa.
“Tetapi bukannya lebih enak bila
kita menang? Tapi aku pun gagal untuk mendapatkan juara Tersebut” Ujar Raisa.
“Begitu ya.... Ya sudahlah.....
Hey kau tahu, perut ku sedang lapar apa kau tidak?” Tanya ku menawarkan.
“Tidak...” Ujar Raisa tapi
perutnya berkata lain.
“Wah lihatlah ini, aku merasakan
dejavu” Ujar Ku Tertawa.
“Mau makan? Aku tau tempat yang enak untuk mengistirahatkan pikiran mu”
Lanjut diriku menawarkan ku.
“Kau yang traktir?” Tanya Raisa
mendongak ke arah ku.
“Eits, tunggu dulu. Biarkan aku
melihat isi dompet ku dulu” Ujar Ku melihat ke dalam dompet ku.
“Yep, Cukup. Mau?” Tanya ku
setelah melihat beberapa uang didalam dompetku.
“Okeh ayo...” Ujar Raisa sembari
berdiri.
Raisa pun terbangun dan aku pun
memberikan payung kepada dirinya.
“Kau tak dingin?” Tanya Raisa.
“Aku? Tidak, aku orangnya Tahan
dingin kok” Ujar ku sembari memberitahu kepada yang lain untuk berkumpul di
Kafe Estelle.
Di kafe Estelle, Terlihat Hafid,
Ariq, dan Tiara sudah berkumpul didalam.
“Kau udah enakan?” Tanya Tiara.
“Sudah....” Jawab pendek Raisa.
Mereka pun duduk bersama – sama.
Aku pun berdiri dan berkata,
“Baiklah Teman – teman, Hari ini aku yang bayar kok... pesan lah tapi
sewajarnya ya... karena uang ku bisa habis kalo kalian tidak sewajarnya ya”
Ujar ku tersenyum meminta tolong.
“Eits, tidak boleh gitu. Kita
bebas teman – teman” Ujar Raisa memulai memesan makanan dan yang lainnya.
Setelah memesan aku pun pergi
ketempat Asta.
“Here the orders.... How much..
the total?” Ujar Ku bertanya kepada Asta.
Asta pun mengeluarkan nota dari
pesanan kami yang menunjukkan total harga dan aku pun sangat terkejut karena
total Uang yang perlu dibayar sangat pas dengan uang yang ku punya sekarang.
Aku pun secara ikhlas dan tak ikhlas membayar makanan tersebut.
Kami pun mulai menyantap makanan,
melupakan kejadian yang tidak mengenakkan tadi. Setelah makan kami pun pulang
kembali ke asrama.
Didalam asrama Laki – laki, aku
pun berbaring dan bertanya kepada Hafid dan Ariq, “Apa kalian keberatan?”.
“Tidak.... sama sekali tidak”
Jawab mereka berdua.
“Aku penasaran apakah kalian
Mempunyai cerita sendiri yang begitu kalian ingat” Aku pun duduk di karpet dan
memulai sebuah topik.
Ariq dan Hafid pun ikut duduk di
dekat ku membentuk sebuah lingkaran kecil.
“Ya, Aku ada” Ujar Ariq.
“Kau Hafid?” Tanya ku menghadap
Hafid.
“Ada juga....” Ujar Hafid.
“Boleh kah aku mendengarkan
cerita kalian?” Ujar Ku yang penasaran.
“Baiklah, aku duluan ya...” Ujar
Ariq yang pertama kali memulai cerita.
“Dahulu kala, saat diriku masih berada
di kelas 8 SMP. Aku adalah orang yang begitu disegani dan terkenal karena aku
adalah seseorang yang aktif dan serbabisa. Aku pun memiliki banyak teman dari
kalangan laki – laki sampai perempuan. Tetapi pada suatu hari, aku terkena
fitnah oleh salah satu teman laki – laki ku. Sampai – sampai, aku pun
terpanggil oleh guru BK dan orang tua ku juga diberitahu. Pulang dari sekolah
dengan muka murung, terlihat kedua orang tua ku yang sudah mulai membentak ku.
Jujur saat itu aku mau berteriak, tetapi nampaknya aku tak berani saat itu. Aku pun masuk
kedalam kamar ku dan memilih untuk tertidur. Keesokannya, aku kembali ke
sekolah dan benar saja ekspetasi ku sesuai dengan realita. Mereka menjauhi ku,
menjilatku, dan sama sekali tidak memperdulikan ku. Kesan terkenal yang awal
nya kumiliki sirna dengan instan. Aku yang stress pun pergi membolos untuk
pertama kali nya di suatu lapangan kosong. Saat itu, aku hanya duduk termenung
memikirkan kapan ini akan berakhir. Lalu datanglah seseorang yang ku kenal, dia
bernama Ryan. Ryan adalah seseorang yang misterius. Dia benar – benar
berbanding terbalik dengan ku. Ryan pun duduk di sebelah ku.
‘Hari yang berat?’ Tanya Ryan
kepadaku.
‘Iya begitulah’ Ujar Ku yang
sudah malas memikirkan hal tersebut.
‘Yah... mereka sudah menunjukkan
tanda – tanda sih’ Ujar Ryan.
‘Maksud mu?’ Tanya ku yang bingun
akan perkataan dirinya.
‘Mereka sudah dari awal bukan
teman aslimu...’ Ujar Ryan tanpa di rem.
Entah mengapa walau sebenarnya
kata itu tidak ada unsur mengejek tapi hal tersebut sedikit menusuk.
‘Tapi kau tahu.... Aku tak pernah
berpikiran kamu melakukan itu’ Ujar Ryan bangun dan tersenyum padaku.
‘Aku tau Sebenarnya kau tak
melakukan itu kan’ Ujar Ryan.
Perkataan Ryan sungguh begitu
dalam bagi ku. Hal tersebut sungguh meringankan beban diriku.
‘Bangunlah, Kau tahu hidup itu
adalah milik kita masing – masing. Jadi, daripada melihat orang lain dulu lebih
baik pikirkan dirimu sendiri terlebih dahulu. Jadi jangan sampai menjadi alat
bagi orang lain tapi, jadilah Seorang yang dapat menggunakan kemampuan mu
dengan baik agar tak mudah dimanfaatkan’ Ujar Ryan.
Aku tau dia adalah seorang
Introvert yang sangat pandai menganalisa orang. Aku pun tersenyum dan bangkit
dari kertepurukan ku. Kami pun sampai sekarang merupakan teman yang sangat
menutupi kedua kelemahan masing – masing. Aku masih sering mengejek nya dan
yah.... kami fokus ke jalan kami masing – masing” Ujar Ariq yang menceritakan
Ceritanya.
“Waw... jadi kalian menjadi kedua
sahabat yang saling menutupi kelemahan kalian satu sama lain?” Tanya ku yang
terkagum akan cerita Ariq.
“Yah betul, ku berikan contohnya.
Misalnya aku adalah seseorang yang kurang peka terhadap sekitar bahkan aku tak
dapat menemukan titik lemah dari seseorang. Tapi dia, Ryan. Dia memiliki
kemampuan analisis yang bagus, aku pun selalu meminta saran dengan dia. Tapi
dia juga memiliki kelemahan yaitu dia kurang dapat menemukan sumber karena
sifatnya yang canggung dan susah untuk Bergaul. Disitulah aku come to play”
Ujar Ariq menjelaskan.
“Wah, keren” Aku yang tersenyum
bangga mengetahui hal tersebut.
“Sekarang giliran mu Fid.
Bagaimana dengan kisahmu?” Ujar Ku.
“Aku ya... aku dulu mempunyai
seseorang pacar dia bernama Amelia , kami saat itu masih SMA. Kami adalah
pasangan yang sangat cocok. Kami menghibur satu sama lain dan saling mencintai
satu sama lain. intinya aku adalah seorang pria yang bahagia saat itu. Tapi
semua itu berubah, ketika Amelia disuruh suruh oleh temannya untuk bergaya
modis lah. Untuk bersifat kayak gini kayak gitu. Judging tersebut pun terus
berlangsung dan itu merubah dirinya. Dia memakai make up dan bergaya modern.
Aku sudah bertanya kepada dia, ‘Apakah kau nyaman?’ dia hanya mengangguk.
Sampai suatu saat, dia pun sudah lelah. Lelah dengan perlakuan ini. Lelah
dengan memakai ini itu. Dan akhirnya dia memutuskan diriku.
Berjalan ke kuliah, kebetulan
kami berada di kuliah yang sama. Aku pun memiliki 2 teman bernama Theo dan
Gibran. Saat itu aku masih mau untuk tetap menjaga tali silahturahmi kami
berdua tapi dia tetap saja menghindari diriku. Suatu ketika dia telah memiliki
lelaki yang baru. Aku pun hanya dapat melihat di balik bayangan.
Tetapi, saat aku berjalan menuju
ke kantin untuk membeli makanan. Aku mendengarkan percakapan cowok tersebut
bahwa dia hanya mengencaninya guna untuk memanfaatkan dirinya. Mendengar hal
tersebut sontak membuat ku marah dan berkelahi dengannya. Aku menang, tetapi
dengan bayaran Amelia melihat ku dengan tatapan marah.
‘Cukup.... cukup kau resahkan
hidupku’ Ujar Amelia yang begitu marah kepadaku.
Aku hanya bisa menerimanya dengan
tatapan kosong dan tak begitu peduli dengan perkataanya. Aku pun mulai saat itu
mengawasi dirinya dalam bayangan. Terlihat senyumannya yang sudah kembali.
Sampai akhirnya aku yang sudah berumur tiba – tiba diundang ke pernikahan oleh
temanku, Theo. Melihat undangan tersebut aku terkejut melihat nama pengantin
perempuannya, yaitu Amelia. Aku pun hanya bisa melihat betapa bahagianya dia
dengan teman ku. Tetapi entah mengapa melihat bahwa dia akhirnya dapat bahagia,
membuat ku tersenyum karena akhirnya aku pun terbebas dari kekangan yang selama
ini menganggu dan membebaniku. Aku pun pergi kembali ke rumah ku dan tersenyum.
Dunia memang tak selalu adil,
tapi ku yakin menyaksikan dirinya bahagia membuat ku terbebas dari kutukan yang
selama ini mengekang ku” Ujar Hafid yang bercerita.
“Jadi... bagaimana kondisi
hubungan mu dengan dia?” Tanya ku yang sedikit merasa kasihan kepada Hafid.
“Aku dengan dia? Yah... dia masih
saja menghindari ku jadi ya nampaknya kami tidak dapat bertemu lagi” Ujar Hafid
tersenyum.
“Sedangkan kau dan Theo?” Tanya
Ariq yang juga penasaran.
“Aku dengan dia juga sudah jarang
kontakan.... nampaknya dia sudah sibuk dengan urusannya” Ujar Hafid sembari
menguap.
“Begitu ya...” Ujar ku menunduk.
“Baiklah nampaknya sudah malam
mari akhiri omongan hari ini” Ujar Ariq.
Kami pun akhirnya kembali
keposisi tidur masing – masing dan tertidur mengakhiri obrolan panjang
tersebut.
* * *
Keesokan harinya, kami pun tetap
berkumpul di Ruangan yang sama ketika kami bekerja. Terlihat Raisa yang begitu
lesu menghadap ke arah langit – langit.
Tiba – tiba, datanglah Ariq
dengan tergesa – gesa.
“Hah, hah, hah... semuanya
dengarkan!” Ujar Ariq yang terengah engah.
“Ada apa?” Tanya ku yang bangkit
dari tempat duduk ku.
“Tadi setelah hasil rapat,
diinfokan bahwa yang tak mendapatkan kemenangan tadi di berikan kesempatan
kedua. Jadi awal nya yang 50 tim di pilih 20 tim yang akan dibukukan tetapi
karena posisi kita adalah rank 22 kita pun di berikan kesempatan 2 untuk
mengirim lagi 1 cerita yang berkesempatan untuk di bukukan” Ujar Ariq
memberitahu kami.
Mendengar hal tersebut, mood kami
pun menjadi naik. Kami pun kembali bersemangat untuk bekerja lagi.
“Sebelum itu, aku mempunyai
Saran. Daripada 1 orang yang membuat cerita kenapa tidak kita berlima membuat
cerita nya bersama – sama. Aku tau Raisa kemarin sudah berusaha tetapi
kekecewaan tersebut hanya dibebani oleh satu orang. Jadi bila kita gagal,
artinya kita telah gagal bersama. Dan itu malah membuat memori yang indah di
benak kita” Ujar ku memberi saran.
“Selain itu walaupun proses nya
berlangsung lebih lama daripada trik yang kita pakai sebelumnya. Tetap saja
pematangan cerita nya akan lebih matang daripada dikerjakan sendiri” Lanjut
diriku menjelaskan.
“Jadi, bagaimana? Apakah kalian
menerima saran dari Arif?” Tanya Ariq melihat sekitar.
Hafid, Raisa, dan Tiara pun
mengangkat tangannya menunjukkan bahwa mereka sangat setuju dengan saran ku.
“Baiklah kita mulai kembali,
cerita baru, awalan baru, dan kali ini kita tak sendirian tapi secara bersama –
sama” Ujar Ariq tersenyum.
Kami pun mulai bekerja secara
bersama – sama. Membuat skenario dan sketsa dari Cerita tersebut.
Menyeruput kopi dan minuman
hangat, memakan roti dan sup, tanpa sadar tertidur di kantor, bersantai di kafe
Estelle, bersenda gurau dengan Asta meningkatkan silahturahmi, Tertawa bersama,
Mengobrol bersama, curhat bersama, dan pada akhirnya Cerita yang berjudul
“Amnesia & Memories” pun telah selesai dan dikirim.
Waktu demi waktu berjalan sangat
cepat. Hari penentuan yang begitu ditunggu – tunggu pun datang. Raisa yang
terlihat ketakutan pun membuka matanya perlahan – lahan. Aku pun juga membuka
perlahan – lahan mata ku untuk melihat hasil pemilihan.
Dan betapa terkejut nya kami
berlima, nama cerita Amnesia & Memories pun berada di top 1 teratas sebagai
buku yang akan dibukukan.
Kami pun melihat satu sama lain
dan sontak bergembira atas apa yang terjadi.
“Kita berhasil... kita benar –
benar berhasil” Ujar Raisa yang begitu terharu akan apa yang terjadi.
“Kau lihat itu, Sa? Kita
berhasil” Ujar ku yang begitu senang.
“Hahaha.... baiklah Kita rayakan
di Kafe Estelle. Hari ini gantian aku yang traktir” Ujar Ariq yang mengajak
kami.
“Hahahah” Ujar Ku yang tertawa.
Kami pun akhirnya membagikan
Kesenangan ini kepada Asta dan kehangatan tersebut terus terasa di Dalam Kafe
tersebut.
Pada malamnya, Aku sedikit
termenung melihat kearah langit – langit memikirkan sesuatu.
“Apa yang kau pikirkan, Rif?”
Tanya Ariq yang melihat ku termenung.
“Aku hanya memikirkan... how you
confess?” Ujar Pendek dari ku
“Apa? Confess? Wah gak bilang –
bilang ini.. ayo cerita” Ujar Ariq yang terkejut.
Hafid pun bangun dari posisi
tidurnya dan ikut mendengarkan.
“Ceritanya... aku ingin melamar
Raisa” Ujar ku yang menatap serius.
“Apa...” Ujar Hafid yang
terkejut.
“Apa aku terlalu berlebihan ya?”
Tanya ku yang mulai ragu.
“Tidak, tidak juga. Kau sudah
banyak menolong dirinya bukan? Hanya saja keberanian mu itu patut aku ancungi
jempol” Ujar Ariq memuji diriku.
“Kemungkinan besar kau akan
diterima. Karena kau adalah seseorang yang serius dan berani begitu” Lanjut
Ariq yang menjelaskan.
Kami pun mulai mengobrol tentang
pemberian lamaran dan lain – lain. Tanpa disadari, aku sudah tertidur.
* * *
Liburan pun telah tiba, Kami pun
bersantai dan menikmati musim salju yang pertama kali kami rasakan. Kami
pertama tama berjalan - jalan di taman, bersantai dan menikmati suasana dingin
di London tersebut.
Tanpa disadari, Ariq melempar
bola salju ke arah diriku yang tepat mengenai dadaku. Tak mau kalah, Aku pun
dengan sigap membuat bola salju dan melempar nya ke arah Ariq. Perang salju
diantara para laki – laki pun dimulai. Tetapi, karena keseruan yang kami alami.
Tanpa di sadari, salah satu bola yang ku lempar nyasar dan mengenai tepat di
belakang kepala Raisa.
Raisa yang terkena berbalik ke
arah ku dan berkata, “Nampaknya kalian seru sekali bermain” dengan tersenyum.
Kami pun habis di marahi oleh
Tiara dan melanjutkan liburan kami.
Kami pun berjalan menuju ke
jembatan Westminster. Jembatan ini begitu cantik, lalu terlihat keindahan Kota London
ketika dikala Musim Salju ini.
Di atas jembatan yang tertutup
salju, Kami melihat pemandangan indah Big Ben dan kota London yang tertutup
salju. Selain itu, terlihat pemandangan keindahan Sungai Thames.
Tetapi suasana yang sangat dingin
tersebut, membuat kami tak begitu tahan berlama – lama disana dan memutuskan
untuk melanjutkan perjalanan kami.
Setelah menyeberangi jembatan
Westminster sampailah kami di daerah SouthBank. Kami berjalan memijaki Jalanan
yang di tutupi salju, terlihat suasana ramai dan langit gelap tetapi di cahayai
oleh Lampu – lampu yang ada di tempat tersebut.
Itu adalah Winter Festival,
banyak orang – orang bermain Ice Skating, Meminum anggur, dan bersantai.
Aku pun mengajak yang lain untuk
mencoba Ice Skating yang sedang dimainkan banyak orang tersebut.
Bermain ice skating tersebut
begitu sulit. Aku hampir terjatuh berkali – kali dan membuat ku sedikit takut
untuk berjalan keluar dari pegangan ini.
Terlihat Hafid yang begitu lincah
memainkannya,
“Hey, bagaimana kau sudah begitu
jago dalam memainkan tersebut?” Tanya ku melihat sinis ke Hafid.
“Entahlah, Mungkin aku punya
‘Bakat alami’” Ujar Hafid dengan nada Sombongnya.
“Ah sial..” Gumam
pelan ku.
Susul Ariq dan Raisa yang sudah
mulai bisa ikut bermain. Tertinggal aku yang masih terjebak di Pegangan pengaman.
Aku pun memutuskan untuk duduk
melihat mereka bermain sembari mengambil kopi ku dan menyeruputnya,
“Wah.. sudah
beberapa hari aku minum kopi terus? Maafkan aku ya Perut tapi coffee is just to
good man” Pikir ku yang
sekali lagi memegang perutku.
“Nampaknya
mereka bersenang – senang” Pikir ku melihat ke arah mereka.
“Hey!! Ah Arif penakut...” Ujar
Raisa mengejek ku.
Aku pun tersenyum dan berkata,
“Sudahlah, aku tak bisa bermain itu. Bagi ku itu sedikit menyeramkan”
“Wah, Arif gak seru...” Ujar
Balik Raisa.
“Ya sudah mari kita pergi ke
destinasi selanjutnya” Ujar Ariq yang juga mulai menyusulku.
“Ya... betul
juga dalam hitungan jam sebentar lagi mau tahun baru...” Pikir ku
yang beranjak dari kursi dan ikut menyusul dengan yang lain.
Kami yang memutuskan untuk keluar
melihat ke arah tempat berlangsungnya festival. Terlihat keramaian yang sedang
menunggu tahun baru.
Aku pun melihat ke arah ponsel ku
dan jam menunjukkan pukul 11:02 PM. Ariq dan Tiara pun memutuskan untuk melihat
– lihat jajanan yang kemungkinan bisa dibeli untuk dijadikan oleh – oleh
kenangan.
Hafid yang sendirian memutuskan
untuk duduk di bangku taman untuk bersantai sembari menikmati teh nya.
Akhirnya tersisa aku dengan Raisa
berdua. Aku pun memutuskan untuk mengajak Raisa berjalan – jalan. Aku pun
mengajak Raisa untuk menaiki London Eye atau Kincir Ria sebagai bayaran ku yang
tidak bermain Ice skating tadi.
Aku pun memesan tiket dan menaiki
Kincir Ria tersebut bersama dengan Raisa. Terlihat suasana Ramai ketika
mengantre giliran untuk masuk ke dalam London Eye. Pada akhirnya, Kami berdua
pun memasuki Kincir Ria tersebut.
Terlihat suasana London yang
begitu terang dan indah dari Atas London Eye tersebut. Setelah melihat
pemandangan tersebut aku pun menatap ke arah Raisa. Terlihat dia begitu takjub
yang serius menatap ke arah Pemandangan Big ben dan kota London yang begitu
terang tersebut.
“Bukannya ini merupakan
pemandangan yang bagus untuk di foto?” Ujar Raisa yang begitu kagum melihat
Pemandangan tersebut.
“Yah.. kau benar” Ucap ku yang
melihat ke arah Raisa.
“Kau tahu suasana ini begitu
menyenangkan bukan?” Ujar ku Tersenyum.
“Ya.. betul..” Ujar Raisa yang
ikut tersenyum.
Raisa pun menghadap ke arah ku
dan berkata, “Banyak hal yang kita lalui ya...” Sembari sedikit tertawa kecil.
“Yah kau benar, aku sedikit
kerepotan lho memperbaiki mu yang sedikit rusak beberapa hari lalu” Ujar ku
mengejek Raisa.
“Ya, ya. Maafkan aku, saat itu
aku seorang gadis yang lemah. Apakah aku sudah bilang terima kasih? Kalau belum
terima kasih ya..” Ujar Raisa yang tersenyum pada ku.
Tapi senyuman itu, itu senyuman
sarkas. Kadang aku harus tau kapan aku harus rem atau tidak.
“Tetapi aku juga tidak menyangka
kita akan dapat memenangkan lomba tersebut” Ujar Ku yang sedikit menghembuskan
nafas.
“Aku juga. Tapi itu adalah berkah
yang begitu menyenangkan” Ujar Raisa juga sangat senang akan berita kemenangan
tersebut.
Tak terasa 30 menit berlalu, kami
pun keluar dari London Eye dan kembali berjalan – jalan. Aku dan Raisa pun
melanjutkan jalan – jalan disekitar festival tersebut.
Rupanya kami berjumpa dengan
orang yang kami kenal dijalan yaitu, Asta.
“Oh Hey Asta!” Ujar ku
menyapanya.
“Whoa, hello Arif and you too
Raisa” sapa Balik Asta.
“Yeah Hello too” Jawab balik
Raisa.
Asta pun merangkul ku dan
berbisik, “So this is the girl huh... Good luck”
“Ehhh..” Bisik ku yang terkejut.
“Thank you Asta” Ujar Ku yang
melepas rangkulan tersebut.
“Yep” Jawab pendek Asta.
Aku dan Raisa pun melanjutkan
perjalanan kami berdua dan sampai lah kami di suatu spot yang tak terlalu ramai
mempersiapkan diri untuk melihat kembang api.
“Kau tahu Arif, aku benar – benar
berterima kasih atas ucapan mu pada hari itu. Aku tidak tahu harus apa bila kau
tak membantuku” Ujar tulus Raisa.
“Hahaha, tidak hal itu bukan apa
– apa” Jawab pendek dari ku.
“Kau tahu takdir dulu pun
akhirnya bersemi kembali. Ingat saat diriku masih kecil dan SMA kau lah yang
menyelamatkan ku dulu. Entah kenapa itu terasa nyaman” Ujar Raisa sembari
memegang tangannya yang berlapis sarung tangan tersebut.
“Aku juga begitu senang melihat
mu yang akhirnya tertawa dan kembali tersenyum. Sebenarnya aku sempat takut kau
butuh waktu lama untuk menyembuhkan diri” Lanjut Raisa yang melihat ke arah ku.
“Aku sebenarnya bukan orang yang
kuat juga... aku hanyalah seorang yang lemah dan mudah menangis. Aku bukan
seperti seorang pangeran yang dapat di andalkan atau pun aku bukan seperti
lelaki – lelaki yang sangat kuat luar sana” Ujar diriku yang menghadap ke arah
langit.
“Aku kurang dapat dihandalkan,
aku begitu lemah dan sensitif, aku orangnya hanya dapat melihat dan
memperhatikan, aku hanya selalu menunduk, dan dibanding lelaki diluar sana
mungkin aku hanya golongan kelas E” Lanjut diriku sembari tersenyum ke arah
Raisa.
“Tidak! Kau itu sangat berharga,
begitu berharga. Tanpa mu mungkin aku tak bisa bangkit dari keterpurukan, tanpa
mu suasana hangat di Kelompok Sastra kecil ini tidak akan terbentuk, dan tanpa
mu.... mungkin kami.... kami tidak akan terlalu mendapatkan momen berharga ini.
Memang kalo dilihat dari luar kau hanyalah seorang lelaki kelas E, tetapi
begitu sudah dekat denganmu..... kau adalah orang yang paling baik” Ujar Raisa
yang memarahi ku.
Mendengar ucapan tersebut aku
terdiam, lalu terasa jantung ku berdegup semakin cepat, dan dada ku terasa ada
yang ingin keluar.
“Kau tahu.... saat itu aku kira
hidup ku benar – benar hancur dan berantakan. Tetapi, ketika diriku yakin
semuanya telah berakhir. Tiba – tiba, datang lah seseorang yang membuat diriku
kembali tersenyum, kembali memiliki keyakinan untuk tetap hidup... selama ini
perjalanan yang ku alami dan kisah orang yang begitu menyedihkan membuat diriku
takut. Takut akan berakhirnya momen ini dan Takut aku takkan mengalami hal
seperti ini kembali. Tetapi, sebuah bulan kecil selalu saja menghangatkan ku
dan memberikan secercah keyakinan untuk tetap hidup. Jadi, Raisa. Perasaan yang
selama ini ku tahan sudah tak bisa ku tahan lagi. *tangan ku pun memegang ke
arah tangannya* Satu – satunya hal yang bisa ku janjikan padamu saat ini
adalah hatiku yang begitu tulus mencintai mu. Jadi, maukah kamu tuk menjadi
pilihan ku? Menjadi yang terakhir dalam hidup ku... Maukah kamu tuk menjadi
yang pertama? Yang selalu ada di saat pagiku membuka mata?” Tepat saja setelah
selesai berbicara seperti itu, terlihat kembang api yang menghiasi angkasa
malam tersebut. begitu indah cahaya yang menghiasi langit malam pada kala itu.
Tatapan ku begitu serius
menghadap ke arah Raisa. Tangan ku pun juga serius memegang tangannya. Menanti
sebuah jawaban yang di jawab oleh nya.
“Ah....... aku....” Ucap pelan
Raisa.
Raisa pun tersenyum dan menghadap
kearahku.
“Aku terima” Jawab Raisa yang
tersenyum tulus ke arah ku.
Aku yang begitu terkejut pun
terjongkok lemas.
“Hah... akhirnya beban yang
selama ini ku tahan di dadaku bisa keluar” Ujar ku sembari mendongak keatas
melihat ke Arah Raisa.
Malam yang begitu indah tersebut,
malam yang penuh akan kenangan tersebut, dan malam yang tak akan terlupakan
tersebut begitu indah.
* * *
Beberapa hari sudah berlalu,
Perilisan buku dan hadiah sebagai pemenang pun sudah didapatkan. Tak terasa,
sudah beberapa minggu di london akhirnya pun sudah kembali ke rumah.
Disini lah pernikahan akan segera
dimulai. Aku sudah memberi tahu kepada keluarga Raisa dan Akhirnya acara
pernikahan akan segera dimulai.
Aku yang sudah berpakaian rapi
yang akan menjadi seorang pengantin pria. Aku menata ke arah cermin. Aku pun
tersenyum dan menatap lesu ke arah muka ku.
Setelah itu aku pun beranjak dari
tempat duduk dan pergi keluar.
Aku pun duduk sekalian menunggu
para keluarga pengantin perempuan.
Sudah 1 jam berlalu belum ada
yang datang, aku pun pergi mengambil air putih untuk minum dan duduk kembali.
1 jam lagi pun berlalu, aku pun
mulai merasa tidak enak dan menyuruh Hafid untuk menghubungi mereka.
Dan 1 jam lagi pun berlalu
kembali, muka ku sudah menunjukkan tanda – tanda kekhawatiran, Jantung ku juga
berdegup lebih kencang.
Tiba – tiba, Handphone ku
berbunyi. Aku pun segera mengangkat telepon tersebut dan begitu terkejut nya
aku. Aku pun menyuruh Hafid untuk segera bersiap – siap dan pergi menggunakan
mobil.
Dengan ngebut kami pun akhirnya
sampai di tujuan yang di bilang. Aku pun terburu – buru lari melewati pintu dan
pintu lainnya.
Dan sangat terkejut melihat
pandangan yang ada di depan ku. Saat itu aku melihat, Ariq yang sedang panik,
Tiara yang sedang menenangkan keluarga Raisa, dan Keluarga Raisa yang sedang
menangis. Lalu terakhir berada di tempat tidur yaitu Raisa dengan berlumuran
darah.
Aku pun bergerak cepat
menghampiri Raisa. Jantung ku rasanya mau meledak. Aku pun memegang tangan
Raisa.
“Hey, Raisa.... kau tahu, kita
pasti akan mewujudkan mimpi tersebut kan. Kau tahu aku saja belum menepati
janji ku lho, Tolong sebelum aku menepati janji ku untuk tetap
hidup.....” Ujar ku yang perlahan suara ku bergetar.
“Ar....if.....Jan......gan.....se.....dih.....kau.....har....us.....te....ta...p......hi....du...p”
Ucap Raisa dengan nafas terengah dan suara yang begitu pelan dan Bergetar.
“Raisa... kumohon....Jangan
tinggalkan aku... tolong.......jangan saat diriku ini baru saja menemukan
keyakinan...” Ujar Ku yang suara ku bergetar hebat.
“Me...mang......ta....pi.......ka.....u.......ha.......rus........ba.....ha.....gi......a....de....ng......an......ku.......a......ta....u.............ti......dak......”
“Kumohon Raisa! Jangan, Jangan,
jangan, jangan, jangan!”
“A.......ku.......tak.......kan..........per.......gi......kok.......a......ku............ak......an...........se.....la........lu.......ber........sa........ma.......mu..........”
Setelah mengucapkan hal itu Raisa pun menghembuskan napas terakhirnya
dengan tersenyum.
Aku hanya terdiam melihat itu,
aku terjatuh, dadaku tiba – tiba terasa lemas, tiba – tiba aku merasakan ada
yang mengalir di wajahku.
“Apa yang sedang
terjadi?” Pikir ku.
“Hari ini kita
akan berbahagia kan” Sembari melihat ke arah Raisa.
“Hahahahaa......hahahhaha..hahhahaa........Aku........sama.......sekali.......tak
mengerti......”
Perasaan yang begitu meluap di
dalam tubuhku memecah pikiran dan realiti yang sedang ku hadapi.
Waktu berjalan. Aku menghadap ke
arah acara pemakaman yang sedang terjadi.
“Apa yang
terjadi? Mengapa aku disini? Aku tak mengerti....”
Tersisa diriku sendiri di
pemakaman tersebut. Aku menatap dengan tatapan kosong dan hampa ke arah makam
tersebut.
“Raisa....kau.....dimana....”
Aku pun tersenyum dengan mata ku
yang berair itu.
“Begitu ya......
aku..... tak.....di perbolehkan........untuk........bahagia.......happy ever
after they said?........”
Aku pun pulang dan masuk ke dalam
kamar memproses apa yang terjadi.
“Happy ever
after? Itu bukannya seperti cerita yang bahagia?” Terdengar suara
di Di antara kegelapan tersebut.
“Diakhiri dengan
bahagia? No..... You are only a trash” Sahut suara dari
tempat lain.
“Hahahahah.....
bahkan eternal happiness pun pada akhirnya lari dari mu....” Sahut
lagi suara dari tempat lain.
“Jangan harap
kau akan bahagia Arif....” Sahut lagi suara dari tempat lain.
“Kau hanyalah
ampas jalanan, kau hanyalah membawa malapetaka kepada orang lain” Sahut
lagi suara dari tempat lain.
“Lihat saja,
setelah kau mencintai seseorang maka kutukan mu itu akan aktif” Sahut
lagi suara dari tempat lain.
“Kutukan apa?
Hah omong kosong lebih keren sebutannya adalah takdir” Sahut
lagi suara dari tempat lain.
“Jadi........
kesimpulannya adalah kau hanya dilahirkan disini sebagai orang yang akan mati
tanpa akhir yang bahagia” Sahut lagi suara dari tempat lain.
“Ucapan Mereka
benar...... aku hanyalah sampah yang membawa malapetaka kepada orang lain.....
aku memang ditakdir kan untuk hidup tanpa akhir yang bahagia” Ujar
Diriku yang telah kehilangan setengah jiwa raga ku dengan lemas.
Tetapi, tiba – tiba datang lah
seorang perempuan dengan cahaya yang begitu terang dan Sayap putih nya
mendekati diriku.
Wajah itu. Aku mengenali nya itu
adalah Wajah Raisa.
“Kau sehat?”
Tanya Raisa.
“Mengapa.....
mengapa kau meninggalkan ku.....” Ujar Diriku.
“Maafkan...
aku....” tiba – tiba Raisa memeluk diriku.
“Aku... aku
ingin sekali bersama dengan mu. Melihat dirimu menepati janji. Tetapi takdir
berkata lain” Ujar Raisa yang juga mengeluarkan air mata nya.
“Jadi.... apakah
aku hanya dilahirkan agar menerima takdir berat ini?” Tanya ku.
“Tidak, Arif.
Kau berharga” Ujar Raisa.
Perkataan itu, merupakan kata –
kata yang aku ingat. Itulah kata – kata Raisa ketika aku akan melamar Raisa.
“Aku tak mau
melhat mu menderita Arif, Aku tak mau melihat mu terus bersedih akan kepergian
ku.....”
Kata – kata ini juga, pernah ku
dengar saat Asta bercerita tentang masa lalu nya.
“Walau hidup
berat, Arif. tapi aku akan..... selalu ada dalam setiap mimpimu.... jika kau
mati sekarang..... kita tidak mungkin bertemu.....”
“Dan terakhir
kata – kata ini juga pernah ku lihat setelah membaca ending dari Buku ‘Dimulai
dengan Cerah, Diakhiri dengan Hujan’. Jadi semua ini terhubung” Pikir
ku
Aku pun melepas pelukan Raisa dan
berkata, “Aku akan tetap hidup..... terima kasih dan berjanjilah untuk
selalu berada dalam mimpiku sampai akhir hayat ku”
“Yah... aku
janji” Ujar Raisa tersenyum kepadaku.
Aku pun terbangun dari mimpi
panjangku itu. Aku pun pergi menemui teman – teman ku dan berkata, “Ayo, bantu
aku penuhi janji ku”
Mereka pun setuju dan kami pun
pergi ke acara pemberian selamat atas penghargaan perilisan buku di London.
Disitu aku diberikan kesempatan
memberi tahu informasi penting yaitu,
“Aku disini untuk menepati janji
ku untuk tetap hidup dan membuat cerita baru berdasarkan pengalaman pribadi
yaitu, ‘Keyakinan yang Hilang’” Ujar Diriku.
Sontak hal tersebut pun viral dan
menuai banyak dukungan serta doa dari para media massa.
* * *
10 tahun telah berlalu,
“Jadi pak, apa inspirasi yang kau
dapatkan tentang buku baru mu?” Tanya Pewawancara.
“Aku penuh akan inspirasi, aku
hanya lah seorang manusia biasa yang mencari pengalaman dan kenangan” Ujar
Diriku tersenyum.
“Lalu pak, kita tahu buku
‘Keyakinan yang Hilang’ adalah buku yang booming beberapa tahun lalu dan menuai
banyak komentar apa reaksi bapak” Tanya pewawancara.
“Booming ya??? Aku hanya ingin
menepati janjiku...” Ujar diriku tersenyum lesu.
Akhirnya pun wawancara selesai,
aku pun kembali ke tempat tidur dan tertidur.
Aku melihat ke
arah sebuah pohon dan terlihat Raisa yang sedang berteduh. Aku pun
menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
“Kau sehat,
Arif?” Tanya Raisa.
“Aku sehat”
Jawab pendek ku.
“Kau tahu aku
berhasil menepati janji ku 10 tahun yang lalu lho....” Ujar Diriku bersemangat.
“Wah
benarkah..... Selamat Arif.... kau pasti lelah kan...” Ujar Raisa yang merasa
prihatin.
“Ya.... aku
sangat mengantuk” Ujar ku menggaruk mataku.
Aku pun tertidur
di pangkuan Raisa.
“Jangan
tinggalkan aku ya...” Ujar pelan dari ku.
“Tidak aku masih
disini kok....” Jawab Raisa.
“Kau........
masih disana...... Raisa?” Tanya Ku.
“Yah....
Arif..... aku masih disini....” Jawab Raisa.....
“Dampingi.....aku.....ya...selama....masih
tidur.....” Ujar diriku memastikan.
“Aku akan selalu
mendampingimu Arif....” Ujar lembut Raisa.
“Aku mencintaimu...” Ujar pelan ku.
“Aku juga
mencintaimu....” Ujar lembut Raisa.
“Selamat malam,
Arif” Salam Raisa dengan lembut sembari mengelus kepala ku.
“Selamat malam
Raisa....” Ujar ku yang perlahan tertidur.
Aku pun tertidur........untuk
selamanya.......
THE END
“Manusia akan selalu diperbudak dengan keyakinan mereka
masing - masing. tetapi keyakinan itulah yang membentuk setiap pilihan yang di
tentukan oleh masing - masing individu. Bila
manusia tidak mempunyai keyakinan lagi. Maka manusia hanya bisa termenung tanpa
tujuan yang membuat semangat hidup pun meredup”
Komentar
Posting Komentar