RW #2

“Suara banjo?”

Aku pun terbangun lagi, kali ini berada di sebuah tempat berarsitektur jepang. Pakaian ku juga berubah menjadi sebuah kimono yang nyaman. Aku tak mengingat sebelumnya aku berada dimana tetapi yang jelas aku harus mengetahui informasi tentang tempat yang sekarang aku berada.

Jujur tempat tersebut sangatlah besar, orang – orang berjalan mengurusi urusan mereka masing – masing. Jika dilihat tidak ada sama sekali tanda – tanda modernisasi di sekitar. Alat seperti TV atau radio sama sekali tidak terlihat.

Oh, just a little introduction. I’m Karma, itu adalah satu – satunya yang ku ingat dari diriku. Tapi aku bisa merasakan bahwa diriku sering berpindah pindah tempat.

Melihat situasinya seperti nya aku berada di zaman peradaban di jepang.

“Apa yang harus kulakukan disini....” Pikir ku yang terlihat bosan.

Tiba – tiba, tanpa disengaja aku tertabrak oleh seorang bocah. Bocah tersebut terdiam dan menghadap ke arah ku. Dia menunduk dan berkata,

“Maafkan aku Tuan..” Ujarnya Meminta maaf lalu pergi.

Dari hanya melihatnya saja, kelihatan nya bocah tersebut merupakan seorang pelayan seseorang.

Well, i don’t have times to minding other business. Aku terus berjalan menjelajah kota tersebut. Sampailah aku di sebuah pasar bazar yang dipenuhi banyak orang.

Bahkan, aku melihat orang – orang membawa sebilah katana. Memang sedikit menakutkan, tetapi aku tahu aku hanya perlu tidak berurusan dengan mereka.

Aku pun memutuskan untuk membeli sebuah katana. Entah mengapa, firasat ku mengatakan aku tahu bagaimana caranya berpedang.

Di kantung ku pun terdapat cukup banyak uang, mungkin aku merupakan seorang yang kaya di timeline ini. Aku pun membeli beberapa makanan untuk diriku sendiri sembari berjalan – jalan lagi.

“Tuan, tolong beri kami makanan...” Ujar seorang bocah meminta makanan kepada diriku.

Sungguh malang pikirku, karena merasa kasihan aku pun memberikan beberapa potongan roti kepada mereka.

“Terima kasih tuan......” Ujar bocah tersebut yang dengan sigap lahap memakan roti tersebut.

“Apakah kamu tahu hal yang menarik disini?” Tanya ku kepada bocah tersebut.

“U-uh..... karena tuan adalah seorang pengguna pedang, saya menyarankan tuan untuk pergi ke arah timur dari sini. Di sana terdapat hutan rindang penuh monster, mungkin tuan ingin memberikan tes kepada kemampuan tuan” Ujar bocah tersebut memberikan petunjuk arah.

“Hutan monster? Ya.... karena tidak ada kerjaan mungkin aku kesana...”

Aku pun memutuskan untuk pergi ke sana, perjalanannya cukup lama dikarenakan faktor tidak ada transportasi.

Sampailah aku di sebuah hutan yang begitu rindang. Aku berjalan di dalam hutan tersebut. 20 – 30 meter berada di dalam, perasaan ku sudah tidak enak. Seperti ada yang mengawasi mirip seorang predator yang mengawasi mangsanya.

Benar saja keluar beberapa bandit dengan pisau menyerang ku secara bersamaan. Tetapi, entah mengapa dengan reflek aku langsung bisa menebas mereka semua.

“Tunggu, itu tadi aku?” aku masih tidak percaya dapat membunuh 4 orang bandit yang membawa pisau.

Aku pun memutuskan meninggalkan mereka dan berjalan terus mengarungi hutan tersebut. Lagi – lagi perasaan tidak enak muncul membuat ku merinding. Benar saja sebuah bilah kunai meluncur dengan cepat ke arah ku dan lagi – lagi dengan reflek aku bisa menghindari serangan tersebut.

“Oho sudah lama sekali orang kuat tidak datang kesini” Ujar Seorang pria tua berambut putih dari atas pohon tersebut.

“Siapa kamu? Main lempar – lempar aja” Ujar ku menjawab orang tersebut.

“Nama ku Arima, bisa di bilang aku adalah penjaga di sini?” Ujar Arima menjelaskan.

“Penjaga dari mana.....Jadi kau sang monster itu?” Tanya ku.

“Monster? Bukan jelas..... ada yang lebih ‘monster’ lagi..... biar ku jelaskan di hutan ini tinggal sebuah klan kuno bernama Shōri ( 勝利 ), mereka mempunyai kemampuan di luar nalar manusia. Mereka bersembunyi dari manusia lainnya agar kemampuan mereka tetap terjaga” Ujar Arima menjelaskan.

“Kemampuan di luar nalar?”

“Ya betul..... seperti Kunai tadi, orang biasa pasti sudah mati terkena kunai tersebut tetapi kamu bisa menghindari kunai tersebut” Ujar Arima yang melempar kunainya lagi dan menghancurkan pohon tersebut. Jika aku tidak dapat menghindarinya, mungkin kepala ku sudah hilang.

Arima pun mengajak ku untuk berjalan menuju ke persembunyian mereka.  Tempat tinggal yang besar ini bersembunyi di dalam hutan seperti ini. Begitu takjubnya aku melihat pemandangan tersebut.

Aku disambut seperti orang asing di mata mereka. Yang bisa kulakukan hanya bersikap percaya diri. Sampai lah aku di sebuah rumah yang besar, kemungkinan besar mirip sebuah kuil.

“Ku antarkan orang yang pantas akan kekuatannya...” Ujar Arima kepada seorang yang duduk di sebuah takhta tersebut.

“Sudah lama sekali..... nama ku Akihiro, kepala klan agung ini” Ujar Akihiro yang terlihat dengan kimono yang agung.

“Saya Karma. Hanya seorang petualang yang lewat....” Ujar ku merendahkan diri.

“Petualang ya...... jadi kamu hanya seorang yang memiliki penasaran yang tinggi ya.....” Ujar Akihiro lalu ia merenung sebentar dan melanjutkan perkataannya,

“Kamu boleh berkeliling di sekitar sini..”

Aku pun memutuskan untuk berkeliling di persembunyian Klan Shōri ini. Bagi ku tidak ada yang terlalu menarik, ini seperti tempat sebuah klan pada umumnya.

Aku yang bosan pun duduk dan memakan makanan yang diberikan oleh mereka. Satu buah, dua buah, ku habiskan. Saat ku ingin mengambil lagi, tiba – tiba makanan ku telah hilang.

“Tunggu apa – apaan ini...”

Melihat ke sekitar, aku menangkap sebuah Silhoutte yang terlihat sedang memakan sesuatu. Aku dengan cepat pergi ke situ dan Boo! Mengejutkan dirinya.

“Aah.......” Teriak terkejuk seorang gadis berambut berwarna hitam, ponytail, dengan sebuah pita merah di rambutnya.

“Kamu ya..... kalo mau minta, tinggal minta aja.....jangan nyuri gitu” sejujurnya aku mau marah tetapi melihat ekspresi dia yang terlihat polos membuat ku menarik emosi ku.

“Ehe..... Maaf~ Aku ambil lagi nih” Ujar Gadis tersebut.

“Ehe mata mu.....” Jawab ku yang menggaruk kepala. Tiba – tiba, seorang pria berambut biru indigo menyerang ku. Dengan reflek aku menghindari serangan tersebut.

“Eh.... Aki! Jangan menyerang dia...” Ujar Gadis tersebut menahan pria itu.

“Apa maksudmu?!” Pria itu berhenti sejenak dan mendengar penjelasan dari Sang Gadis

. . .

“Ah... begitu... Maafkan Aku atas perlakuan ku. Nama ku Aki dan ini saudari kembar ku Haru...” Ujar Aki menunduk meminta maaf dan memperkenalkan dirinya.

“Ah... sakitnya.... haha nama ku Karma, aku adalah orang luar” Ujar ku memberi informasi sedikit tentang diriku.

“Aku lagi – lagi meminta maaf, mungkin untuk permintaan maaf aku akan mengiring mu dalam berkeliling” Ujar Aki memberikan permohonan maaf sekali lagi.

“Ah Karma mau jalan – jalan kan? Aku tahu tempat yang bagus” Ujar Haru dengan antusias yang begitu tinggi.

“Haru hati – hati....” Ujar Aki memperingati.

Kami bertiga pun berjalan – jalan mengitari hutan. Di situ, Haru mengantarkan ku ke sebuah danau Yang begitu luas nan indah. Kami bermain – main disana. Aki yang hanya mengawasi kami tarik ke dalam air juga. Sempat di marahi tapi aku mengejeknya sebagai balas dendam perbuatannya nya tadi.

Malam telah tiba, aku tertidur di tempat yang sama dengan Aki. Kami mengobrol sedikit tentang sejarah klan Shōri. Klan Shōri merupakan klan tersembunyi dikarenakan kemampuan mereka yang unik. Aki memberitahu ku bahwa ada 4 pilar penting di Klan yang mengitari sang kepala Klan Akihiro. Autumn ( Aki ), Spring ( Haru ), Summer ( Natsu ), Winter ( Fuyu ). Jadi Aki dan Haru bukan nama asli mereka berdua.

Aku bertanya di mana keberadaan Natsu dengan Fuyu. Aki hanya terdiam tak dapat menjawab pertanyaan ku. Masih banyak misteri di klan ini yang membuat ku merinding. Firasat ku sama sekali tidak enak tapi, aku berusaha untuk bersikap positif.

Keesokan harinya aku dipanggil untuk bertemu dengan Akihiro. Akihiro menyuruh ku untuk berdiri di depan dirinya. Tetapi, seperti pernyataan Aki tadi malam. Aku langsung tau maksud malam tersebut.

Sebelum Akihiro melakukannya, aku langsung menghindari nya. Semua orang disitu terkejut.

“Kenapa kamu menghindar?” Tanya Akihiro dengan nada marah kepada ku.

“Aku sebenarnya tahu mengapa firasat ku dari awal sudah tidak enak.....Kalian adalah Klan yang membunuh orang kuat demi kekuatan nya.... itulah mengapa klan ini sangat kuat. Selain itu aku tahu sesuatu saat melihat Aki dan Haru, mereka adalah satu – satunya percobaan ritual kalian yang berhasil kan?” Ujar ku yang marah.

“A-apa maksud mu?” Ujar Akihiro menaikkan kemarahannya.

“Malam tadi setelah Aki menceritakan sejarah kecil dari klan ini. Aku langsung dengan penasaran pergi meneliti......banyak penjaga dengan kemampuan gila tapi aku bisa menangani nya. Dan aku menemukan bekas ritual dengan 4 keranjang bayi. Dari situ aku paham terdapat 4 bayi yang kalian ritual kan untuk mendapatkan kemampuan tersebut, tetapi mungkin terdapat kejadian tidak terduga dimana 2 bayi kembar masih hidup dan bahkan memiliki kemampuan yang lebih kuat” Ujar ku menjelaskan kronologi yang ku temukan.

“Kau telah melewati batas....” Ujar Akihiro yang mukanya telah memerah.

“.....ini alasan aku membenci orang yang bermuka dua seperti itu

“Tetapi, kau melewati satu detail yang penting....” Ujar Akihiro.

Aku yang terkejut, tiba – tiba diserang oleh sekumpulan daun sakura. Langsung sadar aku melihat sosok Haru yang memakai topeng.

“Sial”

Aku pun langsung berlari dengan cepat keluar dan disambut oleh sebuah tebasan pedang dari Aki yang begitu cepat. Untungnya aku dapat menghindari serangan tersebut.

“Mereka dikendalikan....tidak ini mungkin karena mereka terikat dengan Akihiro”

Aku terus berlari sembari menghindar dari serangan mereka. Sampailah pada sebuah danau yang menjadi tempat bermain kami bertiga kemarin.

Aku menghembuskan napas, mata ku berkaca teringat kenangan buruk yang ku punya.

“Sekarang ku ingat mengapa aku tidak boleh berinteraksi dengan orang lain........ baiklah sampai jumpa dunia...” Ujar Ku pasrah agar dibunuh oleh mereka berdua.

Aki pun bergerak memberikan aba – aba dan menebas pedangnya ke arahku. Saat tebasan tersebut hampir mengenaiku, Pedang tersebut langsung beralih arah dan menusuk ke arahnya sendiri.

“APA?!” Aku begitu terkejut melihat kejadian tersebut.

Haru yang berada di belakang Aki juga menyerang dirinya sendiri dengan daun sakura milikknya.

“HEY BERHENTI SERANG AKU SAJA!” Aku yang berusaha melindungi Haru pun merupakan perbuatan yang sia – sia.

“Ohok.....daripada membunuh mu lebih baik aku membunuh diriku sendiri” Ujar Aki yang terlihat topengnya memudar.

“Betul begitu.....” Ujar Haru yang tersenyum dengan darah di mulutnya.

“SIAL! Tolong jangan begitu......” Ujar Ku yang mulai mengeluarkan air mata.

“Kar.....kamu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Klan Shōri..... lebih baik aku mati.... karena sudah dari dulu aku berharap begitu” Ujar Pelan Haru yang berusaha menenangkan diriku.

“Hahah..... jujur saja iya.... aku memang ingin mati dari dulu..” Ujar Aki yang semakin kehilangan kesadaran.

Aku pun terdiam dan untuk terakhir kalinya aku bertanya,

“Tolong sebutkan nama asli kalian berdua”

Mereka berdua membisikkan nama mereka dan pergi menghilang dari dunia. Aku benar – benar membeku disana menunggu malam telah tiba. Malam yang akan di cap sebagai Malam Bulan merah.

Aku yang berjalan perlahan ke dalam klan Shōri langsung membunuh satu – satu isi klan busuk tersebut. Aku sama sekali tidak mempunyai belas kasihan. Dari yang ku kenal ke yang tidak, dari muda sampai ke tua, dari petarung maupun warga biasa.

Pada malam itu, Klan Shōri telah hanya dikenal sebagai cerita saja. Aku telah membunuh Akihiro bahkan Pak Tua Arima. Dan semua itu diakhiri dengan meminum air suci.

Aku menghembuskan napas. Melihat ke langit gelap dan lautan darah di sekitar.

“Apa yang telah ku lakukan?”

“Lagipula mereka pantas mati kan?”

“Hahaha alasan yang naif”

“diam kamu Monster Hitam di dalam ku”

Aku pun pergi ke danau yang ku beri nama sebagai, danau “Mekar dan Berguguran”. Dimana Jasad Haru dan Aki berada. Aku memberikan doa kepada mereka. Aku merasa sedih dan marah. Aku berpikir, seandainya kita tidak bertemu apa yang akan terjadi.

Tetapi semua yang telah terjadi tidak dapat diubah. Aku pun memberikan minuman untuk terakhir kalinya.

“Selamat tinggal Qaz, Pad....... Aku akan merindukan kalian” Ujar ku meminum air tersebut.

Waktunya pergi pikirku. Tetapi akhirnya pikiran ku kembali tertutup. Seperti sebuah matahari yang terbenam. Aku pun akhirnya tertidur kembali...

x

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RW #1