F e a r

Rasa takut, seperti cemas terhadap sesuatu. Dada terasa sesak, seperti lari dari monster bayangan yang mengintai. Aku bertemu dengan monster itu terus menerus. Monster tak berwujud tetapi dapat memberikan mimpi buruk kepada siapapun yang diawasinya. Siapa Monster tersebut? Awalnya ku kira itu hanyalah manusia - manusia yang menyusahkanku, tetapi semakin lama, Aku menyadari sesuatu. Monster itu, adalah diriku sendiri.


Kepala ku berat, Aku tak lagi menatap dunia seperti diriku ketika kecil, berwarna dan indah. Sekarang yang kulihat hanyalah monokrom dan monoton. Aku semakin menyadari, diriku ini hanyalah seutas sampah tak dapat didaur ulang. Apa yang ku cintai kini menjadi tempat yang ku ingin hindari. Aku gagal lagi, terjebak lagi. Kenapa harus lagi? Dahulu aku sangat menantikan - nantikan masa pembagian itu, sekarang itu seperti pengadilan sebelum aku dihukum.


Sial. Kenapa mereka tidak dapat mendengarkanku? Pada akhirnya aku tak berani, berusaha mengalihkan diri dengan menulis rangkaian kata tapi yang ku tulis hanyalah sebuah ketidakjelasan. Pemikiran tuk lari dari dunia ini sering timbul di kepalaku, tapi jangan, karena masih banyak orang yang mencintaiku. 


“haah.. aku bisa gila..” Terjebak lagi di sebuah penjara yang bernama, “Overthinking”. Ketika aku seperti ingin meledak, aku diam seribu kata. Kepala ku terus berpikir cara menanggulanginya. Tetapi ketika berada di kebuntuan, aku panik.. Keringat bercucuran padahal hari sedang dingin, napas tidak beraturan membuat dada terasa sesak, tangan rasanya ingin menggaruk sesuatu padahal tidak ada yang terasa gatal, dan seluruh tubuh terasa lesu.


Aku hanya diam, merasakan detak jantungku yang makin cepat. Is this the end?

Gelap, tidak terasa apapun, sepi, dan hampa. Apakah itu akhir kisahnya? 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RW #1

RW #2